<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Juneappril's Weblog</title>
	<atom:link href="http://juneappril.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://juneappril.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 21 Dec 2007 10:59:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='juneappril.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Juneappril's Weblog</title>
		<link>http://juneappril.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://juneappril.wordpress.com/osd.xml" title="Juneappril&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://juneappril.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>mystifity</title>
		<link>http://juneappril.wordpress.com/2007/12/21/mystifity/</link>
		<comments>http://juneappril.wordpress.com/2007/12/21/mystifity/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Dec 2007 10:59:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juneappril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://juneappril.wordpress.com/2007/12/21/mystifity/</guid>
		<description><![CDATA[Bouras menuntun jalan yang terus menuju kearah barat hal ini tidak disadari Appril tetapi tidak bagi Annisete. Ia sangat meyadari kemana arah Bouras menuntun mereka. “Kenapa kau harus kearah barat?”tanya Annisete. Bouras tidak menjawab “Barat..?” Appril baru menyadarinya. “Kota Casuarina berada dibarat kota Vyune kan? Dan setelah keluar dari gerbang itu kau terus berjalan kearah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juneappril.wordpress.com&amp;blog=1986270&amp;post=7&amp;subd=juneappril&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">Bouras menuntun jalan yang terus menuju kearah barat hal ini tidak disadari Appril tetapi tidak bagi Annisete. Ia sangat meyadari kemana arah Bouras menuntun mereka.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kenapa kau <span>harus</span> kearah <span>barat?”tanya</span> Annisete. Bouras tidak menjawab</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Barat..?” Appril baru menyadarinya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kota Casuarina berada dibarat kota Vyune kan? Dan setelah keluar dari gerbang itu kau terus berjalan kearah barat. Apa kau punya rencana tertentu yang tidak kami ketahui?” Annisete menatap Bouras tajam</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Annisete! Bouras tidak mungkin ingin menjebak kita ke negri Barat!” Appril mengerti apa maksud omongan Annisete</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kau yang tidak mengerti pembuat boneka, Bouras adalah wyvern buatan yang dibuat oleh Benthill, dia akan mematuhi perintah Benthill apapun yang terjadi. Sedangkan Benthill adalah orang yang menciptakan lyddite untuk menghancurkan negri Barat. Aku sudah bilang untuk tidak mempercayai siapapunn ‘kan?” kata Annisete tajam. Appril diam</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku memang tidak mengerti tentang wyvern buatan atau apapun tentang lyddite.. tapi, Bouras adalah orang yang paling kupercayai lebih dari siapapun.” ucap Appril. Angin berhembus kearahnya membuat senyuman di wajahnya terlihat jelas</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya? Dan dia berniat membawamu ke negri Barat.” Annisete tidak mau kalah</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Omonganmu itu seperti bukan dari suku As saja.. Suku As terkenal karena mereka bersikap sopan dan sangat menghormati orang lain kan?” Bouras membuka mulutnya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kau tidak tau apa-apa tentang sukuku” ucap Annisete kesal</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Begitu juga dengan mu. Kau tidak tau apa-apa tentangku. Aku bukan wyvern buatan Benthill&#8230;Tetapi aku wyvern buatan dari klan yang paling ditakuti dimanapun..” kata Bouras</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa..? Var&#8230;” Annisete nampak terkejut</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Annisete! Jangan sebut nama itu disini&#8230; bahaya” cegah Bouras langsung. Annisete menutup mulutnya dengan muka terkejut.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Tidak mungkin.. Benthill selalu bilang kalau Bouras adalah wyvern buatannya..’ Annisete berpikir keras.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Sudah-sudah&#8230; lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita ‘kan?”Appril mencairkan suasana. Di bawah kakinya ia melihat sepasang dadu yang tidak sengaja berada di bawah kakinya. Ia mengambil dua buah dadu tersebut.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Hei-hei..kalian mau tau tidak? Keberuntungan sesorang bisa dilihat dari lemparan dadu, lho..” ucap Appril sambil memperlihatkan dua buah mata dadu.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Hei.. keberuntungan sesorang bisa dilihat dari mata dadu, lho.’ sesaat Bouras teringat akan masa lalunya bersama seorang lelaki berbadan tegap. Saat itu mereka sedang duduk di dalam kedai minuman. Bouras langsung menyingkirkan pikirannya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku pasti akan mendapatkan sepasang 6 mata dadu!” ucap Appril yakin, ia melemparkan mata dadu itu saat ia tangkap kembali yang keluar hanyalah sepasang angka satu. Appril kecewa, tetapi perasaan kecewanya tidak terlalu lama karena tanah yang ia injak, berguncang hebat lalu tanah itu mengeluarkan balok-balok dari dalam tanah. Balok itu tersusun menjadi seperti sebuah permainan yang tidak asing lagi bagi Appril, Annisete maupun Bouras.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ini.seperti&#8230;” Appril tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Appril memang tidak perlu melanjutkan kata-katanya karena sudah dilanjutkan oleh sorang dibelakangnya. Seorang pria yang tidak jelas datangnya darimana, dengan wajah yang penuh dengan coretan mata dadu begitu juga dengan bajunya yang unik. Jubah panjang dengan hiasan mata dadu disekelilingnya. Penampilannya begitu unik membuatAppril tidak dapat nelepaskan pandangannya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya. Ini permainan ular tangga.” ujar lelaki itu</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Siapa kau?” Bouras maju kedepan seakan melindungi Appril dan Annisete.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ah.. Aku Fitie. Pemilik dari kota ini.” katanya memperkenalkan diri sambil membungkuk</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kota? Tapi ini tidak terlihat seperti kota..” komentar Appril sambil melihat sekelilingnya. Hanya terlihat balok-balok yang tersusun rapih menyerupai permainan ular tangga.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Memang. Kota ini adalah kota permainan, Mystifity. Dan bila kalian ingin membaca aturannya, silahkan.” Tifie hanya tinggal menentikan jarinya lalu muncul papan besar yang diukir rapi dengan aturan di dalamnya. </font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><span><font face="Times New Roman">                                    </font></span><span style="font-size:24pt;font-family:Sylfaen;">MYSTIFITY</span><span style="font-size:20pt;font-family:Sylfaen;">1. Bila mendapatkan sepasang angka 6 pemain diperbolehkan melempar kembali</span><span style="font-size:20pt;font-family:Sylfaen;">2. Disetiap kotak akan terdapat tantangan. Bisa teka-teki atau sebuah pertarungan (Setiap mahluk yang muncul adalah nyata)</span><span style="font-size:20pt;font-family:Sylfaen;">3. Pemain yang kalah yaitu pemain yang menyelesaikan permainan paling akhir akan mendapat hukuman dari pemain yang paling awal menyelesaikan permainan. Apapun permintaan si pemenang akan dikabulkan.</span><span style="font-size:20pt;font-family:Sylfaen;">4. Permainan tidak akan selesai jika masih ada pemain yang belum mencapai finish</span><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa-apaan ini? Kami tidak punya waktu untuk bermain seperti ini. Kami pergi” ucap Bouras sambil berlalu dan pergi. Namun Tifie menghalangi mereka dengan berada di deadpan Bouras dan mengeluarkan sepasang pedang yang berbentuk seperti bulan sabit.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ah.. kau belum baca peraturan yang terakhir, ya?” Tifie menjentikan tangannya lagi lalu muncul sebaris tulisan bertinta hitam dari papan ukiran tersebut.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span><font face="Times New Roman"></font></span></p>
<p><span style="font-size:20pt;font-family:Sylfaen;">6. Permainan dimulai saat mata dadu di lempar.</span><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Tapi kami tidak melempar..” kata Bouras yang segera menghentikan kata-katanya karena seingatnya tadi Appril melempar dadu itu keatas untuk menguji keberuntungannya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya kalian melemparnya.” ucap Tifie</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Pembuat boneka bodoh!” maki Annisete kesal. Appril tidak melawan, memang semuanya karena kebodohannya melempar dadu.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Baiklah.. kalau begitu permainan bisa kita mulai sekarang?” Tifie tiba-tiba menghilang dengan mengeluarkan asap yang tebal. Tiba-tiba saja Bouras dan Annisete sudah berada di kotak ‘START’ sedangkan Appril berada dua kotak jauhnya dari Bouras dan Annisete</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Eh.. kenapa..?” Appril bingung karena ia sendiri yang beda.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Tentu saja tadi karena kau mendapatkan sepasang mata dadu angka satu, bodoh!” kata Annisete gusar. Tiba-tiba saja sepasang mata dadu muncul di hadapan Bouras dan Appril.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Permainan ini tidak akan menunggu pemain pertama sampai ia menyelesaikan tantangannya. Jadi cepat lempar dadu kalian masing-masing.Dadu akan muncul kembali saat kalian menyelesaikan tantangan kecuali kalau kalian mendapatkan sepasang angka enam, kalian tidak akkan mendapatkan tantangan apapun” terdengar suara Tifie entah dari mana karena ia tidak menunjukan dirinya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Baiklaahhh..” Bouras melempar dadu lalu muncul mata dadu lima dan tiga. Sedangkan Annisete sangat berutung karena mendapatkan sepasang mata dadu enam. Dia tiba-tiba menghilang dari samping Bouras dan sudah berada 12 kotak jauhnya. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa..?” Appril tidak percaya dengan apa yang dilihatnya karena Annisete sudah berada jauh didepannya dan sedang melempar dadu lagi. Sedangkan Appril tidak dapat melangkah ke kotak selanjutnya. Lalu muncul sebuah boneka kelinci yang lima kali lipat besarnya dari Appril. Ia sangat terlihat lucu bagi Appril. Appril berlari menyambut pelukan kelinci putih tersebut namun saat mendekat ia dipukul sehingga Appril terlempar satu meter jauhnya. Appril mencoba lari ke kotak selanjutnya lagi, tetap tidak bisa.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kau mau mencoba kabur? Itu tidak akan bisa.. kau harus melawan boneka buatanku dulu! Lagipula kau tidak ingin teman-temanmu mendapatkan tantangan seperti ini ‘kan? Makanya, lawanlah!” suara Tifie menggema</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Jadi maksudmu aku harus melawan kelinci ini untuk melindungi teman-temanku begitu?” tanya Appril</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya.”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Setelah aku melawan kelinci ini, Bouras dan Annisete tidak akan melawan kelinci ini?” tanya Appril lagi</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya&#8230;Ya..Ya!” jawab Fitie mulai gusar.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Baiklah kalau begitu&#8230;Kelinci manis&#8230;” rintih Appril lalu sesaat kemudian mata kelinci itu yang tadinya berwarna biru menggemaskan berubah menjadi merah berapi-api. Badan kelinci itu berubah menjadi otot-otot besar menakutkan yang berusaha menerkam Appril. Telinga kelinci tersebut berubah seperti tanduk setan.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Appril berusaha menghindar dari semua serangan kelinci tersebut namun kecepatan lompatan kelinci itu benar-benar tidak biasa.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Kau tidak ingin teman-temanmu melawannya ‘kan?’ Appril teringat akan kata-kata Tifie. Ia harus melawan kelinci itu agar Bouras dan Annisete tidak mendapatkan kelinci jadi-jadian ini. Appril menyemburkan api namun dengan gampangnya kelinci itu mengehentikan api itu dengan kedua lengannya yang memanjang. Appril terkena tonjokannya dan rasa sakitnya begitu terasa. Tulang Appril bagaikan remuk hancur berantakan tetapi Appril harus berusaha lari lagi karena kelinci itu mengejarnya. Appril yang ditemani Yukyu benar-benar kualahan.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Bagaimanapun juga semuanya pasti ada kelemahannya!!!’ Appril mencoba berpikir. Dia mendapatkan sebuah ide. Ia mengambil sesuatu dari tas besarnya agak susah karena benda yang ia ambil adalah benda yang kecil dan suli diraih namun tajam. Appril hendak mengambil sebuah jarum.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bagus.” Appril mencoba berlari lagi. Kali ini ia berlari lebih cepat dari yang tadi dan muncul di belakang kelinci tersbut. Ia mengarahkan jarum kecil tersbut ke bagian ekor kelinci dan tersenyum puas. Tapi kelinci itu malah makin marah. Matanya berubah menjadi lebih ganas.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Tidak mungkin!!” pekik Appril mencoba berlari lagi.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Tenang&#8230;Appril.. ia hanya sebuah boneka..’ Appril mencoba menangkan lagi. Kali ini ia mendapatkan ide lainnya. Ia teringat kalau Ruuna memiliki wyvern air dan mungkin saja Appril sudah menyerapnya. Appril berkonsentrasi untuk mengeluarkan air dari tangannya dalam jumlah besar dan terjadilah air bah besar yang cukup menenggelamkan kelinci tersebut. Lalu ia menyemburkan api barulah kelinci tersebut menghilang dan muncul sepasang mata dadu di hadapan Appril.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Haa.. ini benar-benar gila.. berapa banyak lagi kotak yang harus kulalui?” Appril memelas. Ia melempar mata dadu dan muncul angka dua dan satu. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kenapa angka kecil?!” Appril sebal. Lalu angina cepat menerpanya secara tiba-tiba ia sudah berada di kotak yang lainnya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Sedangkan itu Bouras sedang menghadapi seorang nenek tua berpakaian seadanya dengan muka yang sendu.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa aku harus melawanmu..?” Bouras tidak enak</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya. Dalam teka-teki” jawab nenek itu</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Teka-teki? Eh&#8230; aku paling lemah dalam hal itu.” Ucap Bouras pelan</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ada tiga pertanyaan dalam taka-teki ini.Kalau kau gagal dalam tiga kali kau mengulang dari garis start” jelas nenek itu lagi. Bouras makin bingung.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ok..e” kata Bouras setengah ragu.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Seorang lelaki tertidur, 1 jam.. 2 jam.. 12 jam.. tapi ia tidak terbangun-bangun. Saat terbangun cahaya terang menyambutnya.” Nenek itu menatap Bouras misterius bersiap-siap meberikan pertanyaan.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Bagus.. teka-teki seperti ini pernah kudengar sebelumnya. Nenek ini benar-benar tidak kreatif.. tapi.. kalau tidak salah jawabannya adalah orang itu sudah mati.. ya.. dan pastinya pertanyaannya adalah..’</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Dan pertanyannya adalah..” nenek itu menarik napas. Bouras menunggu</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Pertanyaannya adalah..” Bouras mengulang perkataan nenek tersbut</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Siapa nama pria itu.”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“APA?!” Bouras tidak percaya. Ia menganga selebar-lebarnya. Padahal tadi dia sangat yakin kalau jawabannya adalah ‘mati’ karena ia sudah pernah mendengar teka-teki seperti ini sebelumnya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Waktumu hanya 20 detik untuk menjawab pertanyaan. Dan sekaranng sudah berjalan lima detik.” nenek itu tidak bergeming dengan muka Bouras yang nampak sangat kaget mendengar pertanyaan. Bouras tidak punya waktu lagi, ia kehabisan waktu hanya dengan menganga.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Waktumu habis. Pertanyaan kedua. Malam senja tidak pernah terbit matahari. Matahari bersinar saat malam.” nenek itu memberikan petunjuk</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Pertanyaannya..” lanjut nenek</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Jam berapa matahari akan bersinar di malam senja?” tanya nenek itu lagi</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“MANA KU TAU?!!” pekik Bouras kesala karena dari tadi nenek itu selalu meberikan teka-teki yang tidak masuk akal. Waktu terus berjalan selama dua puluh detik</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Waktumu habis. Kau telah gagal dua kali. Kalau kau gagal dalam pertanyaan ketiga kau kembali ke garis start.” ucapnya kaku. Bouras menelan ludahnya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Pertanyaan ketiga.Manusia apa yang lebih rendah daripada seorang budak?” tanya nenek itu tanpa ekspresi sedikitpun dari wajahnya. Bouras tertegun mendengranya, di Casuarina, orang yang lebih rendah dari seorang budak adalah..</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Wyvern buatan.” jawab Bouras kaku. Ia benar-benar malas untu menjawab pertanyaan ketiga. Pertanyaan itu seperti memojokan dirinya. Namun nenek itu menghilang dan digantikan dengan dua buah mata dadu. Bouras melemparnya dan keluar angka lainnya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Di lain pihak, Annisete selalu beruntung dengan keluarnya angka sepasang enam. Ia terus menerus mendapatkan sepasang angka enam sampai akhirnya ia mendapatkan angka 3 dan 2. Dalam kotak itu hanya muncul sebuah cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Bayangan dirinya makin lama memudar dan terlihat banyak bayangan serangga. Annisete mual melihatnya. Ia ingin memalingkan wajahnya dari cermin itu atau memejamkan matanya rapat-rapat. Namun tidak bisa. Badannya dikendalikan. Ia tidak berkutik dan melihat bayangan banyak serangga dan menghilang. Annisete bernapas lega karena binatang yang ia takuti di dunia ini menghilang dari pantulan cermin.. Lalu muncul bayangan lainnya. Yaitu sebuah kobaran api yang membakar sebuah pedesaan di depannya. Lalu terlihat seorang lelaki yang menggemgam lengan seorang yang mengeluarkan api dari sekujur tubuhnya. Annisete memegang lengannya, lalu berteriak sekencang-kencangnya. Annisete tidak dapat memejamkan matanya yang terus saja melotot melihat pantulan ceermin tersebut lalu yang terjadi selanjutnya adalah ledakan. Annisete menyemburkan api dari mulutnya. Api yang begitu besar sampai menghancurkan cermin itu lalu muncul sepasang dadu. Annisete kehabisan napas, ia buru-buru melempar dua buah mata dadu tersbut.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ohoho.. menarik.. masa lalumu sungguh mearik..” terdengar suara Tifie lagi, Annisete tidak memperdulikannya. Ia sudah terbawa angin cepat untuk melangkah sesuai angka yang tertera dalam mata dadunya yaitu sepasang angka 6.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Appril sedang berusaha keras melawan seorang ksatria berkuda dengan galah besi panjang. Pakaiannya benar-benar lengkap dari pelindung kepalanya sampai sepatu besinya. Kuda putih dengan garis kecoklatan yang ia tunggangi benar-benar cepat, Appril hampir selalu gagal menghindar dari kejaran kuda tersebut. Appril mencoba memikirkan bagaimana caranya sampai akhirnya ia mengeluarkan cahaya terang seperti wyvern Nea yang dapat mengeluarkan cahaya untuk megelabui ksatria perang tersbut lalu ia menerjang ksatria itu dengan api yang menyerupai pedang dan menebas bagian dada ksatria tersebut. Ksatria itu menghilang dan muncul sepasang dadu. Appril benar-benar kecapean, ia melempar dadu tersebut dan keluar angka selanjutnya. Angin cepat membawanya ke kotak selanjutnya lalu saat sampai ke kotak selanjutnya, ia melihat sebuah papan yang berukir sama dengan papan perturan sebelumnya, </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:20pt;font-family:Sylfaen;"><span>                     </span>KEMBALI KE AWAL</span><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“APP..APA?!!!” Appril benar-benar tidak percaya, ia benar-benar sudah tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Ia sudah cukup jauh untuk kembali ke garis start. Namun angin cepat mebawanya kedaeran entah dimana. Appril tidak mengerti. Ia sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik yang mengenakan tudung badan Appril juga seperti ia berumur 8 tahun. Saat itu sedang hujan, wanita itu menjadi tidak terlihat kalau sedang menangis karena rintikan hujan deras. Wanita itu meniggalkan Appril disebuah taman kota yang Appril kenali—taman kota Vuyne.Yukyu sedang tertidur sambil bertengger di bahunya. Wanita itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk Appril </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ibu..” kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Apprill. Namun wanita itu tetap tidak bergeming. Ia menyentuh jidat Appril dengan telunjuknya, dan mengeluarkan cahaya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Jangan tinggalkan aku, IBU!!!!!” teriak Appril tapi telat. Sedetik kemudian angin cepat membawa Appril kembali ke papan yang bertuliskan ‘Kembali ke awal’ kini Appril mengerti maksud dari kata ‘Awal’. Papan itu menghilang dan muncul sepasang mata dadu.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Oho.. sangat menarik.. menarik..” suara Fitie terdengar menggema.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Fitie!” teriak Appril</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Menarik sekali..”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa tadi itu nyata?” tanya Appril tanpa menggubris perkataan Fitie. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Tentu saja. Kotak ini adalah masa lalu. Tadi itu adalah masa lalu mu yang sungguh menarik..” ucap Fitie. Appril melempar dadu lagi, lalu keluar sepasang angka 3. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“HEA!!” Bouras menebas badut yang ada dihadapannya, namun badut itu tidak hanya satu karena masih ada ratusan badut lainnya yang harus Bouras tebas dengan pedangnya. Bouras langsung menghabisi 5 badut sekaligus. Ia menarik napas lalu meloncat keatas dan menebas 3 kepala badut dengan sebelah tangan. Tetapi badut-badut itu tidak menunjukan tanda-tanda akan habis. Bouras berlari sambil melebarkan tangannya sehingga sambil berlari ia menebas badan badut-badut itu sampai habis. Sampai akhirnya ia menemukan badut yang mimik wajahnya beda dari yang lainnya. Badut itu sedang tersenyum lebar.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Habislah kau!” Bouras menebas pedangnya kearah badut tersbut lalu semua badut-badut yang ada di sekelilingnya menghilang dan digantikan dengan mata dadu. Bouras kelelahan.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Hah..” Appril mengeluh panjang karena tiba-tiba ia sudah berada di sebuah gurun pasir yang tidak terlihat apapun kecuali pasir. Ia terus berjalan namun jejaknya langsung terhapus oleh angin padang pasir yang kering.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Yukyu.. Aku lelah.. dan haus.. Seharusnya dari awal aku tidak melempar dadu sialan itu! Keberuntungan apanya! Aku selalu saja sial” ucap Appril yang terus saja melanjutkan perjalanannya sampai akhirnya ia menemukan seorang nenek tua renta. Appril mendekati nenek tersbut. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Mari kita bermain.” ucap nenek itu tiba-tiba saat Appril mendekat. Dengan pakian yang seadanya dan mukanya yang terlihat lelah, Appril benar-benar tidak tega untuk melawan nenek seperti itu.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bermain..?”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya. Permainan yang mudah.. kita tinggal bermain menyambung kata. Aku menyebutkan kata benda dan dihuruf terakhirnya kau harus melanjutkan dengan kata-kata selanjutnya. Permainan akan selesai dalam waktu yang ditentukan. Dan kalau kau gagal dalam tiga kali, kau kembali ke garis start kau hanya punya 5 detik untuk berpikir kata selanjutnya.” ucap nenek itu.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Baiklah..”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Dadu”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“U..ular” sambung Appril</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Rumah”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“House!” sambung Appril dengan nada bodoh </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Tidak boleh memakai bahasa asing. Kau gagal sekali.” kata nenek itu. Appril memperhatikan jam pasir yang ada dihadapannya. Itu adalah batas waktu ia haruss bertahan melawan nenek ini.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Buku.” kata nenek itu tiba-tiba</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ular!” smbung Appril lagi</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kau gagal. Tidak boleh mengulang kata yang sama”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kenapa tidak bilang dari awal?!” Appril sebal</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Tangga”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Anjing”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Gubuk”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“K..Kamar” ucap Appril langsung.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Annisete sudah selangkah lagi bila ia ingin menyelesaikan permainan. Tinggal 3 kotak lagi ia harus lalui. Dan dia harus mendapatkan dua buah mata dadu berangka dua dan satu. Harus tepat tidak boleh meleset sedikitpun. Karena bila ia kelebihan, maka angka kelebihan angka tersebut akan terakumulasi ke kotak yang ada dibelakangnya. Artinya, ia harus kembali mundur beberapa kotak. Annisete berpikir keras berkonsentrasi untuk mendapatkan angka yang diingankan. Annisete melempar dua buah dadu tersebut. Dadu yang pertama menunjukan angka dua tinggal dadu yang pertama yang menjadi harapan terskhir Annisete. Tetapi sayang, di saat-saat yang terakhir, dadu itu malah keluar angka 6. Annisete sebal karena ia harus mundur 2 kotak dibelakangnya. Kali ini Annisete menghadapi seorang lelaki botak, dengan badannya yang penuh dengan lukisan. Annisete tidak mengerti dari tatapan aneh laki-laki tersebut. Tapi lama kelamaan laki-laki itu berubah bentuk menjadi sosok yang paling Annisete tidak ingin lihat wajahnya. Seorang lelaki berambut biru ke abu-abuan, dengan sorotan matanya yang dingin, dan tanpa ekspresi. Annisete menonjok wajah pria itu sampai hancur berkeping-keping karena nyatanya wajah laki-laki itu terbuat dari kaca.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Sudah kuduga.. masa lalu mu itu sangat-sangat menarik.. sama seperti masa lalu temanmu yang kecil.” kata Fitie yang kini muncul di hadapan Annisete dengan senyum palsunya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Terserahapa katamu. Aku bukan temannya.” ucap Annisete dingin</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Mana dadunya? Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan permainan ini.” kata Annisete yang tidak memperdulikan kalau ada Fitie di hadapannya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kau tidak perlu melempar dadu lagi&#8230; Aku akan memenangkan mu.” ucap Fitie begitu saja. Annisete tidak berkomentar apa-apa lebih tepatnya ia tidak terlalu peduli karena artinya ia tidak perllu membuang-buag tenaga untuk mendapatkan angka yang sesuai.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Gitar..” nenek itu masih melanjutkan kata-katanya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ru..” hampir saja Apprl hendak mengeluarkan kata ‘Rumah’ lagi “Rubah..” Appril benar-benar kehabisan kata-kata. Jam pasir itu sebentar lagi akan habis. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Harmonika”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Air” ucap Appril untuk terakhir kalinya karena jam pasir itu sudah habis dan nenek itu menghilang dan digantikan sepasang dadu (lagi). “Aku benar-benar butuh air..” rintih Appril sambil melempar dadunya dan ia terkapar begitu saja karena kelelahan. Permainan ini benar-benar menguras otaknya dan tentu saja, persediaan air yang ada di tenggorokannya karena bermain seperti ini membuat tenggorokan Appril kering. Angin kencang membawa Appril ke sebuah kotak lainnya. Appril dapat melihat bayangan Bouras menghilang seiring angin kencang yang membawanya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bouras..” <span> </span>Appril berusaha meraih Bouras namun sepertinya Bouras tidak menyadari kedatangannya dan Bouras menghilang sekejap. Sosok Bouras digantikan oleh cermin yang hanya memantulkan dirinya. Appril tidak bisa menggerakan badannya maupun memejamkan matanya. Badan Appril seperti dikendalikan oleh sesuatu.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Cermin ini akan menampilkan sesuatu di dunia ini yang kau takuti.” terdengar suara Fitie. Appril diam, tenggorokannya sangat kering dan hal di dunia ini yang ia butuhkan adalah air. Appril melihat kedalam cermin kosong tersebut, tidak ada yang berubahm hanya pantulan dirinya. Appril juga tidak tau hal apa yang paling ia takuti di dunia ini karena ia sebenarnya tidak takut akan apapun. Tetapi cermin itu perlahan-lahan mulai berubah, ia menunjukan seorang lelaki bertubuh besar dengan topeng joker menyeramkan. Walaupun topeng itu menyeramkan, tapi itu tidak membuat Appril takut. Malah Appril bingung, kenapa pria itu yang muncul dalam cermin yang menunjukan hal yang paling di takuti. Kali ini pria itu tertawa nyaring, Appril dapat mendengar suaranya menggema di dalam telinga Appril. Pria itu menyebut nama dirinya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Orang itu.. kenapa bisa tau namaku?!..’ Appril kaget karena ia sama sekali tidak tau siapa pria itu. Pria yang sedang menertawai sesuatu. Bayangan pria itu terus muncul di dalam cermin tetapi Appril tidak takut. Ia malah makin kesal di buat oleh suara tawanya yang melengking. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bagaimana Appril? Apa kau takut?” tanya Fitie tanpa menunjukan sosoknya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku tidak takut.” jawab Appril malas-malasan karena ini membuatnya malah bingung. Apa hubungan pria itu dengannya?<span>  </span></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Untuk apa aku takut dengannya?” balas Appril.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ah.. ini sungguh menarik. Karena sebenarnya dia adalah bagian dari masa lalumu yang akan menjadi bagian dari masa depanmu.” kata Fitie. Appril makin tidak mengerti. Cermin itu menghilang dan Appril harus melempar dadu lagi. Suara Fitie juga samar-samar menghilang.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Annisete sudah berada di garis finish. Dan tiba-tiba saja Bouras sudah berada disampingnya. Ia nampak sangat kelelahan.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ha&#8230; jadi kau sudah duluan, ya? Jadi Appril..” kata Bouras tersendat-sendat sambil menarik napas panjang lalu duduk di samping Annisete.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya.. dia akan mematuhi segala perintahku.” ucap Annisete </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Di lain pihak, Appril sedang berusaha mati-matian melawan seorang algojo yang memgang pedang besar yang cukup untuk mencincang-cincang badannya menjadi beberapa bagian. Appril berusaha lari kesana kemari. Annisete dan Bouras memperhatikannya dari jauh. Lalu ia mencoba mendekati algojo itu dengan melindungi dirinya dengan perisai api yang ia buat dengan susah payah. Kemudian Appril menyerangnya dengan semburan air dan meniupnya dengan angin dari mulutnya sehingga ia beku. Sama seperti Ruuna. Appril dapat mengkopi wyvern Ruuna dengan sempurna</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Ah.. dia&#8230;’ Annisete benar-benar terkejut dengan apa yang diperbuat Appril.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Algojo itu menghilang dan Appril melempar dadunya lagi. Ia tidak pernah beruntung sebelum-belumnya. Sekarang pun ia tidak mengharapkan sepasang angka 6 karena yang ia butuhkan adalah mata dadu berjumlah 5 untuk mencapai finish. <span> </span>Appril melempar dadu dengan payah, tidak sengaja ia asal melemparnya. Tapi untungnya yang keluar adalah mat dadu angka 3 dan 2. Kali ini Appril benar-benar beruntung. Ia menganggap Bouras dan Annisete belum datang, namun perkiraannya salah, karena setelah garis finish, sudah ada Bouras dan Annisete yang menunggunya bosan.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Appril melihat wajah mereka satu persatu berharap yang lebih dulu sampai di garis finish terlebih dahulu di antara mereke berdua adalah Bouras. Karena kalau sampai Annisete yang menjadi juara pertama bisa gawat nyawa Appril.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Baiklah.. baiklah.. kalian sudah menyelesaikan permainan ini dengan cara yang menarik..” Tifie muncul di hadapan mereka dengan baju dadunya yang berlebihan.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kau.. sebagai juara pertama. Kau berhak memberikan hukuman apa saja kepada si juara terakhir ini.” ujar Tifie ke Annisete.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“APAA? Jadi Annisete yang menang?” Appril kaget sekaligus tidak terima.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bouras? Kenapa kau membiarkan orang semacam dia yang menang?!” Appril kesal</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku yang membiarkan dia menang, Malah aku sengaja membuatnya menang.” ucap Fitie tanpa memperdulikaan Appril yang menganga. “Begini-gini aku tau semua tentang kalian. Oho oho oho” katanya dengan nada menyebalkan. Appril menggeram sebal.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Jadi apa hukuman mu untuk mahluk ini?” tanya Fitie bersemangat menantikan jawaban Annisete. Appril sebal saat Fitie menyebutkan kata ‘Makhluk’ sambil melirik jahil kearahnya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa saja akan kau kabulkan?” tanya Annisete dengan nada aneh di dalamnya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya” jawab Fitie</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Termasuk kematian?” tanya Annisete lagi. Appril makin cemas pemikiran Annisete ingin membunuhnya memang telah terbukti sejak dulu sejak pertama kali mereka bertemu, Annisete sudah berusaha untuk membunuhnya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya.” jawab Fitie yakin. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Baiklah. Aku mau..” Annisete menghentikan kata-katanya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Mati..Mati..Dia ingin mencabut nyawaku dan mengoleksi organ tubuhku untuk di jadikan pajangan di rumahnya yang seperti istana..Oh.. Tidak..aku akan mati sekarang..’ Appril benar-benar berpikiran buruk, ia meraih tangan Bouras dan berlutut di hadapan Bouras.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Maafkan aku bila aku sering punya salah, Bouras&#8230; aku selalu menyusahkan mu&#8230;” Appril tersedu-sedu. Annisete menatapnya aneh belum sempat ia menyebutkan hukuman yang cocok untuk Appril, Appril sudah menangis tersedu-sedu meminta ampun kepada Bouras.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Annisete&#8230; kumohon jangan bunuh Appril sekarang&#8230; Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Appril..” Bouras ikut-ikutan tersedu suatu pemandangan yang menjijikan bagi Annisete.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku ingin si pembuat boneka bodoh ini..” lagi-lagi Annisete membuat suasana makin menegangkan. Appril menagis makin deras.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bouras&#8230; Maafkan aku&#8230;” Appril meraung</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Menjadi budak ku dan menuruti semua kata-kataku selama ia masih bersamaku” ucap Annisete santai. Appril tersenyum lega, nyawanya masih selamat kali ini. Annisete masih mau Appril hidup. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Baiklah. Hukumanmu di kabulkan.” Tifie menjentikan jari dan sesaat kemudia Bouras, Appril dan Annisete sudah berada dimana tadi mereka berada. Semua kotak-kotak itu menghilang begitu saja begitu juga dengan Tifie, semua seperti tidak terjadi apa-apa. Menghilang tanpa jejak.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Meng..hilang..?” Appril tidak percaya dengan apa yang terjadi. Benar-benar sesuatu hal yang aneh.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ini benar-benar aneh” ucap Bouras.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Begitu, ya! Siapa tau permainan tadi sebenarnya hanyalah ilusi kita belaka dan sekarang kita sedang bermimpi. Berarti hukuman itu juga..” Appril benar-benar senang bukan kepalang. Ia tidak akan menjadi budakAnnisete!</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Duduk” ucap Annisete mengarah ke Appril dan langsung saja Appril duduk tanpa di suruh. Badannya seperti di tarik sesuatu sampai akhirnya ia mau duduk mengikuti perintah Annisete.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Berdiri” kata Annisete memberikan perintah dan badan Appril serasa di tarik agar ia berdiri. Appril tidak mengerti.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kurasa permainan itu memang benar-benar ada” kata Annisete lagi </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bou.. Ras..” rintih Appril</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Jatuh” Anniste benar-benar memanfaatkan kesempatannya. Appril terjatuh tanpa sebab. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Berguling” titah Annisete lagi, dan Appril berguling-guling seperti anjing.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Sudahlah Annisete kau berlebihan&#8230;” Bouras mencoba menenangkan Annisete walaupun nampaknya percuma saja melarang Annisete.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Sebenarnya aku sedikit bingung&#8230; kau bisa saja ‘kan membunuh Appril saat itu? Kau tinggal menghukum Appril dengan bilang kalau Appril mati saja..” Bouras tiba-tiba mengubah topik pembicaraannya. Annisete diam, tertunduk mengingat kejadan tadi saat bersama Fitie.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Kenapa kau membiarkan aku menang?’ tanya Annisete</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Aku ini tau segalaya&#8230; permainan ini bisa juga menjadi tolak ukur sejauh mana kemurnian hati manusia.’ jawab Tifie</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Apa maksudmu?’ </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Aku ini memiliki mata yang bisa menembus ruang dan waktu! Saat aku melihat matamu, maka akan tampak sangat jelas tentang masa lalu mu dan tentu saja masa depanmu. Semuanya berjalan sangat&#8230; menarik. Terutama perasaan ingin membunuhmu terhadap si pembuat boneka itu.—perasaan memburu yang sangat besar..’ jelas Fitie</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Begitu menurutmu?’ nada bicara Annisete terdengar menantang.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">‘Ya..Ya..Maka dari itu dengan memenangkan mu aku bisa menguji kemurnian hatimu.. Kau bisa memohon apapun yang kau mau untuk menghukum anak itu. Termasuk kematian. Itu adalah yang paling gampang.’ kata Fitie</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Annisete makin diam, ia seakan-akan mengunci mulutnya rapat-rapat. Bouras tidak menanyakan hal yang sama lagi, kalau satu pertanyaan Annisete tidak mau menjawab, biasanya pertanyaan kedua akan mendapatkan tatapan sinis dari Annisete.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kau sendiri? Apa kau tidak punya kemurnian hati membawa kami ke negri Barat?” tanya Annisete sinis</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku? Bukankah itu mau mu? Bukankah kau bilang kalau kau ingin tinggal di negri Barat?” tanya Bouras</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya memang begitu. Tapi tidak sekarang, setelah aku berhasil membunuh Appril dengan tanganku sendiri&#8230; itu sebabnya aku menolak untuk menghukum mati si pembuat boneka tolol itu&#8230;” jawab Annisete panjang, Appril tidak menggubrisnya, kalau sekarang ia berniat membunuh Annisete, sama saja ia bunuh diri. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Terserah apa katamu” ucap Appril</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa?” </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Tapi yang jelas aku tidak akan mengambil pilihan itu. Aku sama sekali tidak membencimu, lho!” kata Appril dengan senyum, Annisete sebal melihat senyuman itu, ia memalingkan wajahnya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya&#8230; terserah apa kataku. Kedudukanmu sebagai budak ku tidak akan pernah bisa berubah” kata Annisete. Appril tersenyum mendengarnya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bailah&#8230; Apa kau mau kembali ke jalan awal? Kembali ke kota Vyune? Atau kita meneruskan perjalanan ke Barat? Karena sangat sulit menemukan ‘Tempat yang jauh’ di bumi inin.” kata Bouras </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Teruskan saja” kata Annisete yakin</font></p>
<p><font face="Times New Roman">‘<span style="color:black;">Pasti ada pilihan lain ‘kan? Kita masih bisa bertahan hidup tanpa meledakan diri dan tanpa merugikan orang lain!’ Annisete teringat perkataaan Appril</span></font><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">‘Aku sama sekali tidak membencimu, lho!’ lagi-lagi perkataaan Appril muncul di kepalanya. Annisete berusaha menghilangkan bayangan Appril di benaknya.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Ah&#8230; kira-kira kota aneh apa lagi, ya&#8230; yang ada di depan sana?” Appril penasaran. </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Mereka melanjutkan perjalanan dengan semangat, seperti hari pertama mereka berangkat untuk mencari tempat yang jauh yang entah dimana adanya. Mereka hanya menyusuri bukit-bukit kecil dan sudah menemukan kota baru lagi. Kota yang sepi seperti tidak berpenghuni. Semua jendela-jendela rumah di tutup, tidak ada suara sama sekali kecuali suara angin kering. Bouras, Appril, dan Annisete melangkah tidak yakin. </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Apa kau yakin kita mau mengunjungi tempat seperti ini?” tanya Appril dengan takut</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Kita butuh bahan makanan. Bahan makanan kita dan juga persediaan air minum makin menipis.” ujar Bouras memberikan alasan.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Aku tidak yakin kita akan mendapatkannya, disini.” kata Annisete</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Ya!” Appril untuk pertama kalinya mensetujui Annisete</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Tidak bisa. Kita harus mendapatkannya disini. Kota selanjutnya akan berjarak ratusan mil dan membutuhkan lima hari perjalanan.” kata Bouras dan melihat papan nama kota itu. </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Kalau begitu kau tau sedikit tentang kota&#8230;Mm&#8230;Memoar?” Appril memiringkan tubuhnya agar bisa melihat papan nama kota yang sudah miring dan hampir jatuh</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Sedikit. Entahlah&#8230;aku ingat sedikit. Aku hanya tau kalau kota ini di penuhi oleh&#8230;” Bouras seharusnya tidak menceritakan hal seperti ini kepada Appril. Ia langsung menghentikan kata-katanya.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Orang tanpa masa lalu” sambung Annisete</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Tanpa&#8230; masa lalu?” ulang Appril ia merasa bahwa dirinyalah yang sedang di bicarakan Annisete.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Orang-orang tanpa masa lalu seperti dirimu” Annisete memperjelas dengan nada tajam. Appril tidak membalas omongan Annisete benar tentang dirinya. </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Kenapa kota ini seperti tidak berpenghuni?” tanya Appril lagi</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Entahlah&#8230; Aku hanya tau kalau kota ini dihuni oleh orang-orang tanpa masa lalu” jawab Bouras singkat. Bouras adalah orang yang pertama kali melewati gerbang lalu disusul dengan Annisete dan terakhir Appril. Appril melangkah dengan berat. Kota itu seperti mati, angin berhembus namun tidak ada satu orangpun yang keluar dari jendela dan pintu yang tertutup untuk menikmatinya. Rumah-rumah tua dengan atap yang rapuh dan kayu tua. Sejauh yang Appril lihat semuanya sama.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Kota Memoar yang diceritakan Bouras adalah kota tanpa masa lalu mungkin memang salah, karena tanpa masa lalu sepertinya kota ini juga tanpa masa depan karena diliat dari fisik kota ini memang tidak meyakinkan. Angin berhembus lebih kencang dengan debu, Appril memejamkan matanya namun saat ia membuka matanya, Bouras sudah tidak berada disampingnya dan yang di lihatnnya hanya ada Annisete yang sedang memperhatikan sesuatu.Di depannya ia melihat orang-orang yang sedang berpesta. Diantara keriuhan orang-orang yang sedang berpesta Appril dapat melihat Bouras namun ia terlihat lebih kurus. Lalu wanita yang menangis dan memeluk Appril saat Appril di perlihatkan masa lalunya oleh Tifie, ia terlihat sangat tidak bahagia.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Panggung yang meriah dengan balon-balon berterbangan, seseorang berdiri di podium sedang berpidato. </font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Ya&#8230; Beberapa hari lalu saya memikirkan cara untuk mengalahkan negri Barat musuh terbesar negri Timur. Kita tidak memiliki apa-apa kecuali mulut kita yang menganga besar saat melihat kehebatan senjata negri Barat. Tapi takdir telah merubah kita. Kini saya telah menemukan sesuatu yang patut di takuti oleh negri Barat” katanya berapi-api lalu diselingi oleh tepuk tangan yang meriah dan suara gelak tawa bahagia. Walaupun Appril sedang berada di dalam sebuah pesta, ia merasa kalau dia tidak pantas bahagia atas apa yang di temukan oleh lelaki yang berdiri di atas podium yang nampaknya sangat di hormati itu.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Lyddite!” ujar lelaki itu semangat. Kuping Appril serasa panas mendegarnya, jantungnya sakit. Bagaimana bisa laki-laki itu mengatakan seesuatu yang begitu menyakitkan untuk Appril dan membahayakan bagi dunia dengan sorotan mata bahagia? Appril tidak habis pikir, ia berlari menerjang para kerumunan oranng-orang yang antusias mendengarnya. Setiap orang-orang yang di terobos oleh Appril langsung menghilang begitu juga dengan Bouras yang terlihat kurus dan wanita yang Appril panggil dengan sebutan ‘Ibu’ saat itu. Appril tidak akan bisa melupakan tatapan penuh kasih sayang dari wanita itu. Appril menaiki panggung dan menerjang orang yang sedang berpidato itu, namun orang itu tidak sepeerti orang-orang lainnya. <i>Ia nyata</i>. Appril dapat merasakan tubuhnya bertabrakan dengan lelaki yang tingginya sama dengan Bouras. Appriil mengadahkan kepalanya, yang ia lihat sekarang adalah lelaki bertopeng Joker yang Appril lihat saat di cermin yang menunjukan sesuatu yang di takuti saat di kota Mystifity.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Kau” kata lelaki itu pelan. Yukyu yang ada di samping Appril gemetar takut.</font></span><span style="color:black;"><font face="Times New Roman">“Kau&#8230; nyata&#8230;?” Appril kaget. Tetapi pria itu menghilang dengan seiring dengan hembusan angin. Appril dapat melihat seorang gadis yang belum ia kenal sebelumnya. Pakaiannya sangat unik seperti pesulap bercampur badut. Ia mengenakan baju berok tutu dengan renda-renda di bawahnya</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Siapa kau?” pekik Appril setengah berteriak dan Annisete sudah siap menyerangnya dengan api.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku Memori” jawab gadis itu dingin kedinginannya mungkin satu tingkat di atas Annisete. Matanya hitam pekat dan ia membawa jam pasir di dekapannya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Memo..Ri?” ulang Appril</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Akulah si Pemegang Masa Lalu. Dan tadi adalah sebagian dari masa lalumu” ucapnya misterius</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Masa lalu ku? Berarti orang yang berpidato tadi adalah… bagian dari masa laluku? Dia siapa?” tanya Appril menggebu-gebu</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku tidak bisa menjawabnya” </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kenapa? Kau ‘kan pemegang masa lalu!” Appril gusar</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ada syaratnya kalau kau ingin aku menunjukan masa lalumu” kata Memori sinis</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Syarat?” ulang Appril</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya, syaratnya mudah. Kaupun ku yakin bisa melakukannya”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa?” Appril penasaran</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Masa depanmu. Kau harus menyerahkan masa depanmu. Karena aku hidup melalui masa depan yang di berikan manusia macam kau. Manusia yang tanpa masa lalu dan putus asa menghadapi masa depan yang akan datang” kata Memori dengan senyuman dingin. Appril diam tidak berbicara sama sekali.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa kau bisa menghilangkan ingatan masa lalu?” tanya Annisete tiba-tiba membuka mulutnya. Memori tersenyum dingin lagi, tatapannya penuh dengan kelicikan.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Tentu saja. Tetapi orang yang menjual masa lalunya tidak akan mendapatkan keuntungan apapun dan dia akan hidup dalam kebingungan” jelas Memori singkat. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku tidak peduli dengan akibatnya. Aku mau ingatan masa laluku di ambil sekarang.” ucap Annisete yakin</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span> </span>“Annisete..” Appril takut mendengar Annisete berbicara seperti itu</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Baiklah… kalau itu maumu. Apa kau sudah siap sekarang? Karena prosesnya akan sedikit menyakitkan” kata Memori sudah bersiap-siap dengan jari telunjuknya yang sudah berada di dahi Annisete</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Hentikan.” Appril menghalau tangan Memori pelan. Tatapan mata Appril berbeda dari yang biasanya, Annisete dapat melihatnya mata yang sedikit berbeda namun terlihat bijaksana dan dewasa. Tatapan seorang <i>lelaki.</i> Itu yang terlintas dari pikiran Annisete</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Penawaran yang seperti itu kami tolak” ujar Appril yakin</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Diam kau pembuat boneka. Ini adalah negosiasi ku!” tukas Annisete. Appril melirik Annisete tajam, tatapan yang Annisete sebagai sorotan mata seorang lelaki.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa kau tau seberapa pentingnya masa lalu? Aku sangat menginginkan masa lalu tetapi kau ingin membuangnya begitu saja. Jangan bodoh! Aku memang tidak tau seburuk apa masa lalumu dulu, tetapi setidaknya kau memiliki kisah yang bisa kau kenang.” Appril masih menatap Annisete dengan sorotan mata itu.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku hanya tidak ingin kau sepertiku. Seperti yang Memori bilang, hidup dalam kebingungan.” lanjut Appril pendek, tatapannya berubah melunak.. Annisete tidak mengomentari apapun, ia mendengarkan kata-kata Appril tidak seperti biasanya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku juga. Aku tidak akan memberikan masa depanku hanya untuk mendapatkan masa laluku. Tidak apa aku hidup dalam kebingungan…” kata Appril yakin sambil membalas sorotan mata Memori.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Yang terpenting adalah harapanku untuk hidup di masa depan” Appril tertawa kecil. Memori mengalah, ia membungkukan diri lalu memuar jam pasirnya,</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ternyata pertemuan kita begitu singkat, ya?” ia menghilang begitu saja. Semuanya kembali terlihat seperti normal, kota yang sepi dengan jendela-jendela tertutup rapat. Appril dan Annisete dapat menemukan Bouras yang sedang mengambil beberpa barang untuk persediaan dalam perjalanan. Ia mendapatkannya dari seorang pria muda yang membuka pintu rumahnya dan memerikan Bouras makanan.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kenapa?” tanya Annisete tiba-tiba</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kenapa apanya?” balas Appril</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kenapa kau tidak menukarkan masa depanmu dengan masa lalumu? Bukankah masa depanmu akan menyakitkan? Kau akan meledak” ujar Annisete</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kau ini bicara apa? Kan aku sudah bilang kalau aku ingin kita berteman seperti Bouras dan Nea!” jawab Appril polos</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Lalu kenapa kau tadi terdiam saat Memori menawarkan nya? Apa kau mempertimbangkannya?”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Tentu saja tidak”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ha?” Annisete makin tidak mengerti dengan jalan pikiran Appril</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku hanya berpikir kalau baju yang dipakai Memori sangat tidak cocok” ujar Appril tertawa kecil.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Cih. Begitu, ya?” Annisete<span>  </span>terlalu berpikir macam-macam tentang Appril.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Lagipula kalau melihat Bouras yang semangat mencari bahan makanan untuk kita, mengetahui kalau masih ada satu orang di dunia ini yang masih semangat untuk membantu masa depan kita… Aku jadi tidak sabar untuk melihat masa depan apa yang akan kujalani nanti” Appril berlari menyusul Bouras yang keberatan membawa barang.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku ingat sekarang.” ucap Bouras tiba-tiba</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa?” </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku ingat. Ada seorang penghuni di kota ini”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Penghuni?”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya… bisa dibilang begitu. Namanya Memori, ia akan mendatangi orang-orang yang tidak memiliki masa lalu dan akan memunculkan sedikit tentang masa lalunya kemudian dia akan memberikan tawaarannya.” jelas Bouras</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Dengan memberikan masa depannya, ia akan mendapatkan masa lalunya. Begitukah?” Appril melanjutkan kata-kata Bouras yang belum selesai.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya… begitulah sepertinya kau tau tentang itu, ya? Apa jangan-jangan selama tadi kau menghilang… kau bertemu dengan…”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Ya, aku bertemu dengannya. Dan aku menolak penawarannya” lanjut Appril. Ia membantu Bouras dengan membawa kantong coklat besar yang berisi macam-macam makanan. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bagus, Appril” puji Bouras. Yukyu yang tadinya terbang hinggap di kepala Appril seakan-akan penasaran ingin mendengar lanjutan omongan Bouras.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Karena masa lalu tetap saja masa lalu. Kau pernah melewatinya hanya saja kau tidak ingat apa itu.” kata Bouras mencoba menghibur “Kau hanya harus yakin kalau masa lalumu itu indah” lanjut Bouras</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bouras, maukah kau berjanji untukku?” Appril menunjukan mata penuh harapnya bahkan Annisete tidak suka melihat tatapannya</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa?”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Karena kuyakin kau tau semua masa laluku… maukah suatu saatnya nanti kau ceritakan padaku?” pinta Appril sambil menyunggingkan sennyumannya. Bouras tidak langsung menjawab, ia hanya membalas senyuman Appril tanpa berkata apa-apa.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Itu artinya tidak ya?” tanya Annisete</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bukan… itu artinya ‘Baiklah’” ralat Bouras sekarang ia berani untuk tersenyum dan membalas tatapan Appril. Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan bawaannya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Hei, budak” kata Annisete ditengah-tengah perjalanan.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“JANGAN PANGGIL SEMBARANGAN!” teriak Appril kesal</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Bawakan tasku”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa?! Tapi bawaanmu kan hanya alat tidurmu saja?!”</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku tidak biasa membawa sesuatu yang berat. Cepat bawakan.atau kusuruh badanmu untuk melakukan hal yang aneh-aneh” ancam Annisete sinis.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Disela-sela pohon rindang, beberapa orang mengintip Appril, Annisete, dan Bouras dari jauh. Mereka mengendap-endap sambil memperhatikan gerak-gerik yang dilakukan Appril dan Annisete.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Kau yakin itu adalah orangnya?” tanya seorang diantara mereka yang bermabut pendek.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Jangan ragukan aku” jawab seorang lagi</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa harus sekarang?” tanya seseorang itu lagi. Dari mimik wajahnya yang samara-samar bisa terlihat kalau ia sangat semangat untuk berbuat sesuatu terhadap Appril, Annisete dan Bouras.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Jangan sekarang. Masih ada orang besar itu. Bisa bahaya.” kata temannya bijak sambil menahan bahu temannya yang hendak pergi.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Aku harap kau benar karena laki-laki itu tidak terlihat seperti itu” balas temannya lagi gusar</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">“Apa kau tau nama orang itu? Dialah yang namanya Bouras”</font></p>
<p><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font><font face="Times New Roman"> </font></p>
<p align="center" style="text-align:center;margin:0;" class="MsoNormal"><font face="Times New Roman">*</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/juneappril.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/juneappril.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juneappril.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juneappril.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juneappril.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juneappril.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juneappril.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juneappril.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juneappril.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juneappril.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juneappril.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juneappril.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juneappril.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juneappril.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juneappril.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juneappril.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juneappril.wordpress.com&amp;blog=1986270&amp;post=7&amp;subd=juneappril&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juneappril.wordpress.com/2007/12/21/mystifity/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d7651fbb649fa40ab8dd5d33471b0d59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juneappril</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>casuarina</title>
		<link>http://juneappril.wordpress.com/2007/12/01/casuarina/</link>
		<comments>http://juneappril.wordpress.com/2007/12/01/casuarina/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Dec 2007 10:55:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juneappril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://juneappril.wordpress.com/2007/12/01/casuarina/</guid>
		<description><![CDATA[« Appril &#160; CASUARINA SELAMAT DATANG DIKOTA CASUARINA (KOTA SERIBU HARAPAN) ±10 km kota dimana harapan selalu hidup kota dimana kita bisa mendapatkan harapan itu sendiri kota yang bahkan dapat membuang harapan kota dimana harapan itu dilahirkan (dari papan selamat datang kota Casuarina) &#160; Appril, Annisete dan Bouras harus berjalan ± 10 km lagi untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juneappril.wordpress.com&amp;blog=1986270&amp;post=6&amp;subd=juneappril&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="navigation">
<p class="alignleft">« <a href="http://juneappril.wordpress.com/2007/10/25/appril/"><font color="#0066cc">Appril</font></a></p>
<p class="alignright">&nbsp;</p>
<p class="post">
<h2><a rel="bookmark" href="http://juneappril.wordpress.com/?p=4" title="CASUARINA">CASUARINA</a></h2>
<p class="entry">
<p class="snap_preview">
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Vineta BT, fantasy"><font size="3">SELAMAT DATANG DIKOTA CASUARINA</font></font></font></p>
<p align="center" style="margin-bottom:0;"><font color="#0000ff"><a target="_top" href="http://angel.jpg/"><font size="3"><font face="Vineta BT, fantasy"><font color="#000000">(KOTA SERIBU HARAPAN) ±10 km</font></font></font></a></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font size="3"><font face="ItalicT"><font color="#000000">kota dimana harapan selalu hidup </font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font size="3"><font face="ItalicT"><font color="#000000">kota dimana kita bisa mendapatkan harapan itu sendiri</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="ItalicT"><font size="3">kota yang bahkan dapat membuang harapan </font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="ItalicT"><font size="3">kota dimana harapan itu dilahirkan</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="ItalicT"><font size="3">(dari papan selamat datang kota Casuarina)</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">&nbsp;</p>
<p align="left" style="margin-top:0.17in;margin-bottom:0;"><font size="3"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif">Appril, Annisete dan Bouras harus berjalan ± 10 km lagi untuk sampai dikota yang bernama Casuarina. Bouras sudah menceritakan hal yang indah-indah tentang kota tersebut. Rumah-rumah yang unik berjajar rapih, ladang buah dan sayuran yang selalu subur, pohon-pohon rindang dengan buah manis yang dapat dipetik. Sumber mata air yang tidak jauh dari kota bahkan bisa terdengar dengan jernih. Warga-warganya yang ramah dan selalu tersenyum kala ada orang melintas tidak peduli mereka kenal atau tidak denga orang itu. Hal itu dikarenakan warga Casuarina yang ramah dan selalu bertindak berasaskan kekeluargaan. Mendengar hal itu Appril menjadi sangat bersemangat rasa kantuknya tiba-tiba menghilang</font><font face="Symbol, serif"></font><font face="Times New Roman, serif"><em>ia benar-benar ingin cepat sampai dikota Casuarina! </em>Saat ditanya oleh Annisete kenapa Bouras benar-benar tau tentang kota Casuarina, Bouras menjawab dengan tenang, </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Karena Casuarina adalah desaku! Ya, Casuarina adalah kampong halamnku, Annisete” jawabnya senang. Appril tidak merasa kaget dengan hal itu, baginya Bouras benar-benar mencirikan sifat warga Casuarina. Baik dan ramah itulah sikap yang paling menonjol dari Bouras.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Pastinya kau sangat senang, ya Bouras?” tanya Appril walaupun ia sudah tau jawabanya namun nampaknya Bouras sedang senang menjawab semua pertanyaan menyangkut kota Casuarina dan dirinya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Oh.. Kau tidak bisa bayangkan seberapa senangnya aku, Appril!” jawab Bouras lagi sambil menyeka air mata kebahagiaannya. Appril memberikannya sapu tangan miliknya dari kantung celananya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Terimakasih, Appril” lanjutnya dikejauhan ujung kota Casuarina sudah terlihat dibalik bukit walaupun hanya diterangi cahaya bulan. Itu adalah sebuah gedung dengan puncaknya yang bertanamkan pohon besar yang bisa memayungi satu kota. Bouras makin berkaca-kaca nampaknya hanya melihat menara jam itu saja sudah banyak arti baginya. Seribu kenangan muncul didalam benaknya. Bouras hampir berlari dan meninggalkan Appril dan Annisete dibelakang yang berjalan sangat lamban dibandingkan dirinya. Namun pada akhirnya ia hanya meneriaki Appril dan Annisete dengan kata-kata semangat.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ayo, Appril! Annisete! Kalian tidak ingin warga Casuarina menunggu kebosanan ‘kan?” teriaknya yang sudah agak jauh didepan dibandingkan Appril dan Annisete. Namun bagi Appril dan Annisete itu sama sekali bukan kata-kata motivasi. Kalimat itu hanya membuat mereka lelah.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Bouras nampaknya terlalu semangat ya, Ann?” tanya Appril </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Jangan panggil aku dengan ‘Ann’! Panggil aku dengan jelas, Annisete. Kalau perlu kau memanggil nama panjangku, June Annisete” jawab Annisete ketus tanpa membalas tatapan Appril, ia melenggang jalan tanpa berkata apa-apa lagi. Appril ditinggalkan Annisete begitu saja tetapi Yukyu tetap setia bertengger dipundaknya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Wah Yukyu.. memang sulit ya berteman dengan Annisete?” Appril bingung sendiri.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bouras menggelar kemah dibawah pohon besar yang jaraknya tidak jauh dari desa kelahirannya. Sambil terus menatap kearah desa Casuarina ia membuatkan Appril dan Annisete makanan sup jagung yang direbus diata api unggun yang dibuat oleh Annisete.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kenapa kita tidak melanjutkan prjalanan, Bouras? Kita ‘kan sudah sangat dekat dengan kampungmu.” Tanya Appril sambil menerima mangkuk dari Bouras.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tidak.. hanya saja kalian pasti sudah sangat lelah.. dan lagi ..” Bouras menghirup aroma supnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Dan lagi ..?” Appril penasran.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Penduduk desaku pasti juga sudah tidur kalau jam segini.. haha..” Bouras tertawa sendiri padahal sama sekali tidak ada yang lucu. Dia meminum kuah supnya </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Bouras.. kata Benthill aku memiliki wyvern kekuatan super itu.. tapi aku tidak merasakan kalau aku punya itu.” kata Appril tiba-tiba</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Itu kan karena kau hanya bisa membuat boneka” ucap Annisete begitu saja</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ha..H?” Appril tidak mengerti</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tapi saat pertama kali aku bertemu denganmu aku bisa mengeluarkan api!” ujar Appril yang merasa sedikt tersinggung karena ucapan Annisete tadi.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Coba saja kau keluarkan lagi” tantang Annisete. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ba.. Baik!” Appril tidak mau kalah menerima tantangan dari Annisete. Ia berusaha berkonsentrasi untuk menegeluarkan api dari tangannya “API!” ucap Appril keras namun yang keluar hanyalah asap tidak berarti dari tangannya. Suasana membisu Annisete kembali menyuap sup jagungnya tidak memperdulikan Appril yang merasa malu.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ke..Napa..? Padahal waktu itu aku bisa!!!” rengek Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Haha.. Bukan begitu Appril ..” Bouras mencoba menenangkan “Wyvernmu itu sebenarnya sedikit unik.. wyvernmu itu bersifat seperti spons. Kau menyerap semua wyvern yang ada disampingmu dan menyimpannya didalam tubuhmu. Saat kau melawan Annisete waktu itu, kau bisa mengeluarkan api karena kau menyerap wyvern Annisete” jelas Bouras.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Lalu kenapa aku tidak bisa mengeluarkan api sekarang? Apa api itu sudah menghilang dari tubuhku?” </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tidak. Malahan kekuatan yang sudah kau serap itu berkembang didalam tubuhmu makanya bisa saja kau bisa jauh lebih hebat dari Annisete entah kapan sesuai tubuhmu merespon kekuatan itu. Hanya saja kekuatan itu dapat keluar kalau kau benar-benar membutuhkannya. Seperti terdesak akan sesuatu atau kau memang ingin melindungi sesuatu” tambah Bouras lagi</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Oh..Begitu, ya? Jadi aku seperti spons?” Appril berpikir sendiri “Lalu bagaimana aku bisa meresap kekuatan orang lain?” tanya Appril lagi yang tidak tau sama sekali dengan kekuatan yang dimilikinya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Entahlah.. Mungkin dengan berdekatan atau bahkan hanya dengan kontak mata. Yang tau caranya kan hanya dirimu sendiri. Mungkin suatu saat kau tau caranya” kata Bouras. Appril mengangguk mengerti lalu ia duduk disamping Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Eh.. sedang apa kau?” tanya Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tidak .. hanya saja aku sedang mencoba untuk menyerap kekuatan wyvernmu. Aku juga ingin punya pedang yang bisa keluar dari tangan kapan saja aku mau” jawab Appril polos. Bouras tertawa geli</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Appril.. kau tidak akan bisa menyerap kekuatanku. Kau hanya menyerap tenagaku saja. Karena selain wyvern yang kau serap kau bisa menyerap tenaga orang yang kau ingin serap tersebut.” </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kenapa aku tidak bisa menyerap wyvernmu?”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Karena wyvernku adalah buatan. Didunia ini ada orang yang bisa membuat wyvern walaupun hasilnya tidak akan sehebat wyvern yang alami. Dan lagi, wyvern buatan harus melakukan bebarapa syarat yang merepotkan” jawab Bouras </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Syarat?” Appril bingung namun nampaknya Bouras sudah tidak ingin mnjawabnya lagi</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Mungkin lain kali akan kuceritakan, Appril.” kata Bouras sebijak mungkin</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hei pembuat boneka, apa kau tidak tau kalau wyvernmu itu hanya meperpendek umurmu saja?” Annisete tiba-tiba membuka mulutnya</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Panggil aku dengan namaku! Lagipula apa maksudmu?”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Lyddite itu akan lebih cepat meledak apabila terangsang dengan kekuatan yang besar. Jadi kalau terlalu banyak menggunakan wyvernmu kau sama saja merangsang lyddite itu untuk meledak” ujar Annisete tajam. Appril menatap Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Benarkah itu, Bouras..?” tanya Appril yang sedikit takut dengan omongan Annisete. Bouras mengawali jawabannya dengan hembusan napas yang berat.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya..” jawab Bouras setengah “Tetapi kau bisa mempelajari bagaimana mengontrol wyvern dan lyddite yang ada didalam tubuhmu, kok” Bouras mencoba menghibur</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tapi dengan siapa? Mana ada orang yang mau mengajariku yang hanya bisa membuat boneka?” Appril putus asa</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Yang ku tau Annisete bisa.” Kata Bouras tersenyum lebar kearah Annisete</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Seperti kata orang bodoh itu. ‘Mana ada yang mau mengajari orang yang hanya bisa membuat boneka’!” balas Annisete tajam. Appril melongos sedih tidak aneh kalau Annisete akan berkata seperti tu karena dari awal Annisete sudah memilih pilihan kalau dia ingin membunuh Appril dan akan hidup bahagia dinegri Barat jadi untuk apa Annisete akan repot-repot untuk mengajari bagaimana cara mengontrol wyvern dan lyddite yang ada didalam tubuh Appril.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Iya, ya.. kau mana mau mengajariku” Appril lemas</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Lagipula kau beluim memberitahukan fakta yang terburuknya, Bouras.” kata Annisete lagi</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ter.. buruk?”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Alasan lain kenapa aku memilih pilihan yang pertama adalah karena aku memang tidak ingin meledakan diri dan menyusahkan orang lain. Kalau kau memilih pilihan yang kedua, maka kaupun akan ikut mati bersamanya. Dan ketiga … Entahlah. Aku sudah bilang padamu kalau aku tidak mau menyusahkan orang lain” ujar Annisete.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">‘<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ah.. ternyata Annisete berpikir sampai kesitu, ya?’ kata Appril dalam hati</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kenapa kita bisa ikut mati? Bukankah yang hanya bisa tahan dengan daya ledakan lyddite itu kita sendiri?” Appril tidak berhenti untuk bertanya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Itu kalau kau memilih pilihan ketiga, Appril. Kalian bisa bertahan dengan daya tahan lyddite kalau mengeluarkannya dalam jumlah kecil. Tetapi kalau mengeluarkannya sekaligus..” Bouras tidak melanjutkan kata-katanya karena dia pikir pasti Appril sudah tau kelanjutannya</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Pasti ada pilihan lain ‘kan? Kita masih bisa bertahan hidup tanpa meledakan diri dan tanpa merugikan orang lain!” ujar Appril semangat</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Cih! Hanya dalam dongeng. Jangan berharap yang tidak mungkin. Dan lagi, kalau kita memilih pilihan yang ke-3, maka kekuatan itu akan abadi dan tidak akan pernah habis. Singkatnya, semua pilihan adalah jalan buntu kecuali pilihan pertama” Annisete meninggalkan Appril dan Bouras. Ia masuk kedalam tendanya yang bersebrangan dengan tenda Appril dan Bouras.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Jangan dengarkan dia. Hei, lihat! Kita sedang berada dimana? Kota Casuarina!” hibur Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ya.. kota dimana harapan dilaharikan” ucap Appril berusaha tersenyum mengingat papan selamat datang tadi. Bouras menepuk pundak Appril memberikan semangat.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Kau mau tidur skarang, Appril? Karena hari ini sangat melelahkan” Bouras bangun dari duduknya hendak masuk ketenda. Appril menggeleng sambil tersenyum Bouras membalas senyumannya lalu masuk ketenda.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya.. kota yang bahkan dapat membuang harapan itu sendiri” tambah Appril sendiri. Namun ia tidak ingin berlama-lama berada diluar karena udara dingin. Ia mematikan api unggun dan masuk kedalam tenda.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font size="3"><font face="Times New Roman, serif"><font color="#000000">Annisete masih belum bisa tidur saat ditendanya, ia hanya berbaring sambil memikirkan sesuatu atau kejadian yang baru-baru ini menimpanya. Benthill ayah angkatnya yang melawan Glodi sang ketua parlemen, lalu Maid yang ikut menjadi korban, dan sekarang ia berada bermil-mil jauhnya dari kota Vuyne. Annisete merasa aneh bukan hanya karena kejadian itu tapi karena suara berisik dari semak-semak yang berada tidak jauh dari tendanya. Annisete keluar mengecek ada apa. Lalu seorang dengan menggunakan topeng menyerangnya dengan pedang panjang. Annisete langsung menghindar dengan semburan apinya. Orang itu dengan mulus meloncat keatas pohon yang ada. Lalu menyerang Annisete kembali dari atas. Annisete mengeluarkan api lagi, dan orang itu meloncat kebelakang Annisete dan meletakan pedangnya tepat dileher Annisete sambil mengancam.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Katakan darimana kau berasal” seru orang bertopeng itu yang dari suaranya bisa terdengar samara-samar kalau dia seorang wanita. Bouras dan Appril keluar berbarengan melihat Annisete yang diancam dengan pedang.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hentikan!” teriak Bouras.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kau..” orang itu nampak mengenal Bouras.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ya, aku Bouras kalau kau mengenalku cepat buka topengmu!” kata Bouras. Orang bertopeng itu melepaskan topengnya dan melepaskan Annisete dari cengkramannya. Ia mengeluarkan cahaya dari tangannya dan terlihat kalau ia seorang wanita berambut pendek dengan mata biru indah.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ne.. Nea? Itukah kau?” Bouras namapk sangat terkejut</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Maaf. Aku kira kalian adalah tentara negri Barat aku lihat dari api unggun kalian. Kami disuruh berjaga-jaga karena informasi yang ada negeri Barat menuju kesini” kata Nea lagi</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ah… Sudahlah itu tidak penting.. Bagaimana dengan pertanyaan ‘Apa kabar’?” Bouras tersenyum namun Nea tidak membalasnya malah ia menuju kearah Appril yang berada disampingnya dan menunjukan senyum ramahnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa kabar?” tanya Nea ramah </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ba..ik..” jawab Appril bingung karena tiba-tiba ditanyai apa kabar oleh orang seperti Nea yang baru saja ia kenal.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Nama kamu siapa anak kecil?” tanya Nea kemudian menyadari ia belum tau nama Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Appril” jawab Appril singkat. Nea mengeluarkan cahaya dari tangannya agar bisa melihat jelas muka Appril, Bouras, dan Annisete secara jelas.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Dan temanmu yang kuserang tadi.. nampaknya aku mengenalnya” kata Nea</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Dia namanya mm.. Donna” kata Bouras dan Annisete tidak merasa terganggu dengan perkataan Bouras tadi</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Hmm.. nama yang cantik” komentar Nea sambil mendekat kearah Annisete supaya bisa melihatnya lebih jelas. Rambut kepang Annisete tidak pernah terlepas walaupun saat tidur dan Nea mengelus kepangan Annisete.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya. Apa kita pernah bertemu?” tanya Nea</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tidak. Kurasa tidak” jawab Annisete berusaha menyeka tangan Nea dari kepangannya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Kalau kalian ingin kekota lebih baik sekarang bersamaku” kata Nea tiba-tiba “Penjagaan kota sedang sangat ketat dan jarang memberikan izin masuk kekota bahkan mungkin juga tidak menerima pengunjung untuk saat-saat ini sampai keadaan aman” jelas Nea lagi. Ia memandang Annisete lagi unutuk memastikan siapa tahu dia ingat dengan muka Annisete yang sangat familiar baginya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Baiklah kalau begitu” jawab Bouras sambil masuk ketenda diikuti Appril dibelakangnya meninggalkan Annisete dan Nea.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa kita pernah bertemu?” tanya Nea mengulang lagi. Annisete tidak peduli dengan pertanyaan Nea yang dia anggap tidak perlu lagi untuk dijawab. Ia masuk ketendanya dan membersekan barang-barangnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Bouras.. kenapa kau memakai nama samaran untuk..?” tanya Appril yang sudah dicegat Bouras dengan menutup mulut Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Akan kujelaskan saat kita berada dikota” jawab Bouras lalu kembali membersekan barang-barangnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font size="3"><font face="Times New Roman, serif"><font color="#000000">Mereka kembali berjalan setengah mil lagi untuk sampai kegerbang besar yang terbuat dari lapisan baja yang kuat dengan huruf ‘C’ besar berwarna merah. Ada beberapa penjaga berpakaian baja lengkap dengan tutup kepala dan senjata tajam yang ada dipinggangnya berjaga dimenara gerbang dan dua penjaga berbadan besar dengan senjata palu besar. Tampang kedua penja itu mirip dan menyeramkan dengan kumis lebat dimukanya. Tetapi saat Nea lewat mereka langsung memberikan Nea jalan tetapi saat Bouras yang berada dibarisan paling akhir ia dicegat.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa-apaan ini? Nea! Bisakah kau beritahu mereka kalau aku ini adalah sahabatmu?” kata Bouras yang tidak suka dengan cara penjaga itu menahannya dengan mendekatkan palu besar yang runcing itu tepat dilehernya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Penjaga, dia bersamaku” kata Nea tanpa membalikan badannya sama sekali dan terus melenggang maju berjalan melalui pintu kecil yang ada digerbang.dan kota kecil dengan bangunan yang unik terlihat dimata Appril saat melewati pintu kecil tersebut. Bangunan yang menjadi menarikm perhatian Appril adalah bangunan besar berbentuk seperti botol dengan tanaman pohon besar yang tumbuh diatapnya. Lampu kota tersebut redup kecuali pohon besar itulah yang mengeluarkan cahaya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Wow..” Appril terkagum-kagum</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Itu namanya Pohon Harapan kalau kau mau tau anak kecil.” Kata Nea yang tau apa yang Appril kagumi.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Hei.. aku sudah lima belas tahun kalau kau mau tau” balas Appril “Ngmong-ngomong Pohon Harapan itu apa?” tanya Appril </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tanya saja temanmu itu kalau kau mau tau lebih lanjut.” Jawab Nea singkat.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Nea.. kau benar-benar menyusahkanku. Mereka sama sekali tidak percaya kalau aku adalah Bouras” kata Bouras yang tergopoh-gopoh karena baru saja selesai di introgasi oleh penjaga.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Baiklah sampai disini saja aku mengantarkan kalian. Jujur saja, aku tidak ingin terlibat lebih jauh lagi oleh kalian. Jadi.. selamat tinggal” Nea tersenyum hanya untuk Appril dan Annisete berbeda dengan respon Appril yang membalas senyuman Nea, Annisete hanya menatap Nea dingin.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Baiklah kalian berdua. Aku akan menunjukan tempat tinggal kita sementara. Kalaupu itu masih berlaku atau tidak aku juga tidak tau” kata Bouras yang kalimat terakhirnya sama sekali tidak dimengerti oleh Appril maupun Annisete yang pintar sekalipun.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bouras menuju gang kecil seperti gang mantionnya saat dikota Vuyne.Gang itupun sangat sempit sampai Bouras harus memiringkan badannya agar bisa melewati gang kecil dan gelap tersebut. Lampu dari rumah penduduk Casuarina benar-benar tidak ada yang menyala walaupun hanya satu sekalipun. Cahaya yang ada dikota Casuarina semuanya bergantung pada pohon besar yang terdapat dipusat kota yang mengeluarkan cahaya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tenang saja.. gang ini hanya jalan pintas saja, kok.” kata Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kuharap kau berkata jujur Bouras.. karena kurasa gang kecil ini gang yang terpanjang yang pernah kulalui” benar kata Appril jalan gang kecil itu tidak seperti gang-gang lainnya. Gang ini berkelok-kelok dan panjang seperti tidak berujung.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Yah.. Appril.. kau tidak tau kebiasaan orang-orang Casuarina yang berkelebat.. mereka suka dengan sesuatu yang rumit dan membosankan. Walaupun kota ini sangat kecil namun jalan-jalan dikota ini dibuat serumit mungkin begitu juga dengan jalan pintasnya. Ini adalah jalan pintas yang bisa dibilang gampang diingat. Makanya, hati-hati saja kalau kau keluar kota ini sendirian. Bisa-bisa kau lupa darimana kau berasal” kata Bouras memperingatkan</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa jalan menuju pohon itu juga?”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Terlebih lagi pohon itu yang menjadi jantung kota Casuarina. jalan menuju pohon dan gedung itu benar-benar dibuat agar kau tidak bisa kembali maupun sampai ketempat itu.” jawab Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Menyeramkan sekali.” cicit Appril pendek walaupun didalam hatinya ia benar-benar menginginkan kesana.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Memang dipohon itu ada apa?” tanya Annisete yang tumbennya mendengarkan pembicaraan Bouras dan Appril.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Mm.. setahuku, pohon itu dapat memberikan harapan atau jawaban dari semua keraguan yang ada didunia ini. Begitulah dongeng yang ada.” Jawab Bouras dengan senang hati mungkin karena dia bosan yang selalu bertanya adalah Appril.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Mungkin juga bisa menjawab pertanyaanku juga, ya?” kata Appril pelan</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa?” Bouras tidak memperhatikan benar Appril ngomong apa. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tidaak.. bukan apa-apa” Appril mencoba menyembunyikan namun tidak ada satu katapun yang luput dari telinga Annisete</font><font face="Symbol, serif"></font><font face="Times New Roman, serif">ia mendengar semua ucapan Appril barusan.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font size="3"><font face="Times New Roman, serif"><font color="#000000">Mereka berhenti disebuah rumah berwarna orange yang catnya sudah agak pudar, rumahnya berbentuk bundar dengan atap diatasnya yang terbuka lebar tidak ada tutup. Saat masuk kedalam melewati pintu reot rumah itu sudah penuh dengan debu tidak ada ruangan lain selain ruangan setelah pintu reot yang dimasuki Appril dan Annisete tadi. Perabotan-perabotan yang ada hanyalah meja dengan vas bunga yang sengja ditaruh didepan jendela. Vas bunga berwana biru itu terdapat bunga berwarna ungu yang masih segar padahal nampaknya Bouras sudah tidak pernah kembali kerumahnya sejak puluhan tahun.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ah.. ternyata rumah ini memang tidak pernah berubah” kata Bouras senang melihat keadaan rumahnya yang sebenarnya tidak bisa disebut rumah dilihat dari segi perabotan rumahnya yang ada hanya meja dan vas bunga, debu yang tidak karuan dan jarring laba-laba saat mereka masuk.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Kuperhatikan kau suka menatap langit ya? Karena dirumahmu yang berada dikota Vuyne jendela kamarmu juga tembus pandang. Namun kali ini atap rumahmu yang bolong.” Kata Appril yang menggelar kembali alas tidur berwarna coklat disamping Bouras.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Haha.. ketahuan, ya? Ya.. begitulah.” jawab Bouras.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bagaimana kalau turun hujan badai?Kau bisa sakit, kan?” Appril kembali bertanya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kalau itu aku pasti mengungsi ketempat lain.. haha..” jawab Bouras lagi malu-malu</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Merepotkan saja” komentar Annisete menggelar alas tidurnya yang agak jauh dari mereka berdua.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kalau dulu itu bukan masalah sama sekali. Seluruh kota sudah kenal siapa aku. Mereka dengan senag hati menerimaku kapan saja.” cerita Bouras mengenang masa lalu.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Lalu.. bagaimana dengan Glodi? Dia ‘kan kakakmu” Appril agak ragu menanyakannya</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ah.. itu. Glodi itu orang ribet dari dulunya. Aku juga tidak pernah akur dengannya” Jelas Bouras lebih lengkapnya. Ia menghela napas panjang Appril menjadi tidak enak karena sudah menyakan hal yang tidak seharusnya ia tanyakan suasana menjadi hening sesaat.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Hei, Bouras.. apa semua jalan dikota ini seperti jalan yang kita lalui tadi?” Annisete bertanya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Mm.. tidak semuanya, sebagian besar. Disini juga ada lahan lapangnya juga.” kata Bouras “Sudah.. lebih baik kalian tidur dulu. Ini kan sudah malam juga” ucap Bouras yang melihat langit masih berbintang dan gelap.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Pagi hari, matahari sudah masuk kedalam rumah Bouras tanpa penghalang sedikitpun. Cahayanya yang hangat membangunkan Appril yang bangunnya paling akhir. Bouras sedang mempersiapkan sarapan ditungkunya, Annisete sedang merapikan kepangan rambutnya walaupaupun sama sekali tidak ia buka kepangannya, hanya ia mengelus rambutnya saja. Appril tersenyum segar.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Pagi!” ucapnya gembira</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Pagi, Appril. Ceria hari ini?” tanya Bouras sambil menyuguhkan Appril dengan roti madu dan susu putih hangat.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya. Tidurku nyenyak” jawab Appril “Pagi, June Annisete” sapa Appril dengan menyebut nama panjang Annisete dan seperti biasanya Annisete hanya akan membalas bila ia mau dan itu jarang sekali jika yang mengajakanya bicara adalah Appril.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Katamu, disini ada ladang yang indah.. sumber mata air yang tidak jauh dari kota, dan pohon-pohon rindang yang buahnya manis jika dipetik. Tapi dari kemarin ‘kan yang ada hanya jalan berkelak-kelok dengan gang yang sempit” kata Appril nadanya seperti memprotes.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Itu, ya? Aku juga bilang ‘kan kalau tidak semua jalan Casuarina seperti ini. Akan kutunjukan kalau kau mau” kata Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Setelah sarapan?” mata Appril berbinar-binar</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Baiklah..”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font size="3"><font face="Times New Roman, serif"><font color="#000000">Beribu-ribu kilometer jauhnya dari tempat Appril, Bouras, dan Annisete berada, markas besar yang terletak ribuan meter didalam lautan tepatnya disebuah ruangan tersendiri yang megah namun gelap. Meja besar berwarna emas dengan kaca yang transparan yang dapat melihat langsung ikan-ikan yang berenang didalam laut. Lelaki yang paling dihormati mengenakan topeng joker dengan jubahnya yang panjang berwarna emas dengan pinggiran berwana biru. Ia duduk dikursi yang menandakan kekuasaanya sambil memandang hiu hitam yang jarang sekali lewat didepan kacanya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Master.. mereka sudah tidak lagi berada dikota Vuyne menurut berita yang ada” seseorang berlutut memberikan hormat dengan mengenakan pakaian besi untuk perang. Dilengan kirinya dililiti kain bergambarkan huruf ‘V’ dengan tanda silang yang terbuat dari dua panah.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Cepat cari mereka” ujar lelaki yang dipanggil ‘Master’ itu suram “Perintahkan para Saga untuk mencari mereka” lanjutnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Baik, Master” kata suruhan itu tunduk.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Dan lagi.. panggil ‘dia’ kemari” suruhnya tanpa memperhatikan badan bawahannya yang gemetaran</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Baik!” lalu orang itu berlutut lebih dalam dan keluar melewati pintu besar dihadapannya. Tidak lama kemudian, pintu itu kembali terbuka. Datang seorang anak laki-laki yang tidak terlalu tinggi, matanya seperti tidak menunjukan emosi apapun, dan lagi ia menghadap tidak seperti orang yang baru saja masuk, ia sama sekali tidak berlutut.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ada apa mencari saya?” tanyanya pelan.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku hanya ingin menanyakan kabar saja” jawab master itu sambil memutarkan kursinya agar dapat melihat anak laki-laki itu dengan jelas.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya.. sejauh ini saya baik-baik saja” jawab anak itu dingin</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bagus. Aku senang mendengarnya”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ada hal lainnya kah?”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tentu saja. Aku memanggilmu bukan karena alasan sesimpel itu” </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya?”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kau ikutlah para Saga mencari mereka. Lalu kau tau apa selanjutnya yang harus dilakukan” jelas master itu seperti sedikit dirahasiakan dan terdengar misterius tetapi nampaknya anak laki-laki itu mengerti maksud pembicaraanya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Baiklah. Aku mengerti, master” ucapnya pelan. Master berdiri dan berjalan menuju kearah anak laki-laki itu. Ia memegang dagu anak laki-laki itu dan mengecup keningnya walaupun hanya sebatas sentuhan topeng belaka.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kau anakku yang paling hebat.” Ucapnya selagi ia berkata demikian, seeok hiu hitam kembali lewat dijendelanya. Kini hiu itu sedang menggigit hiu lainnya dan air lau berubah menjadi merah pekat.</font></font></font></p>
<p align="center" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif"><font size="3">*</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font size="3"><font face="Times New Roman, serif"><font color="#000000">Bouras kembali mengajak Annisete dan Appril menyusuri gang-gang kecil yang berkelak-kelok dan terkadang mereka harus menaiki tangga lalu menuruninya tetapi pemandangannya tidak pernah berubah hanya seputar dinding yang dicoreti oleh tangan orang iseng. Namun tidak lama kemudian sebuah sinar terang dari ujung gang terlihat dan Appril dapat melihat lahan yang sangat luas dan dipenuhi oleh orang-orang kota. Lahan itu berumput hijau dan seperti Bouras bilang, lahan itu dipenuhi oleh bermacam-macam tumbuhan dan tanahnya subur. Banyak orang yang berjualan disekitar lahan itu dan Appril melihat sungai kecil yang membelah lahan itu menjadi dua. Sungai yang tidak jelas berasala darimana.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Nah, Appril.. lahan inilah yang kumaksud. Disini orang-orang Casuarina menghabiskan waktunya.” kata Bouras. Appril masih memperhatikan sekelilingnya. Bouras tidak berkata bohong. Pohon-pohon rindang dengan buah kecil berwarna merah menggiurkan terlihat jelas dimatanya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ini.. benar-benar hebat!” puji Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya.. ini biasa dibilang ini pusat kota kedua karena semua yang dibutuhkan Casuarina ada disini” jelas Bouras lagi</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku mulai menyukai kota ini, Bouras! Boleh aku pergi bermain-main sebentar?” Appril lagi-lagi melawan Bouras dengan matanya yang berbinar-binar sambil memeluk Yukyu yang pingin sekali terbang.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tentu saja. Asal kau tidak masuk kedalam gang sendirian” kata Boouras memperingatkan</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku jaga.” Annisete iktu pergi meninggalkan Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Eh. Eh.. Annisete ikut bersamaku juga, ya?” tanya Appril sambil tersenyum dengan gaya khasnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku hanya tidak ingin kau mendapatkan lebih dariku, itu saja.” kata Annisete dingin. Appril hanya bisa tersenyum mendengar perkataannya. Mereka menyusuri jalan itu bersama mengikuti aliran sungai.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hei, June Annisete… kenapa kau menganggap pilihan pertama adalah pilihan yang terbaik?” </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Bukankah aku sudah bilang? Aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain. Dan lagi, itu adalah pilihan yang ada sebuah jalan setelahnya. Kenapa kau menanyakan hal itu lagi?” Annisete berbalik bertanya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hmm.. aku memang tidak bisa mengerti sebagian besar perkataanmu..”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Lalu?”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tapi mungkin kalau kita bertanya kepohon itu.. mungkin kita dapat menemukan jawabannya, ‘kan?” kata Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Aku mengerti maksudmu.” tanggap Annisete </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kau memang pintar” kata Appril tanpa merasa tatapan aneh dari Annisete</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya.. aku memang berbeda denganmu, aku pintar tidak sepertimu pembuat boneka bodoh” hina Annisete tanpa ampun. Lalu ia berjalan mendahului Appril dan Yukyu.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Hei.. kakak yang sedang bermesraan disana” panggil seorang anak perempuan kecil yang jauh lebih pendek dari Appril. Tingginya hanya sebatas pinggang Appril dan dia membawa tas besar yang lebih besar dari tingginya. Rambunya pendek berantakan dengan bandana kunig yang tersemat diantara rambutnya yang berwarna coklat. Matanya biru jernih seperti mata yang pernah dilihat oleh Appril sebelumnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hai, anak manis.. sejak kapan kau ada disini?” sapa Appril yang memang sangat menyukai anak kecil</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Dari tadi. Aku mengikuti kalian sejak kalian berpisah dengan laki-laki besar itu.. dan aku mendengar kalian membicarakan Pohon Harapan” katanya dengan nada ceria</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Pohon Harapan..? Appril berpikir sebentar</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ya! Dan aku akan..” anak perempuan yang belum memperkenalkan diri itu langsung merogoh tasnya yang besar. Ia tidak sadar sudah membuang sebuah gulungan usang berpita merah.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ruuna!!” panggil wanita yang mendekat kearahnya dengan baju gaun hijau zamrud indah rambut pendek coklatnya terurai rapih dan mata birunya bersinar terang karena dsinari cahaya pagi.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ah.. Nea, ya?” sapa Appril cerah dia tidak menyangka akan bertemu Nea lagi.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ou, Appril dan Donna!” balas Nea ramah</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Senang bertemu lagi” kata Appril basa-basi</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya.. apa kau juga bersamanya?” tanya Nea</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Maksudmu Bouras? Ya.. kami bersamanaya. Namun kami pisah tadi ditengah jalan.” Jawab Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ruuna.. kau menawarkan orang barang-barang aneh lagi, ya?!” Nea menggendong Ruuna kepundaknya dan orang-orang yang ada disekeliling Nea nampak tertunduk setap kali Nea melirik kearahnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tidak, ibu.. aku hanya menawarkan mereka peta yang sangat berguna!” ucap Ruuna mengelak. Ia sama sekali tidak bisa mengelak saat Nea mencium keningnya agar ia bisa diam.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tidak baik menjual barang aneh. Kau tau itu ‘kan?” Nea memluk Ruuna manja “Maaf ya kalau anak ini bertingkah atau menawarkan kalian barang-barang aneh. Jangan pernah menganggap barang dagangannya. Barangnya benar-benar teruji aneh” kata Nea tersenyum ramah </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tidak.. anak itu masih belum mengeluarkan apa-apa dari tas besarnya..” kali ini Annisete menanggapi perkataan Nea sambil mengumpatkan gulungan yang tadi tidak sengaja Ruuna jatuhkan dari tasnya dengan jubahnya yang besar.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Oh.. baguslah. Aku permisi dahulu. Senang bertemu dengan kalian” ucap Nea sopan lalu ia berjalan meninggalkan Appril dan Annisete dengan jalannya yang penbuh dengan keanggunannya membuat semua orang yang melihatnya terpana.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ternyata Nea itu bukan hanya jago dalam bertarung saja, ya.” Appril terkesima</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tapi kurasa dia tidak menyukai Bouras dengan alasan tertentu”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kau juga merasa begitu? Aku juga.” kata Appril kemudian sambil memperhatikan Annisete yang membungkuk lalu mengambil gulungan coklat berpita merah dari balik jubahnya. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa tu?” Appril pensaran. Annisete melemparkan gulungan itu ke Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Entahlah. Kalau mau kau buka saja sendiri tanpa melibatkanku” kata Annisete dingin. Appril membuka pita merah yang mengikat digulungan coklat dan membukanya. Sebuah peta dengan garis-garis seperti labirin. Garis putus-putus menunjukan kesebuah arah dimana ada gambar pohon besar ditengahnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">June Annisete.. mungkinkah ini..?” Appril terlihat sangat gembira dengan apa yang dilihatnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">.. Nea bilang, barang yang dijual Ruuna adalah barang aneh ‘kan?” kata Annisete yang terlihat tidak yakin.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Mungkin barang aneh itulah yang membawa kita kesebuah jalan besar kan? Bukan jalan buntu yang tidak berarti!” Appril tiba-tiba sangat bersemangat. Annisete agak tergugah mendengar omongan Appril tadi walaupun ia tidak terlalu tonjolkan dalam mimiknya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Dasar pembuat boneka bodoh. Pemikiran yang pendek” komentar Annisete yang lagi-lagi menusuk hati Appril namun dilain pihak Appril tidak peduli karena Annisete sudah menanggapi omongannya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font size="3"><font face="Times New Roman, serif"><font color="#000000">Bouras sedang menimbang-nimbang kubis yang ada dikedua tangannya. Dia menimbang dengan sangat teliti menimbang kubis mana yang lebih berat saat seorang lelaki bertubuh kecil, lebih tua dengannya dengan baju panjang yang sampai menyapu tanah. Jenggotnya panjang dan rambutnya botak pelontos. Laki-laki itu tidak sendirian, ia bersama wanita yang tidak kalah tua darinya menggunakan tongkat coklat yang rapuh. Mereka tersrnyum ramah kearah Bouras. Mereka saling kenal satu sama lain.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Pagi yang cerah, Bouras.” sapa laki-laki itu</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ah.. Alto..” balas Bouras sambil menunjukan rasa hormatnya dengan membungkukan badanya namun Alto dengan sigap menyuruh Bouras agar bangun</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Sudah 15 tahun ya, Bouras?” nenek itu tersenyum</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ya.. nenek Guma” Bouras memeluk nenek-nenek yang sudah bertulang bongkok itu.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Lho.. Bouras?” Appril tiba-tiba datang dan bingung dengan apa yang dilihatnya. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ah.. Appril.. mari kuperkenalkan. Ini adalah nenek Guma dan ini adalah Alto kepala desa disini”Bouras memperkenalkan secara singkat</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Salam kenal, aku Appril” April membungkukan badan yang berarti memberikah hormat kepada keduanya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Dan gadis dasi suku As ini adalah..” Guma melirik kearah Annisete yang ada disamping Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Oh.. dia adalah Ann..”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Donna. Namaku adalah Donna” Annisete menyela omongan Bouras “Dan tau darimana anda kalau saya adalah suku As?” tanya Annisete tajam</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hanya terlihat dari sorotan matamu dan tentu saja kepangan rambutmu yang khas bergaya suku As” jawab Guma ramah walaupun Annisete bertanya dengan nada yang sangat ketus tetapi Guma nampak tidak peduli dengan nada bicara Annisete.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Guma ini adalah orang kedua yang dihormati disini. Dirumah nenek Guma jugalah.. dulu aku sering menumpang kalau badai datang. Kalian kan tau rumahku bagaimana” Bouras tertawa sedikit</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Iya.. Bouras memang anak ayang paling merepotkan dikota ini” kata Guma sedikit bercanda.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Dan orang yang sangat sulit ditebak apa maunya” tambah Alto lagi iktu dalam pembicaraan. Lalu mereka bertiga membicarakan tentang masa lalu yang tidak dapat ditimbrungi oleh Appril maupun Annisete. Appril hanya bisa ikut mereka bertiga tertawa padahal ia sendri juga bingung apa yang mereka tertawakan sedangkan Annisete hanya memprhataikan mereka berempat dengan tatapan bosan.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Apa kau sudah bertemu dengan Nea, Bouras?” tanya Alto kemudian</font><font face="Symbol, serif"></font><font face="Times New Roman, serif">Bouras tersenyum renyah</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya.. sudah..” jawab Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Aku akan senang jika kalian dapat berteman seperti sedia kala. “<br />
”Tapi nampaknya ia masih belum bisa memaafkanku Karena pilihan yang aku pilih, ya?” Bouras menundukan kepalanya sambil menghela napas panjang. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Kamu seperti tidak tau wanita saja. Bentar lagi juga mereka baikan.” seru Alto berusaha menghibur</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Selama itukah? Hampir selama 15 tahun mereka juga belum bisa memafkan kesalah orang lain?” tanya Bouras seperti anak kecil yang polos.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Jelas bukan selama itu!” sergah Annisete cepat </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Eh..?” Bouras kaget karena tiba-tiba saja Annisete membuka mulutnya setelah ia hanya diam saja dari tadi.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Wanita itu juga akan luluh hatinya kalau kau berusaha” ucap Annisete singkat “Nea tidak memafkanmu karena selama 15 tahun ini kau tidak kembali kesini dan tidak berusaha ‘kan?” tanya Annisete. Bouras benar-benar terkejut mendengar omongan Annisete.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ah.. sudahlah. Masalah Nea tidak usah dibahas disini.” sela Boouas</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya, memang seharusnya tidak usah dibahas lagi, kan?” tiba-tiba Nea yang sedang menggandeng Ruuna muncul. Bouras jelas sangat kaget dan suasana menjadi tidak enak.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Nea..?” Bouras terkejut. Appril dan Annisete tidak mengerti sebenarnya ada apa hubungan antara mereka berdua.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ayah, sekarang sudah saatnya kita pulang ‘kan?” Nea mengabaikan sikap tidak wajar yang ditonjolkan Bouras.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kalian tidak mau..” kata Alto yang belum menyelesaikan kalimatnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tidak. Kami sudah saling kenal dan itu cukup. Akankah kita pulang sekarang, ayah?” nada bicara Nea sedikit memaksa genggaman tangannya ke Ruuna juga sedikt diperkencang.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Baiklah..” Alto menurut “Maafkan aku, Bouras.. sikap keras kepala wanita, kau tau itu.” Alto menepuk pundak Bouras lalu mengikuti Nea yang sudah berjalan duluan didepannya bersama Ruuna. Suasana agak diam</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Wanita itu ribet ya, Bouras?” nenek Guma memecahkan keheningan.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya.. seperti jalan ini” ucap Bouras sebisanya</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Seperti kata gadis As tadi, wanita akan luluh juga kalu kau berusaha” nasihat Guma bijak. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Terimakasih nenek Guma. “Bouras menatap Annisete yang membalas tatapannya acuh tak acuh.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kalau begitu lakukan. Jangan sampai kau menunggu kesempatan kedua yang jarang ada” ucapnya lagi lalu meninggalkan Bouras, Appril, dan Annisete dengan sebuah senyuman hangat. Bouras kembali terdiam.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Akan kuingat selalu kata-kata itu” ucap Bouras lalu nenek Guma memberikan kecupan hangat dikening Bouras dan ia pergi dengan sebuah senyuman.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Wow.. aku tidak mengerti yang terjadi antara kau dan Nea.. tapi yang kulihat secara pasti adalah Nea yang sangat membencimu.” kata Appril ingin tahu “Maaf Bouras kalau aku terlalu kasar” lanjut Appril meminta maaf takut Bouras akan sakit hati mendengar ucapannya. Mereka berjalan menuju pohon rindang yang sepi tidak ada orang. Disana terdapat bangku yang sedang tidak diduduki oleh siapapun.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ya.. memang kau benar, Appril. Nea sangat amat membenciku” kata Bouras terdengar nada kecewa dari suaranya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tapi dibalik itu semua kurasa ada sesuatu diantara kalian dulunya” ucap Annisete</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ahaha.. kalian berdua terlalu pintar..” kata Bouras lagi dan duduk dikursi kosong tersebut dan menaruh barang belanjaanya dibawahnya. Annisete dan Appril duduk mengapitnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Boleh kami dengar ceritanya?” pinta Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ceritanya? Hmm.. ya..Itu adalah cerita 15 tahun yang lalu saat kami masih seumuran kalian” Bouras memulai ceritanya. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Aku dan Nea adalah sahabat. Ya sahabat.. ikatan yang melebihi dari seorang teman..Dari dulu juga aku dan Nea sudah berbeda derajat. Keluargaku hanyalah keluarga yang bertugas untuk melindungi keluarganya dari dulu itu sudah menjadi ketentuan dan takdir kalau keluargaku hanyalah akan menjadi seorang penjaga untuk keluarganya. Tetapi aku adalah orang yang paling lemah diantara semua anggota keluargaku.” cerita Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kau.. adalah yang paling lemah, Bouras?” Appril nampak tidak percaya karena sudah pernah melihat Bouras yang melawan tiga orang penambang emas sekaligus dalam waktu yang bias dibilang singkat.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ya. Aku sama sekali tidak bisa bertarung sama sekali padahal tugas utamaku adalah menjaga Nea sahabatku.” lanjut Bouras mengingat masa lalu.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Lalu?” Appril makin tertarik oleh masa lalu Bouras karena selama tujuh tahun ia mengenal Bouras, ia tidak pernah tau tentang masa lalu Bouras sama sekali karena baginya Bouras hanyalah koki yang biasa saja.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Hmm..yah.. sialnya lagi Nea adalah yang paling ahli dalam bertarung sedesa ini bayangkan bagaimana repotnya aku, Appril. Tidak ada orang yang mengakuiku, bahkan keluargaku sering meremehkanku terutama Glodi tentunya walaupun kutau ia berniat untuk memotivasiku, tetapi caranya termasuk salah.” tambah Bouras raut mukanya sedikit menunjukan kekesalan saat ia menyebut nama Glodi.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tetapi dilain pihak, Nea sangat baik mau mengajariku berbagai macam tehnik bela diri. Aku sering latihan berasamanya dan Nea adalah satu-satunya orang yang kukenal yang mengakui kehadiranku dan itu sangat berarti bagiku yang selalu diremehkan dimana-mana. Lalu, perang antara negri Barat dan Timur terjadi. Saat itu aku masih belum wajib militer sedangkan keluargaku tanpa terkecuali ikut berperang mungkin sudah dianggap negara kalau kami adalah keluarga yang handal dalam bertarung..” ujar Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bagaimana dengan Glodi? Apa dia ikut bertarung juga?” </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“ <font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tentu saja, ia berugas dibarisan paling depan dan mendapat bintang penghargaan semenjak itulah impiannya sedikit demi sedikit mulai tercipta. Beberapa tahun kemudian ia pergi atas izin kepala desa langsung saat itu. Mereka sangat senang akhirnya ada juga orang desa kecil seperti kami yang bisa masuk ke parlemen. Dan tentu saja Glodi akhirnya pergi dan aku.. masih belum bisa berkembang. Aku masih saja menjadi Bouras yang tidak bisa apa-apa.” Bouras menatap awan yang berada diatasnya bergerak-gerak bebas.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Dan pastinya kau sering disbanding-bandingkan bukan begitu?” tanya Annisete yang sepertinya jawabannya sudah diketahui.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Sudah pasti. Apalagi Glodi adalah kakakku yang umurnya hanya beda beberapa tahun. Malas rasanya kalau aku mengingat masa-masa itu. Bahkan kepala desa sempat meragukan kemampuanku dan hendak mencari penjaga yang baru untuk Nea. Tetapi Nea menolak dan berusaha keras meyakinkan ayahnya kalau aku juga sama berbakatnya dengan Glodi.” Kata Bouras lagi</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Pokoknya itulah cerita intinya. Kalian cukup tau sampai disitu saja” Bouras menyudahi ceritanya degan gantung.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Eh..?? Kenapa??” keluh Appril kesal ia tidak percaya akan digantungkan Bouras sampai seperti itu.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya..cukup sampai disitu akupun sudah tau kelanjutannya.” kata Annisete tenang</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kau tau kelanjutannya?” Bouras tidak mengerti degan perkataan Annisete.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Jangan kira aku tidak tau apa-apa tentangmu Bouras.. Benthill sering menceritakanku kisah itu.” jelas Annisete yang seperti tau sesuatu tentang Bouras. Angin menyibakan rambut kepang Annisete dan mukanya menjadi terlihat lebih cerah.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hah.. Benthill, ya? Aku lupa kalau kau adalah anak angkatnya. Aku sungguh naïf.” Bouras tersenyum dan menyisakan sedikit kekecewaan di air mukanya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Bouras…memang seperti apa kelanjutannya?” tanya Appril penasaran</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak kau ketahui, Appril. Semakin dikit kau tau, itu akan semakin baik.” ucap Bouras tenang Appril hanya diam tidak membantah lagi Bagi Appril yang tidak memiliki masalah pribadi sedalam Bouras ia tidak mengerti bagaimana rasanya. Baginya, masalah terbesar dalam hidupnya hanyalah dua tidak lebih. Pertama adalah masalah Lyddite yang ada didalam dirinya dan kedua adalaha masalah masa lalunya. Walaupun ia sama sekali tidak tau menau tentang masa lalunya sedikitpun ia merasa itu akan menjadi masalah nantinys.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font size="3"><font face="Times New Roman, serif"><font color="#000000">Mereka kembali kerumah dengan menggunakan jalan yang lebih lebar namun tetap berliku-liku. Saat sampai didepan pintu, Ruuna sedang menunggu kedatangan mereka didepan pintu.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ng.. aku hanya mengikuti kabur dari ibu yang memaksaku untuk tidur siang.” kata Ruuna malu-malu. Mukanya benar-benar mirip Nea kalau sedang malu dengan rona merah muda diwajahnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ah..” Bouras tidak asing dengan waah yang baru tadi siang ia temui. “Hei, anak manis.. siapa namamu?” Bouras berjongkok agar bisa sejajar dengan Ruuna dan menaruh belanjaannya ditanah tidak menyadari Annisete baru saja melakukan ‘sesuatu’ dengan belanjaannya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ruuna.” jawab Ruuna dengan senang hati lalu tersenyum manis kearah Bouras. Bouras terkejut mendengar namanya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ruuna..?” ulang Bouras tidak percaya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya. Dan hei om besar, aku ingin masuk kerumahmu. Bisa kau buka pintunya? Karena tadi aku keberatan membukanya.” pinta Ruuna manis</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Oh..ya.. pastinya” Bouras membuka pintu kayu didepannya yang baginya sangat ringan. Saat masuk, Ruuna langsung menyerbu meja yang terdapat vas bunga didepan jendela yang belum diperhatikan Bouras sebelumnya kalau saja Ruuna tidak langsung menyerbu meja itu. Bunga yang berwarna ungu segar mengingatkan Bouras akan masa lalunya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hei, anak kecil. Kenapa kau tidak asing dengan jalan kesini? Bukannya jalan dikota inii sangat berliku-liku?” tanya Appril sambil mendekati Ruuna yang sedang duduk dimeja tersebut.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Haha.. aku hanya tau saja.” jawab Ruuna seadanya seperti ia sedang menyembunyikan sesuatu. Appril tidak mempermasalahkannya. Ia duduk dan mengambil bahan membuat boneka yang ia simpan disela-sela tas perlengkapan tidur yang ia bawa. Appril ingin melanjutkan boneka replica Bouras yang masih belum selesai sepenuhnya. Ia membuat boneka Bouras yang sedang memegang mampan dan mengenakan seragam koki yang dulu Appril sering lihat. Appril memulai pekerjaannya dengan memasuki benang kejarum ia tidak sadar kalau Ruuna dan Annisete yang diam-diam memperhatikan.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kakak sedang bikin apa?” Ruuna penasaran dan duduk disamping Appril dengan tatapan yang sama saat Doris memperhatikannya ditaman kota Vyune.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Mm.. boneka” jawab Appril tidak mengalihkan pandangannya dari benangnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Orang-orang Casuarina membuat boneka replika untuk mengenag orang yang pernah tinggal dihati seseorang untuk waktu yang lama. Mereka membuat boneka itu dengan tujuan agar mereka selalu ingat dengan orang-orang itu.” cerita Ruuna tanpa diminta namun Appril senang mendengarnya membuat ia mendapatkan suatu ide bagus.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa kau sedang membuatku, Appril?” Bouras ikut memperhatikan Appril juga.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Mmm.. ya, mungkin.” kata Appril setengah-setengah sambil tersenyum penuh kerahasiaan.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Terserah..” Bouras membuka barang belanjaannya lagi mengecek untuk terakhir kalinya. “Ah.. kenapa aku sampai lupa untuk membeli paprika? Huh.. aku harus balik kesana lagi..” keluh Bouras kesal.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ada yang bisa kami Bantu, Bouras?” tanya Appril tanpa ragu.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kami..?” Annisete menekankan nada suaranya pada kalimat ‘kami’ yang tadi diucapkan oleh Appril.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ah.. ya.. ‘aku’ “ Appril membetulkan</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tidak..tidak usah susah-susah. Aku bisa membelinya sendiri. Kalian disini saja bersantai-santailah.” ucap Bouras sambil melangkah kearah pintu lalu pergi. Suasana menjadi henig saat Bouras pergi tidak ada yang bicara saat Bouras keluar. Sebuah paprika merah bergelinding dari balik jubah Annisete. Appril melihatnya kaget.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hei, kau..” Appril kaget</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku hanya memanfaatkan kesempatan kecil saat anak kecil ini muncul.” bela Annisete</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa maksudmu kau mengambil paprika Bouras?” tanya Appril dengan nada sddikit kesal karene merasa kasihan dengan Bouras yang harus berjalan jauh dari rumahnya ke pasar.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kita butuh waktu pribadi untuk bercakap-cakap dengan anak keil inii, mengerti?” balas Annisete seasaat Appril sadar kalau Ruuna telah menjatuhkan gulungan coklat tadi siang saat mereka bertemu.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hei, anak kecil apa gulungan peta yang kau jatuhkan tadi itu benar menuju ke Pohon Harapan?” tanya Annisete tanpa sedikit nada perhatian dalam bicaranya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tentu saja!” jawab Ruuna yakin</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bagaimana kami bisa mempercayaimu?” Annisete makin tidak berperasaan. Ia menatap Ruuna tanpa emosi sedikitpun dimatanya. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Hei.. hei.. bukan begitu caranya bicara dengan anak seumuran dia!” Appril merangkul Ruuna yang nampaknya ketakutan berbicara dengan Annisete</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa? Bukannya itu sama saja?” Annisete tidak mengerti.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hg..kau itu tidak melihat wajah takut dimuka Ruuna apa?”Appril menunjuk wajah Ruuna yang tertenduk lalu ia menghampirinya dan membelai kepala Ruuna hangat.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Sudah.sudah.. dia memang nenek sihir yang aneh dan jahat.. jangan dipikirkan” Appril menenangkan namun membuat Annisete harus mengeluarkan api dari tangannya dan membakar ujung jubah Appril yang berwarna kuning.Appril merasa ada yang panas dibelakangnya, ia berteriak saat ia melihat api. “AAAAA!!!!” Appril panik, namun Ruuna yang ada didepannya langsung mengarahkan tangannya dan mengeluarkan air untuk memadamkan api yang membakar jubah Appril.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Terimakasih, Ruuna..” Appril benar-benar ketakutan setengah mati, ternyata Annisete benar-benar ingin membunuhnya tidak ada keraguan lagi didirinya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Begini, aku mendapatkan peta itu..aku mencurinya dari gudang kakek. Karena yang membangun desa ini adalah keturunan dari keluargaku, jadi aku dapat dengan mudah mendapatkannya.” jawab Ruuna yakin</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Wah.. wah.. keluargamu nampaknya bear-benar orang penting di desa ini, ya?” komentar Appril tidak penting.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tentu saja. Jadi kepala desa disini susah, lho. Kau tidak akan bisa mati sebelum ada keturunan lelaki yang menjadi penerus.” jelas Ruuna</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tidak akan mati? Aku tidak membayangkannya.” komentar Appril lagi tidak penting.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Lalu kapan kita bisa kesana?” tanya Annisete langsung</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Terserah kalian. Aku selalu bisa kapan saja yang kalian mau” kata Ruuna sambil merogoh tasnya yang melebihi besar badannya dan mengeluarkan gulungan coklat berpita merah lagi.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Malam ini” seru Annisete</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ba..ik.” Ruuna menyetujui</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tunggu sebentar.. apa Bouras kita beritau?” sela Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa kau pikir orang yang tidak mengizinkan kita untuk keluar dari sini hanya untuk membeli paprika akan membolehkan untuk pergi ke jalan yang tidak akan menemukan ujung?” kata Annisete panjang lebar. Appril diam, omongan Annisete benar juga.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Jadi malam ini?” Ruuna memastikan</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya. Apa itu masalah bagi anak kecil sepertimu?” tanya Annisete dingin.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Uh.. tidak! Jam 7 biasanya desa sudah agak sepi. Kita bertemu di pusat kota jam 7. Ini peta untuk meuju pusat kota.” Ruuna memberikan gulungan itu ke Appril yang segera menyimpan gulungan itu disaku jaketnya yang ditutupi dengan jubah kuningnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kalau begitu aku pergi dulu!” Ruuna membereskan tasnya “Sampai jumpa!” Ruuna membuka pintu dan kembali menutupnya kembali.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Lho..? Sejak kapan anak itu kuat untuk membuka dan menutup pintu? Bukannya tadi tidak bisa..?” Appril bingung sendiri.</font></font></font></p>
<p align="center" style="margin-bottom:0;">&nbsp;</p>
<p align="center" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif"><font size="3">*</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Malam harinya, Appril dan Annisete harus menunggu Bouras untuk tidur. Tidak lama untuk menunggu Bouras tidur karena setelah makan malam ia langsung tidur terlelap dan mendengkur sangat berisik. Appril dan Annisete tidak menyia-nyiakan waktu karena ia sudah terlambat lima belas menit dari janji petemuan mereka dengan Ruuna dipusat kota.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font size="3"><font face="Times New Roman, serif"><font color="#000000">Mereka berjalan dengan langkah kaki yang besar dan cepat diantara gang-gang sempit yang hanya diterangi cahaya bulan sabit. Mereka terus berjalan mengikuti arah yang ditunjuki peta yang diberikan Ruuna. Mereka tiba dujung gang dan terlihat cahaya lampu dengan hamparan rumput yang hijau. Dibawah tiang lampu berdirilah Ruuna dengan tas besarnya. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kalian telat bermenit-menit!” tegur Ruuna kesal</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya.. ya.. kami tau..maaf, ya?” Appril memohon maaf.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Baiklah. Waktu kalian tidak banyak karena aku merasa sangat ngantuk! Ayo cepat” seru Ruuna semangat walau matanya terlihat sangat lelah seperti kurang tidur.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Baiklah..” Appril menurut begitu juga dengan Annisete yang mengikuti mereka dari belang. Ruuna menyusuri sungai yang membelah pusat kota membagi dua itu dan terus menyusuri sungai yang seperti tidak ada ujungnya itu sampai akhirnya mereka sampai disebuah papan yang bertuliskan</font><font face="GreekS"> </font><font face="Times New Roman, serif">‘</font><font face="Symeteo">keep away!</font><font face="Syastro">’</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa itu tulisannya” tanya Appril yang tidak mengerti dengan tulisan yang ada dipapan tersebut.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku tidak tau..Tapi yang jelas..”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Itu bertuliskan, menjauhlah!” jelas Annisete tiba-tiba</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Darimana kau tau? Itu kan tulisan dari suku As. Mereka dulu yang membuat hutan pelindung ini karena dulu mereka ikut andil dalam pembuatan desa ini” tanya Ruuna </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tak perlu kujawab.Sepertinya hutan ini terlarang, ya?” Annisete balik bertanya</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Mm.. ya.. karena pohon itu sangat penting bagi desa ini, maka dari itu daerah yang menuju pohon itu dijaga oleh makhluk-makhluk aneh.” jawab Ruuna</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">‘<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">jalan menuju pohon dan gedung itu benar-benar dibuat agar kau tidak bisa kembali maupun sampai ketempat itu’ Appril jadi teringat kata-kata Bouras kali ini perkataan itu dapat dimengerti oleh Appril.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Kurasa kau mengantar kami cukup sampai disini saja. Kami sudah bisa untuk selanjutnya. Sudah ada peta untuk menunjuki jalan yang tidak sengaja kau jatuhkan tadi pagi” kata Annisete dingin. Ruuna mengernyitkan dahinya lalu ia cemberut tanda tidak setuju.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tidak mau!” tolak Ruuna</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tentu saja kau harus mau. Karena kami sudah tidak membutuhkan kamu lagi” ucap Annisete perlahan-lahan.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Annisete!” bentak Appril tidak yang tidak tahan dengan sikap Annisete ke Ruuna.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Annisete?” Ruuna bingung karena setahunya nama Annisete adalah Donna </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya.. nama gadis in sebenarnya adalah Annisete. Dan kurasa kalau ada orang yang tidak berhak untuk ikut memasuki hutan ini adalah dia!” Appril kesal. Untuk pertamakalinya ia dapat membentak Annisete dengan tatapan tajam. Annisete diam</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Terserah. Kalau kau pergi tanpa aku. Tapi kurasa kalian tidak akan berhasil. Pembuat boneke bodoh dan gadis mencurigakan yang hanya bisa mengeluarkan air kurasa kau tidak akan berhasil.” ujar Annisete tajam</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kami akan berhasil. Aku bisa mengeluarkan api sepertimu kau ingat?” Appril tidak mau kalah.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Terserah!” balas Annisete dengan nada yang lebih tinggi dan tatapa yang lebih menyeramkan lagi. Suasana diam, Appril tidak berani membentak Annisete lebih jauh lagi.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tapi ada yang perlu kuingatkan padamu. Apa Ruuna tidak terlalu mencurigakan bagimu? Dia tiba-tiba datang didepan kita sambil memberikan gulungan peta itu yang terlihat tidak sengaja dijatuhkan padahal kutau dia sengaja menjatuhkannya. Lalu kau ingat dia bilang apa? ‘Dari tadi. Aku mengikuti kalian sejak kalian berpisah dengan laki-laki besar itu.. dan aku mendengar kalian membicarakan Pohon Harapan’ apa bagimu tidak aneh? Dari sekian banyak orang yang ada didesa ini kurasa bukan hanya kita yang penasaran dengan Pohon Harapan. Dan dia mengikuti kita” jelas Annisete</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ah..” Appril teringat kejadian tadi pagi dan melihat Ruuna hanya menunduk</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Dan satu lagi. Saat kita pulang dai pusatr kota, kita melihat Ruuna yang seperti menunggu kedatangan kita. Tetapi saat masuk kedalam rumah, ia langsung menuju meja yang terdapat vas bunga itu seperti ia sudah pernah melihat isi rumah kosong itu sebelumnya. Dan saat ia pulang, Ruuna bisa buka pintunya dengan mudah ‘kan?” tambah Annisete lagi dan sangat masuk akal. Appril jadi bingung harus memilih Annisete atau Ruuna yang terus menunduk sepanjang Annisete menjelaskan.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kau harus ingat Appril kita siapa. Banyak orang yang menginginkan kita dan mendapatkan kita bagaimanapun caranya. Jadi disaat seperti ini, kurasa lebih baik kau tidak percaya siapapun kecuali dirimu sendiri” lanjut Annisete lagi dengan nada serius</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Aku memang mengikuti kalian dari awal, aku juga sebenarnya sudah pernah melihat isi rumah paman gendut itu sebelumnya, sering malah.” kata Ruuna lemah.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bouras sedang bermimpi indah saat seseorang mengetuk pintunya. Ketukan itu sangat keras sampai akhirnya orang yang mengetuk pintu itu membuka pintunya dan membangunkan Bouras yang sedan tertidur. Sosok yang mengenakan tudung hijau zamrud yang pernah dilihat Bouras sebelumnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Nea..?”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku sedang ada masalah serius. Dan kurasa kau bisa membantuku.” ujarnya terengah-engah</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ap..a? Ini ‘kan sudah malam dan lagi setelah seharian kau tidak mengganggapku, kenapa tiba-tiba kau mau repot-repot membangunkanku?” tanya Bouras dengan mata setengah terpejam</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Itu tidak menjadi masalah sekarang. Yang sekarang menjadi masalah adalah hilangnya gulungan peta menuju Pohon Harapan bersamaan dengan hilangnya Ruuna dan anka-anak yang kau bawa” kata Nea menjelaskan dengan cepat-cepat.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ap.. Huh?!” Bouras tidak percaya dengan omongan Nea</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Kita harus mencari mereka Bouras,──sekarang” kata Nea lagi mukanya terlihat pucat dan letih karena dia harus berlari menyusuri lorong-lorong kecil untuk sampai ketempat Bouras sedangkan saat ia sampai dirumah Bouras, Bouras masih kebingungan dengan apa yang terjadi.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Seluruh desa sekarang sedang disibukan karena Ruuna menghilang bersamaan dengan gulungan itu jadi kita tidak bisa tinggal diam disini saja. Cepatlah..” Nea mulai panik.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tapi.. kenapa aku?”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kenapa kau? Tentu saja karena tadi pagi aku melihat Ruuna sedang ingin menawarkan barang aneh kepada Donna dan Appril. Kau tidak usah terlalu banyak bertanya lagi. Cepatlah!” Nea makin tidak sabar dengan kebodohan Bouras.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Baiklah..” Bouras mau tidak mau menuruti perkataan Nea dan lagi ia juga punya tugas untuk melindungi Appril dan Annisete.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Appril, Annisete dan Ruuna akhirnya memasuki hutan lebat dan gelap itu setelah mendengar penjelasan Ruuna yang panjang dan mereka tidak boleh membuang waktu untuk mendengar penjelasan lagi. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Katanya ada mahluk aneh.. tapi dari tadi yang kulihat hanyalah pohon, pohon, dan pohon lalu pohon besar.” komentar Appril saat ia bilang pohon besar pohon besar tua yang berada didepannya seperti bergerak. Lalu lubang yang ada dibatang pohon besar itu terbuka lebar dan seperti menyedot apa yang ada didepannya. Dan pohon besar itu bergerak seperti gerakan bersin. Ya, pohon itu memang sedang bersin kejadian yang tidak pernah dilihat Appil, Annisete maupun Ruuna.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Suku As memang terkenal karena bisa bisa membuat sesuatu dari alam dulu.. Tapi tak kusangka kalau mereka menciptakan mahluk seaneh seperti ini..” Ruuna ketakutan karena pohon itu bergerak mengibaskan dahannya kekanan dan kekiri seperti hendak menyapu apapun yang ada disekitarnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku.. bukan mahluk aneh bocah tengik..” pohon itu bisa bicara. Mereka bertiga serentak mundur beberapa langkah menjauh dari pohon yang bisa bicara itu.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kenapa.. pp..pohon itu bisa bi..cara..?” Ruuna benar-benar ketakutan walaupun ada sedikit dari bagian hatinya yang merasa kesal karena dibilang ‘bocah tengik’.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tentu saja aku bisa bocah ingusan..” jawab pohon tua itu. Nada suaranya seperti kakek-kakek tua renta</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Walaah.. pohon ini benar-benar mirip kamu ya, Annisete? Suka memanggil orang dengan sebutan yang aneh-aneh” kata Appril setengah tertawa</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Diam kau pembuat boneka!” bentak Annisete yang tidak menunjukan rasa takutnya sedikitpun kepada Ruuna dan Appril walaupun sebenanrnya jantungnya berdebar keras saat ini.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa maumu?” tanya Annisete dengan nada menantang</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Oho! Oho! Pertanyaan yang bagus gadis manis..” kata pohon </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">‘<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Gadis manis? Sepertinya pohon ini tidak tau sama sekali kalau Annisete memiliki sense killer yang menyeramkan..’ pekik Appril dalam hati</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Jadi?” tanya Annisete lagi</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Persembahan.. kalau kalian ingin melewati jalan ini, kalian harus memberikan aku sesuatu. Atau kalian tidak akan selamat melewati jalan ini” ucapnya memmberikan syarat</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Sesuatu?” Appril berpikir sebentar lalu ia melihat sesuatu di Annisete dan Appril terus memperhatikannya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa?” Annisete merasa risih diperhatikan Appril seperti itu. Appril tidak memperdulikannya, ia berjalan menuju Annisete dan mengambil sesuatu dikepalanya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ini tadi ada dikepalamu” Appril mengambil seekor kupu-kupu berwarna biru keungu-unguan dikepala Annisete. Yukyu yang ada disamping Appril berciap-ciap ketakutan. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Akh!” Annisete tidak mampu menahan teriakannya. Appril kaget mendengarnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kena..pa?” Appril bingung</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Cepat jauhkan serangga itu dariku!” perintah Annisete jijik. Appril memperhatikan kupu-kupu malang yang hinggap dikepala Annisete lalu ia mendekatkan kupu-kupu itu ke Annisete menurut Appril, ada kesamaan antara kupu-kupu itu dengan Annisete yaitu mimiknya menunjukan ketakutan yang amat sangat saat mereka didekatkan.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Sudah kuduga.. tampangnya memang menyeramkan ‘kan?” Appril mengelus-elus kepala kupu-kupu itu perlahan. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Baiklah! Hei pohon tua, ini kujadikan sesuatu untuk dipersembahkan!” ucap Appril tanpa dosa sambil memamerkan kupu-kupu itu kearah Annisete.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Oho! Oho! Oho!” pohon itu tertawa dengan nada yang menyeramkan</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa yang lucu? Aku kira sesuatu itu bisa apa saja” kata Appril bingung.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tentu saja bukan itu pembuat boneka bodoh!”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Hei! Jangan panggil aku seperti Annisete memanggilku!” teriak Appril kesal karena sekarang bukan hanya Annisete yang memanggilnya dengan sebutan ‘pembut boneka bodoh’ tetapi pohon aneh tua yang bisa bicaara juga memanggilnya seperti itu.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Yang kumaksud dengan sesuatu adalah diantara kalian bertiga yang menjadi persembahan untuk ku”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Oh, ya? Aku bisa menari dan membuat boneka didepanmu kalau kau mau” ucap Appril dengan bodoh</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bukan itu bodoh! Yang dia maksud adalah nyawa. Nyawa diantara kita bertiga” ucap Annisete pelan. Lalu pohon itu tersenyum licik</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku suka daging segar.. terutama gadis cantik.. tapi diantara kalian berdua tidak ada yang masuk dalam kriteriaku..” ucapnya lalu Appril tertawa terbahak-bahak karena pastinya maksud dari pohon itu adal Annisete dan Ruuna. Mereka berdua menatap sinis kearah Appril.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tapi ada satu orang.” ujarnya tiba-tiba. Batang pohon tiba-tiba mengikat tubuh Appril degan keras sehingga Appril sesak.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kau sungguh cantik..” kata pohon itu mengkat badan Appril sngat keras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">He.. aku ini cowok, lho.” kata Appril sambil berusaha melepaskan jeratan pohon itu.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku tidak peduli. Kurasa diantara klaian kaulah yang paling cantik.. dan kau akan menjadi persembahanku!!!” batang pohon menarik Appril menuju lubang besar mulut pohon tua itu. Appril hampir saja tertarik kedalamnya kalu saja Annisete dengan tiba-tiba menyemburkan api dari mulutnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Maaf saja, tapi dia hanya boleh mati ditanganku.” kata Annisete dingin. Appril terlempar karena batang pphonitu melempanya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ruuna kau tau harus berjalan kearah manaa?” tanya Annisete sambil ancang-ancang untuk menyerang lagi.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tau.. kurasa..” Ruuna memperhatikan petanya </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Pembuat boneka, cepat bangun! Bantu aku melawannya.” ujar Annisete. Appril mengikutinya, ia bangun dan bersiap-siap.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Baiklah.” Appril memjamkan matanya berkonsentrasi agar ia bisa mengeluarkan api. Saat Annisete hendak menyerang dahan pohon yang yang ingin mencengkramnya, Appril sudah ter;ebih dahulu bisa mematahkan serangan dahan itu dengan api yang keluar dari tangannya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Sudah kubilang kan kalua aku bisa mengeluarkan api!” ujar Appril bangga.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tidak secepat itu dua orang ceroboh..” pohon itu bergerak, akar-ala dari pohon keluar tanh yanng ada disekitarnya hancur dan menimbulkan guncangan karena pohon itu keluar dari tanah dan memburu Appril dan Annisete semakin menjadi-jadi. Ia memukul Appril dengan dahannya yang paling besar, Appril menghndar merunduk lalu ia eloncat kembali karena akar pohon itu bisa menyerangnya juga.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Annisete sendang meloncat kesana kemari karena ranting-ranting pohon itu berubah menjadi bercabang-cabang untuk mencengkramnya. Annisete mengeluarkan semburan api dari kedua tangannya dan membakar ranting-ranting pohon itu dengan gmpangnya. Ruuna yang sendirian hanya menyaksikan pertarungan itu tidak sadar kalu dari belakang ada sebuah dahan pohon yang hendak mencengkramnya. Appril segera bergegas membakar dahan tersebut dan menggendong Ruuna ketempat yang aman.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Pohon itu benar-benar membuat gila!” kata Appril. Lalu menyerang pohon itu lagi dari berbagai arah. Cabang pohon itu makin banyak, Appril dan Annisete benar-benar kualahan. Pohon itu mengeluarkan bermacam-macam serangga dari mulutnya membuat Annisete menjadi lepas kendali mengeluarkan api dari tangannya dan membakar hangus serangga yang berterbangan. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kau benar-benar salah memilih orang kalu kau hendak membuat orang marah!” ucap Annisete lalu ia mengulurkan tangannya kearah mulut pohon itu. Appril baru menyadari kalau Annisete dipenuhi oleh perban disekujur tubuhnya bahkan dibagian leher yang jarang dilihatnya pun dililit oleh perban.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Oh, ya?” pohon itu tidak tau apa yang akan diperbuat Annisete. Ia mengeluarkan bola api dari tangan kanannya bola api yang sangat besar cukup untuk menghancurkan satu pohon besar seperti pohon itu. Annisete mengarahkan bola api itu kearah mulut pohon yang bisa bicara, lalu tidak lama kemudian pohon itu hancur menjadi abu seketika. Asap dari pohon itu berbentuk huruf A besar. Appril tidak mengerti apa maksud dari asap tersebut.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Wuw.. “ Appril terkagum-kagum “Kenapa tidak dari tadi, siih?!” tanya Appril kesal karena sebenarnya Anniste dapat menghancurkan pohon itu dari tadi tidak perlu repot-repot untuk menghindar dari pohon aneh itu. Annisete diam tidak menanggapi omongan Appril, ia lebih memperhatikan telapak tangannya. Appril mendekatinya dan mengulurkan kedua tangannya. Sebuha cahaya hangat keluar dari tangannya walaupun Appril tidak menyentuh tangan Annisete. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Kau sudah menyerap wyvern Maid yang dulu menolongmu.” ucap Annisete teringat akan Maid</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Sudah.. yang penting ‘kan sembuh.. ayo jalan!” kata Appril yang melihat Ruuna sudah siap untuk melanjutkan peerjalanan. Mereka kembali berjalan menyusuri hutan dengan Ruuna yang berjalan paling depan melihat peta usang berwana coklat. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kini aku tau kenapa kau tidak mencari Pohon Harapan padahal kau punya peta itu. Pastinya kauakan repo nantiny saat melawan pohon seperti tadi, kan?” kata Appril namun Ruuna sedang sibuk membaca peta tersebut.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Pohon tadi bukan hanya satu-satunya penghuni hutan ini. Masih banyak mwhluk aneh yang melindungi Pohon Harapam dan gedung tersebut dari sentuhan orang lain” jawab Ruuna</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Dilain pihak, Bouras sedang menyusuri sungai dipusat kota saat melihat asap berbentuk A. Bouras segera tau kalau itu pastinya asap yang dibuat oleh Annisete.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ayo, kita kesana Nea.” Bouras segera masuk kedalam hutan mengikuti arah dari asap yang dibuat Annisete.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Oh.. ini benar-benar mengingatkan kita dulu.” kata Bouras saat mereka menyusuri hutan mengikuti arah dari asap Annisete.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tapi kau meniggalkanku.”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Percayalah Nea, aku meninggalkan Casuarina karena kau. ingat? ‘Jangan menyerah untuk bisa menjadi kuat’! Aku pergi karena alasan itu!” </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Selama itukah? Selama 15 tahun? Apa selama itu kau tidak bisa mengirim satu kabarpun sehingga hari ini kau tiba-tiba muncul dengan 2 anak!” kata Nea kesal</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Sepertinya kau salah mengerti, ya? Mereka bukan anakku!” Bouras sedikit tertawa mendengar perkataan polos Nea.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Lalu?”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Banyak yang tidak kau ketahui selama 15 tahun ini.. Aku mengalami banyak peristiwa yang tidak bisa kuceritakan padamu”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kenapa? Apa kau tidak mempercayaiku lagi?” mereka melewati lobang hitam dengan bekas api disisinya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bukan.. hanya saja kau tidak akan mengerti.” ujar Bouras mencoba membela diri</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tidak mengerti? Tidak mengertimu bagaimana? Bouras.. siapa orang yang paling mengerti dirimu saat orang-orang disekitar merendahkanmu? Aku!” nada bicara Nea meninggi</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hanya saja kali ini tidak, Nea.. tidak kali ini” ujar Bouras memberhentikan langkahnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ah.. perjalan ini terlalu paannnjjjaannngg…” keluh Appril </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hei, Ruuna sebenarnya apa isi dari gedung itu?” tanya Annisete</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Gedung itu.. Entahlah.. Kakek tak pernah menceritakan kalupun aku bertanya, ia hanya akan bilang kalau lebih baik aku tidaktau. Aku selalu menuruti kata kakek, jadi aku tidak pernah mencari tau. Tapi yang kuingat, kalau ingin masuk kesan akau harus membawa seruling. Itu kata kakek dan sekarangpun aku membawanya.” jawab Ruuna jelas</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kau selalu menuruti kata kakekmu, tapi tidak yang ini, kenapa?” tanya Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Karena Pohon Harapan adalah cita-citaku. Aku benar-benar ingin bertanya kepada pohon itu.” Ruuna menuju kearah semak-semak yang penuh dengan tanaan liar, Annisete membakar habis semak-semak tersebut dan mereka melihat taman yang luas menuju gedung berwrna putih dengan pohon yang bersinar diatapnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa.. kita sudah sampai?” Appril menghela napas kegirangan</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Belum!” ucap Ruuna cepat-cepat</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa maksudmu?” Appril tidak mengerti</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Karena kita belum memasuki gedung yang penuh dengan misteri itu.” kata Ruuna. Lalu Appril diam sambil mengikuti Ruuna yang berada diddepanmemimpin jalan. Pintu berwarna putih yang berbentuk setengah lingkaran besar dengan dua ketukan berbentuksinga tidak terlihat bersahabat. Appril dan Annisetelah yang membuka pintu tersebut saat dibuka terlihat gelap didalamnya, lalu mata berwana merah bersinar dari balik kegelapan. Dan sedikit kemudian segerombolan kelelawar dengan taring yang menyeramkan keluar berhamburan melewati pintu. Appril segera melindungi Ruuna dengan jubahnya agar tidak tergigit kelelawar namun kelelawar itu terbang mengitari mereka. Mereka meyerang Appril, Annisete dan Ruuna dengan gigitan. Mereka bertiga terdesak, Annisete tidak bisa mengeluarkan apinya begitu juga dengan Appril yang tidak bisa berbuat apa-apa karena harus melindungi Ruuna. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ukh.. sekawan kelelawar ini benar-benar menyusahkan..” pekik Appril. Ruuna yang berada didekapannya tiba-tiba melepaskan diri, ia berlari agak menjauh dari Appril dan Annisete sambil meniupkan seruling dan kaeelawar-kelelawar itu mengikuti suara seruling Ruuna dan hendak menyerang Ruuna namun dengan cepat Ruuna menyemburkan air dan menghembuskan angin dari mulutnya sehingga kelelawar itu semuanya beku. Namun Ruuna meninggalkan satu kelelawar yang masih hidup dibelakangnya, Annisete yang melihat itu langusung mengeluarkan api dari tangannya dan membakar hangus kelelawar tersebut.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Makasih” ucap Ruuna</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bagaimna bisa..? Kenapa kalelawar itu..”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Mengikuti seruling ku? Karena kalelawar hanya tertarik pada suara nyaring. Itu saja” kata Ruuna dan mereka masuk kedalam gedung gelap tersebut. Keadaannya sangat gelap, merka bertiga seperti orang buta. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Uh.. tidak bisa melihat.. andaikan ada wyvern ibu..” kata Ruuna</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">‘<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ah.. iya.. benar juga..’ Appril jadi teringat saat itu Nea bisa mengeluarkan cahay dari tangannya. Lalu sesaat kemudian Appril bisa mengeluarkan cahay dari tangannya dan menerangi lorong panjang didepannya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kau bisa..” Ruuna terkagum-kagum</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Sudag jangan komentar. Tunjukan jalannya” Appril tersenyum</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">B.. baiklah” Ruuna kembali memperhatikan peta walaupun sekali-kali ia menatap kagum kearah Appril. Dikejauhan merka mendengar suara kaki melangkah yang makin lama makin mendekat. Pintu dibelakang mereka tiba-tiba menjeblak tertutup.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Oh.. tidak.. ini seperti film horor yang sering kutonton..” cicit Appril sambil berusaha berani dengan berada dibarisan paling depan</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Berharap saja kalu ini beda” ucap Annisete yang berjaga-jaga dari belakang. Suara itu terdengar dari arah depan dan sudah makin dekat. Cahaya ditangan Appril meredup. Ruuna berteriak dan spontan Appril berteriak dan cahaya yang ada ditangannya bersinar kembali. Suara langkah kaki itu berhenti namun kaki itu menginjak sepatu boot Appril dan Appril bisa melihat dengan jelas apa yang ada didepannya karena ‘sesuatu’ itu tepat berada didedapan wajahnya. Seorang mumi dengan muka yang menyeramkan. Seluruh tubuhnya dibalut oleh perban dan hanya terlihat sebelah matanya yang berwana merah. Ia berbau busuk yang membuat Appril ingin muntah tetapi sebelum itu Appril menjerit tiada habisnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Cih! Manusia bodoh lagi, ya?” mumi itu bisa bicara</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Lagi?” hanya Annisetelah yang bisa berkomentar sementara Appril menjerit dan berlindung dibalik Annisete. Ruuna berdiri disamping Annisete sambil menggenggam tangan Annisete keras.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku tidak tertarik dengan manusia bodoh..”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kalau begitu biarkan kami lewat bisa ‘kan?” tanya Annisete dingin. Mumi tersebut menghindar dari jalan dan membiarkan Annisete lewat. Appril tidak sengaja mematikan cahaya dari tangannya saking takutnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Cahaya, pembuat boneka!” bentak Annisete keras. Appril segera menyalakan cahaya dari tangannya lagi dan saat ia melihat kesamping mumi itu sudah bergelayutan dibahunya. Yukyu yang tadinya berada dibahu Appril langsung terbang kebahu Annisete.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Akh!!! Pergi kau!” teriak Appril kesal dan mumi itu jatuh dan tidak mengikuti mereka lagi.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Gedung ini benar-benar menyeramkan! Lebih baik kita cepat-cepat meatas..Itu ada tangga! Kita naik ‘kan?” ucap Appril girang belum Ruuna memberi jawaban Appril sudah berlari kearah tangga tersebut tetapi saat ia mencoba menaiki tangga tersebut, tangga itu berubah menjadi sangat licin dan membuat Appril jatuh dengan tulang belakang menyentuh lantai terlebih dahlu. Appril kesakita.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Bukan yang itu.. tapi yang satunya lagi.” kata Ruuna sambil menunjuk tangga yang ada disamping tangga Appril. Arah dari tangganyapun berbeda dari arah tangga yang hendak dinaiki Appril. Merka menaiki tangga yang melingkar panjang. Entah sudah berapa lama mereka menaiki tangga namun tidak sampai-sampai.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Cappeekk..” keluh Appril yang sudah kelelahan “Padahal dari luar gedung ini rasanya tidak setinggi tangga ini..” tambah Appril sambil menapakan kakinya ke anak tangga satu lagi. Ia sudah tertinggal beberapa anak tangga dari Annisete dan Ruuna. Annisete meperhatikan apa yang ada dibelakan Appril, ia cepat-cepat menggendong Ruuna dan berlari dengan cepat menaiki anak tangga.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Hei, tunggu.. apa-apaan ini?” tanya Appril bingung yang tidak menyadari apa yang ada diobelakangnya. Appril menengok kebelakang dan ia melihat segerombolan kelelawar, mumi yang tadi mengganggunya dan mahluk-mahluk aneh seperti ksatria perang yang membawa kepalanya yang putus, seorang kakek berwajah tirus yang memiliki tangan seperti laba-ba begitu juga dengan jalannya, dan banyak mahluk aneh lainnya yang sebelumnya Appril tidak pernah lihat. Appril menjerit ketakutan sambil berlari menaiki anak tangga seketika ia sudah lupa dengan kelelahannya, ia terus belari mengkuti Annisete didepannya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Buka pintunya!” pekik Ruuna yang sedang digendong oleh Annisete. Annisete mencoba membuka pintu namun tidak bisa. Pintu itu seperti dikunci.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tidak bisa” kata Annisete pelan. Appril yang sedang berlari ketakutan tidak bisa berhenti untuk berlari, ia menabrak pintu itu dengan pundak kirinya dan sedikit dorongan dari Annisete pintu itu terbuka. Annisete buru-buru menutup pintu itu kembali agar mahluk-mahluk aneh itu tidak bisa masuk. Mereka sudah berada diatap gedung aneh itu. Dan Pohon Harapan yang memancarkan cahay sudah berada didepan mata mereka.──mereka terdiam.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Annisete</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tentu saja menanyakan pertanyaan kita, ‘kan?” jawab Appril sambil mendekat kearah Pohon Harapan diikuti Ruuna dibelakangnya. Pohon Harapan tu memancarkan sinar yang hangat seperti sinar yang dapat menyembuhkan yang dimiliki Maid tetapi kali ini rasanya berbeda. Membuat tenang seperti tanpa beban apapun. Annisete berjaga didepan pintu tidak mengikuti Appril dan Ruuna yang mendekat kearah Pohon Harapan.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Oh.. manusia lagi..” Pohoon Harapan bergerak</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Lagi? Seperti kata mumi tadi.” balas Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Sudahlah.. kita tidak bisa berbasa-basi ‘kan?” Phon Harapan menggugurkan beberapa daunnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya! Kami berdua punya pertanyaan!” ujar Appril dan Ruuna berbarengan</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Asal pertanyaan kalian sama.” ujar Pohon Harapan</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Heh.. apa maksudnya?” Ruuna tidak mengerti begitu juga dengan Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Aku Pohon Harapan. Dapat memberikan manusia harapan dari pertanyaannya, aku dapat memberikan harapan karena aku mengumpulkan harapan manusia dari dalam tanah..Tapi jangan kira aku bisa memberikan harapan dengan cara yang mudah.. aku harus menunggu 5 tahun untuk mengumpulkan harapan manusia. Singkatnya, aku bisa memberikan harapan untuk satu manusia dalam kurun waktu lima tahun sekali.” jelasnya</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tapi pastinya tidak ada manusia yang pernah kesini sebelumnya ‘kan? Karena kami adalah yang pertama!” kata Ruuna yakin</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kau salah gadis kecil.. Seperti yag kukatakan sebelum kalian datang..’manusia lagi..’ kalian bukanlah yang pertama kali datang kesini. Dalam 15 tahun ini.. setiap lima tahun sekali orang itu selalu datang kesini menanyakan hal yang sama tiap kalinya..” ujar Pohon Harapan mematahkan semangat Ruuna</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kalian.. kurasa kalian tidak punya banyak waktu untuk bercakap-cakap..” Annisete sedang menahan pintu yang sedang dibobrak oleh klawanan mahluk aneh yang memaksa masuk. Seeokor kalelawar sudah berhasil menerobos masuk dan tangan mumi yang bisa memanjang juga.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Putuskan diantara kalian yang mau kuberikan harapan” ujar Pohon Harapan. Ruuna dan Appril terdiam karena diantara mereka memiliki pertanyaan yang berbeda. Ruuna hanya bisa tertunduk, Appril menarik napas lalu membuangnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Baiklah.. kau saja, Ruuna.” ujar Appril mengalah</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Eh..? Benarkah?” mata biru Ruuna berbinar.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya..” ujar Appril setengah-setengah ia paling lemah dengan anak kecil.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Jadi.. apa pertanyaanmu anak kecil?” Pohon Harapan bergerak menundukan badannya layaknya pelayan yang hendak melayani tuannya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“”<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Begini.. ada yang ingin kutanyakan..” ujarnya</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Cepatlaahhh..” Annisete benar-benar kualahan menahan pintu yang sedang didobrak para mahluk-mahluk aneh yang memaksa masuk.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa.. Apa.. aku ini…” mata Ruuna berbinar, mukanya merona merah.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya?” Pohon Harapan sabar menungggu</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ceppaattt..” Annisete tidak tahn</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa aku ini catik?” ujar Ruuna akhirnya. Seketika Appril menyesal telah memberikan kesempatan lima tahun sekalinya Pohon Harapan kepada Ruuna. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kenapa kau bertanya seperti itu anak manis?”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tadi.. saat dihutan.. pohon yang menjaga hutan bilang kalu aku ini tidak cantik..aku jadi ragu apa aku ini benar-benar cantik atau tidak.” kata Ruuna polos kali ini Appril benar-benar menyesal bukan kepalang. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Aku memberi jawaban tidak pernah salah.. Kau cantik” jawab Pohon Harapan. Ruuna tersenyum puas, tetapi tidak lama setelah Pohon Harapan memberikan jawaban, pintu sudah berhasil didobrak oleh segerombolan mahluk aneh. Kalelawar semuanya berhamburan, kaki Annisete dipegang oleh mumi yang tadi hinggap dipundak Appril. Yukyu terbang kesana kemari ketakutan, Appril segera menolong Annisete dengan melawan mumi itu dengan apinya. Mumi itu melangkah mundur begitu juga dengan mahluk-mahluk aneh lainnya yang takut melihat api Appril.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Untunglah kalian selamat.” kata Bouras tiba-tiba muncul dengan terengah-engah sambil menendang kakek berwajah tirus dengan kaki yang merangkak seperti laba-laba.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bouras..” ucap Appril kaget melihat sosok Bouras yang tiba-tiba datang dengan keringat yang bercucuran. Dibelakang Bouras terlihat Nea yang sedang membasmi kalelawar yang hendak menyerangnya namnun Nea tebas dengan pedangnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa kalian bersama Ruuna?” tanya Nea hawatir. Mahluik-mahluk aneh itu tidak mencoba menyerang mereka lagi sekarang.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya.. dia..” belum sempat Appril menjawab pertanyannya, Nea sudah berlari melepas pedang yang ada digenggamannya dan memeluk Ruuna yang sedang menyaksikan Pohon Harapan yang berada didepannya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Oh.. Ruuna..” Nea meneteskan air mata harunya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ibu..” ucap Ruuna membalas pelukan hangat Ruuna</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ah.. kau datang lagi.. sayang kali ini aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu seperti lima tahun sekali kau tanyakan. Pertanyaan yang sama..selama lima belas tahun belakangan ini..” kata Pohon Harapan, Nea tersenyum</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ya.. dan jawabanmu memang benar, <em>dia </em>kembali namun kami tidak bisa kembali seperti semula.. dan seperti katamu juga, semuanya karena salahku. Karena perkataan tolol ku..” kata Nea. Ruuna memandang ibunya bingung tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh ibunya.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Dan kau tau pasti sampai batas mana aku bisa menjawab pertanyaan manusia. Dan anakmulah manusia terakhir yang kujawab pertanyaannya.” Pohon Harapan banyak meranggaskan daun hijaunya yang berkilauan.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ibu.. apa maksudnya?”</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Pohon Harapan, bisa memberi jawaban manusia hanya dalam lima tahun sekali, namun Pohon Harapan juga memiliki nyawa seperti pohon-pohon lainnya, Ruuna.. nyawanya akan habis jika ia sudah menjawab dan memberikan harapan kepada lima pertanyaan manusia. Itulah nyawanya. Dan pertanyaanmu adalah pertanyaan yang terakhir.” jelas Nea sabar sambil menyaksikan Pohon Harapan yan makin lama makin redup cahanya.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku yang terakhir..? Bagaimana bisa?”</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Selama lima belas tahun ini, setiap lima tahun sekali ibu menanyakan hal yang sama kepada Pohon Harapan itu saja sudah tiga kali.. lalu kau.. lalu..” Nea menghentikan ceritanya sambil menatap Bouras yang sedang membantu Annisete berdiri.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Siapa..?” tanya Ruuna</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ruuna, lebih baik kau menyaksikan Pohon Harapan.” ucap Nea mengalihkan pandangan Ruuna. batang Pohon Harapan berputar masuk kedlam tanah sedikit demi sedikit, daun-daunnya berguguran terhempas angin seperti cahaya yang berhamburan ditangah kota yang gelap. Tanpa sadar Ruuna mangis.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ibu.. apa harapan untuk kota Casuarina sudah tiada?” tanya Ruuna sambil terisak. Nea mengusap mata Ruuna sambil tersenyum,</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tidak.” jawab Nea pelan dan Pohon Harapan makin lama makin masuk kedalam pusaran yang seperti menyedotnya masuk kedalam</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kena..pa?”</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Karena setelah harapan lama itu mati, akan tumbuh harapan-harapan baru lagi, Ruuna. Ingat itu. Harapan tidak pernah mati” ujar Nea. Cahaya Pohon Harapan bertebaran keseisi kota membuat kota Casuarina dipenuhi dengan cahaya warna-warni. Appril jadi merasakan kalau ia melihat fenomena aurora dikutub. Begitulah cahaya yang dikeluarkan Pohon Harapan dengn warna-wanrnanya yang cantik Appril sudah mendapatkan lebih dari sebuah jawaban.</font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Aku sudah mendapatkan harapan, Bouras.” kata Appril tiba-tiba </font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apakah itu lebih bagus daripada sebuah jawaban?”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya.. jauh lebih baik.” </font></font></font></p>
<p align="center" style="margin-bottom:0;">&nbsp;</p>
<p align="center" style="margin-bottom:0;">&nbsp;</p>
<p align="center" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif"><font size="3">*</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Warga Casuarina sedikit kaget saat melihat Pohon Harapan sudah tidak ada. Sebagian besar diantara merka mengangis tersedu-sedu. Namun Alto dapat mengambil alih dan berpidato didepan para warganya dengan bijak,</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“</font><font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Karena setelah harapan lama itu mati, akan tumbuh harapan-harapan baru lagi,..” begitu isi petikan pidatonya. Warga Casuarina mengangguk walaupaun masih dalam keadaan tidak rela.</font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;text-indent:0.5in;"><font size="3"><font face="Times New Roman, serif"><font color="#000000">Keesokan paginya, Bouras, Appril, dan Annisete sudah siap dengan barang bawaan mereka masing-masing. Semuanya sudah berada digerabang putih yang dijaga ketat oleh penjaga. Mereka diantar oleh Alto, nenek Guma, Ruuna dan tentu saja Nea.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Baiklah. Kalian cukup mengantarku sampai disini saja.” kata Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Semoga kalian selat sampai tujuan.” ucap Alto</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Jaga diri kalian baik-baik.” kata Guma menambahkan.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya. Kalian juga” balas Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kak Appril..” Ruuna menunduk dengan muka murung </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya?” </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Saat di Pohon Harapan.. maaf ya.. karena akhirnya aku hanya menanyakan hal bodoh seperti itu,” Ruuna tidak berani menatap muka Appril yang ada dihadapannya ia tidak tau kalu Appril tersenyum ramah kearahnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Tidak apa. Aku juga hendak menanyakan pertanyaan yang tidak jauh bodoh darimu.” hibur Appril barulah Ruuna bisa tersenyum lega.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Kita berangkat sekarang?” tanya Bouras</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya.” jawab Appril yakin. Bouras dan lainnya hendak beranjak dari tempat mereka berdiri ketika akhirnya Nea mebuka mulutnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bouras, tunggu.” kata Nea. Bouras hanya membalikan badannya</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Saat dihutan kau bilang banyak hal yang tidak kutehaui. Seperti apa? Kumohon hanya untuk terakhir kalinya aku ingin tau.” pinta Nea sungguh-sungguh dengan mata birunya, Bouras benar-benar tidak berkutik. Ia terdiam</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Salah satunya..” Bouras menarik napanya dalam-dalam. Lalu ia mengeluarkan pedang dari tapak tangannya. Alto, Guma, Ruuna, dan Nea tanpa terkecuali kaget melihatnya. Karena setahu mereka, Bouras..</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bagaimana mungkin? Kau terlahir tanpa wyvern, Bouras!” ujar Nea dengan sorotan mata tidak percaya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Maka dari itu, Nea..Imilah bagian dimana kubilang ‘Kau tidak akan mengerti’..” ungkap Bouras. Lalu ia melangkah maju “Oh, ya.. nama gadis ini.. June Annisete kalau kau masih penasaran kenapa wajahnya tidak asing lagi untukmu.” kata Bouras sebelum pergi. Annisete tidak peduli dengan pengakuan Bouras, dari awal ia memang agak risih dengan embel-embel nama ‘Donna’.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Bouras…Tidak mungkin.. Dia adalah..” Nea tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagipula Bouras sudah terlaur berjalan agak jauh. Nea terjatuh karena saking kagetnya dengan perkataan Bouras. Tanpa sadar ia mulai menangis entah apa yang ditangisinya, Ruuna tidak berani melkukan apa-apa begitu juga dengan Alto dan Guma hanya menyaksikan Nea basah dengan air matanya. Saat ia membuka matanya ia bisa melihat sosok Bouras menjadi kecil dan gendut sedang tersenyum. Namun tidak bergerak, karena itu hanya sebuah boneka. Appril sedang berjongkok sambil memeegang boeka tersebut.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Buatmu.” kata Appril tersenyum</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Apa?” Nea bingung tetapi Appril haya membalasnya dengan senyuman. Nea pun pasrah ia mengambil boneka replika Bouras dari tangan Appril </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Di Casuarina orang membuat boneka untuk mengenang wajah yang ada diboneka tersebut.” bisik Nea pelan yang hanya bisa didengar Appril yang ada didekatnya.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya. Aku tau” jawab Appril</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tapi kalau diberikan, berarti tandanya adalah sebuah janji.” ucap Nea kemudian</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Janji?”</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Janji kalau suatu saat akan kembali.” kata Nea. Air mata makin deras keluar dari pelupuk matanya. Appril hanya diam tidak menanggapi kata-kata Nea karena ia teringat kata-kata Bouras yang pernah diucapkan.’Kalau aku mungkin tidak akan tahan dengan Lyddite..’. Appril membuang jauh-jauh kalau kemungkinan itu terjadi. Appril bangun.</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Selagi kami pergi, tetap urusi bunganya, ya!” hanya itu kata-kata terakhir yang bisa diucapkan Appril lalu ia berlari menyusul Annisete dan Bouras yang sudah agak jauh didepannya. Ia tidak berani melihat kebelakang menatap wajah orang-oarang yang baru ia temui. </font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;">&nbsp;</p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;"><font color="#000000"><font face="Times New Roman, serif"><font size="3">-Dalam perjalanan-</font></font></font></p>
<p align="left" style="margin-bottom:0;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Hei, Bouras apa kau tau sesuatu tentang bunga yang berwarna ungu yang ada didalam rumahmu?” tanya Appril saat mereka berjalan</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku tidak tau apa-apa. Tapi yang jelas, bunga berwarna ungu itu di Casuarina artinya adalah ‘harapan’ lambang kota ini.” jawab Bouras seadanya. </font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Jadi kau memang tidak tau, ya?” kata Appril sambil memikirkan perkataan Ruuna saat mereka berada di hutan yang menjaga Pohon Harapan </font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">‘<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Aku memang mengikuti kalian dari awal, aku juga sebenarnya sudah pernah melihat isi rumah paman gendut itu sebelumnya, sering malah’ kata Ruuna</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">‘<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Sering..?’ Appril tidak mengerti dengan ucapan Ruuna</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">‘<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Apa kalian tidak sadar dengan bunga yang ada dirumah paman gendut itu?’</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">‘<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Ya. Kami menyadarinya. sangat aneh melihat bunga yang begitu terawatnya didalam rumah yang sudah bertahun-tahun tertinggal’ kata Annisete. Appril baru menyadari akan hal itu memang ia melihat bunga manis itu, tapi ia tidak memperhatikan hal detail seperti Annisete.</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">‘<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Itu ibuku yang merawatnya. Dari sebelum aku lahir ibuku sudah merawat bunga itu. Begitulah kenapa aku bisa tau rumah Bouras. Ibuku juga terus menceritakan hal-hal yang menarik tentang paman itu. Ibu selalu menceritakan hal-hal bik tentang paman.’</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">‘<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Jadi itu sebabnya kau tau Bouras?’ tanya Annisete</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">‘<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya. Semuanya karena ibuku.’ jawab Ruuna.</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ada apa Appril? Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?” tanya Bouras yang melihat ada yang ganjil dari air muka Appril</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tidak ada.” jawab Appril</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Baguslah. Tapi sebenarnya apa yang kau ingin tanyakan kepada Pohon Harapan?” tanya Bouras lagi. Appril tersenyum seadanya.</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Tidak ada.” Appril bohong untuk kedua kalinya</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font size="3"><font face="Times New Roman, serif">Oh tidak Appril.. kau sudah sedikit menjadi Annisete.. pendiam yang tidak banyak bicara.” ucap Bouras seperti menyesali keadannya. </font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Hanya saja..” kata Appril kemudian Bouras dan Annisete memperhatikannya “Saat itu aku bilang aku mendapatkan harapan ‘kan?” Appril menatap Bouras girang</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Ya.. kau bilang hal seperti itu. Memang harapan seperti apa?”</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Harapan agar aku dan Annisete bisa..” Appril sengaja tidak melanjutkan kata-katanya secara langsung.</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Berteman seperti kau dan Nea!” ungkap Appril girang tanpa tau cerita sebenarnya antara Ne dan Bouras.</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">Walah.. sepertinya ku salah paham ya, Appril? Dulu aku dan Nea pacaran lho!” kata Bouras menceritakan yang sebenarnya.</font></font></font></p>
<p style="margin-bottom:0;"><font color="#000000">“<font face="Times New Roman, serif"><font size="3">APA?!” Appril memandang Bouras tidak percaya. Sepertinya ia sudah mengambil contoh ‘pertemanan’. </font></font></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/juneappril.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/juneappril.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juneappril.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juneappril.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juneappril.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juneappril.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juneappril.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juneappril.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juneappril.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juneappril.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juneappril.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juneappril.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juneappril.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juneappril.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juneappril.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juneappril.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juneappril.wordpress.com&amp;blog=1986270&amp;post=6&amp;subd=juneappril&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juneappril.wordpress.com/2007/12/01/casuarina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d7651fbb649fa40ab8dd5d33471b0d59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juneappril</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Appril</title>
		<link>http://juneappril.wordpress.com/2007/10/25/appril/</link>
		<comments>http://juneappril.wordpress.com/2007/10/25/appril/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 07:35:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juneappril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://juneappril.wordpress.com/2007/10/25/appril/</guid>
		<description><![CDATA[ “Maju! Jalan! Kalau bisa kau berlari Angin berhembus ke timur membawa matahari menyingsing. Cepat berlari! Sebelum angin tidak lagi berpihak kepadamu”   Appril seorang anak laki-laki yang baru saja menginjak usia 15 tahun duduk terdiam saat mendengar para buruh yang bekerja di tambang emas bernyanyi dengan lantangnya saat melewati taman kota. Bukan hanya Appril saja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juneappril.wordpress.com&amp;blog=1986270&amp;post=3&amp;subd=juneappril&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span> </span>“</span></em><em><span style="font-family:ItalicT;color:black;">Maju! Jalan! Kalau bisa kau berlari</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:ItalicT;color:black;">Angin berhembus ke timur membawa matahari</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:ItalicT;color:black;">menyingsing.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:ItalicT;color:black;">Cepat berlari!</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family:ItalicT;color:black;">Sebelum angin tidak lagi berpihak kepadamu</span></em><em><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">”</span></em><em><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"> </span></em><em><span style="font-family:ItalicT;color:black;"></span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">Appril seorang anak laki-laki yang baru saja menginjak usia 15 tahun duduk terdiam saat mendengar para buruh yang bekerja di tambang emas bernyanyi dengan lantangnya saat melewati taman kota. Bukan hanya Appril saja yang terkesima saat para buruh yang berbadan 2 kali lipat lebih besar daripada dirinya lewat di Taman Kota tetapi para warga kota Vuyne yang sedang berada disitu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Wow..Yukyu, tidak biasanya ada buruh disini” kata Appril kepada burung rakitan berwarna biru muda yang berada disampingnya. Para buruh itu hanya mengenkan kaos lusuh seadanya dan celana yang besar namun penampilan lusuh para buruh itu tidak ada bedanya dengan Appril yang hanya mengenakan jaket bertudung berwarna abu-abu lusuh, celana tartan selutut, sepatu boat tua panjang yang ia temukan saat memancing dan topi soldier hijau yang tidak pernah lepas ia gunakan juga tas besar yang ada dipunggungnya. Badan Appril yang hanya 155cm membuat ia dianggap seperti anak kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ah..Mama..Itu si pembuat boneka..” rengek anak kecil berumur 5 tahun yang sedang mengemut permen lollipop besar dimulutnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aduh..Kalau mau boneka nanti mama belikan, ya.” kata ibunya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tidak mau, ma..aku mau dia yang membuatnya!” rengeknya lagi menahan tangis</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tapi dia sedang tidak membawa peralatannya” ibunya mencoba menenangkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aku dengar, tasnya yang besar itu isinya peralatannya! Pokoknya aku mau bonekaaa..!!!” rengekan anak itu makin menjadi-jadi. Teriakannya membuat seisi taman kota memperhatikannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“B..baiklah..hanya kali ini saja, ya.” ucap ibunya menyerah. Ia mendekati pemuda yang dari tadi duduk di bangku taman memandangi awan yang putih seperti kapas dan menghayal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Permisi..” ibu anak itu membungkukan badannya member salam. Pemuda itu menengok</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ya?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Mmng..Anak saya ingin dibuatkan boneka, apa sempat anda membuatnya?” tanyanya canggung. Pemuda itu memalingkan wajahnya dari sang ibu ke anak yang daritadi merengek.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tentu saja. Aku dengan senang membantu” Appril tersenyum. Ya, Appril memang dikenal kota Vuyne sebagai pembuat boneka yang handal. Banyak masyarakat disana yang ingin memiliki boneka hasil karya Appril. Namun karena Appril tidak punya tempat tinggal dan sering menumpang kesana kemari membuatnya sulit ditemukan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kau mau boneka apa adik kecil?” Tanya Appril hangat sifat inilah yang membuat Appril diterima oleh masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ted..Teddy Bear..!!” jawab anak lelaki kecil itu bersemangat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Baiklah…” Appril mengeluarkan isi tasnya berbagai macam alat pembuat boneka sederhana dikeluarkannya. Anak kecil itu melihatnya antusias</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Namamu siapa anak manis?” Appril memasukan benang ke jarumnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Doris..” Doris hanya memperhatikan gerakan tangan Appril yang menjahit bahan-bahan dengan tenangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Permisi..” ibu itu menatap Appril malu-malu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ya?” Appril memberhentikan pekerjaannya sebntar</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bisakah..Ng..kau menjaga anakku sebentar? Aku ingin membeli buah dan sayuran di pasar yang tidak jauh dari sini sebentar..” pinta ibu itu malu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Dengan senang hati” jawab Appril sambil tersenyum tulus dan nampaknya Doris senang dengan perkataan ibunya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Terimakasih!” ibu itu langsung pergi meninggalkan Doris dan Appril sendirian. Appril melanjutka pekerjaannya lagi ditemani Doris disampingnya. Yang terus saja memperhatikan gerakan tangan Appril sampai akhirnya ia melihat Yukyu yang menghinggap dipundak Appril</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kak..Siapa nama burung itu?” tanya Doris</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Namanya Yukyu” jawab Appril singkat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Apa dia burung sungguhan?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tentu saja tidak..Kalau ia burung sungguhan pasti aku sudah penuh dengan kotorannya dari tadi. Ini burung rakitan” jawab Appril lagi sambil tertawa kecil Dorispun ikut-ikutan tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Apa itu kakak yang membuatnya?” tanya Doris lgi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bukan” Appril menggeleng</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Lalu siapa?” rasa penasaran Doris belum juga habis ia menatap Appril dengan tatapan lugunya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aku tidak tau, Doris..Dia sudah bersamaku sejak umurku masih 8 tahun. Tiba-tiba saja Yukyu sudah hinggap dipundakku” jelas Appril panjang lebar. Ia jadi teringat saat umurnya 8 tahun, dirinya sama sekali tidak ingat kapan dan bagimana ia bisa tiba-tiba dipinggir jalan taman kota ini bersama Yukyu yang hinggap dipundaknya. Mengingat hal itu jari Appril jadi tertusuk jarum dan meneteskan darah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Apa mama kakak yang membuatnya?” Doris tidak berhenti bertanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Mungkin” Appril sama sekali tidak ingat siapa yang melahirkannya seingatnya, hari pertama ia hidup di dunia ini adalah saat dirinya berumur 8 tahun dan bisa mebuat boneka. Itu satu-satunya hal yang sejauh ini dapat diingatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Apa ayah kakak?” Doris bertanya lagi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Doris..” sela Appril “Jangan bertanya tentang ayah dan ibuku lagi, ya?” Appril mencoba untuk sehalus mungkin. Doris mengangguk</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Apa mereka sudah meninggal?” Doris kembali bertanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Mungkin” jawab Appril seadanya karena ia pikir inilah pertanyaan klimaks Doris. Appril melanjutkan pekerjaannya menjahit bagian kuping boneka dan memasukan banyak kapas untuk isinya lalu menjahit bagian kepala.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Jaaadiiii…” pekik Doris bahagia</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Selesai” kata Appril yang jadi ikut-ikutan bahagia karena melihat muka Doris.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ayo kita ke mama..” rengek Doris sambil menarik tangan Appril yang mau tidk mau mengikuti Doris pergi mencari ibunya. Ia menyebrangi jalan dan langsung sampai ke toko-toko yang memanjang dipinggir jalan banyaknya orang yang berbelanja disitu membuat Appril susah mengikuti tarikan tangan Doris yang ada didepannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Mama..” Doris melihat ibunya tersenyum kearahnya ia langsung menghampiri ibunya dan memluknya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Lihat..lihat..aku..”Appril memperhatikan keceriaan yang terpancaar dari muka Doris dan ibunya yang setia mendengar cerita Doris yang tidak karuan berantakannya. Appril menjadi sedikit iri kalau ia melihat pemandangan seperti ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">‘Dimana ibu berada?’ tanya Appril dalam hati</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">‘Apa jangan-jangan aku tidak memiliki ibu?’ Appril berpikir dalam hati namun ia tersenyum mendengar pikirannya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">‘Ah..mana mungkin.dasar Appril bodoh’ jawab Appril sendiri. Ia menyusuri pertokoan dan melihat toko kue roti kesukaannya dan masuk kedalam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Hei, Appril kau kesini lagi”sapa seorang lelaki tinggi besar berpakaian koki rambutnya hitam berantakan, muncul dari pintu dapur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Hai, paman pemilik toko roti” balas Appril asal</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Roti madu dengan susu hangat lagi?” tawarnya hangat senyumannya sungguh lebar serti bisa memakan badan Appril yang mungil.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Mm..sebenarnya aku ingin bertanya” kata Appril serius ekspresinya seperti tidak biasanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aku selalu siap menampung pertanyaanmu, Appril.” Jawab laki-laki yang bernama Bouras itu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ng..begini. Saat aku berumur 8 tahun kaulah yang pertama kali menemukanku di taman kota..Saat hujan aku menangis namun orang-orang yang ada disekelilingku tidak ada yang peduli. Hanya kau yang mempersilahkan aku masuk ketokomu ini.” Cerita Appril</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ya..ya..aku tau itu aku juga yang memberikanmu nama Appril karena saat itu sedang bulan Appril!” Bouras tertawa</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Lalu kenapa?”Appril menarik napas panjang “Kenapa paman mau padahal yang lainnya tidak ada yang peduli?” Appril menatap Boras dalam-dalam lalu diam hening sebentar. Para pengunjung yang dating tidak ada yang memperhatikan obrolan mereka berdua karena sibuk dengan makanannya. Appril menunggu jawabannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Mmm..Kenapa ya? Kau tiba-tiba bertanya seperti itu malah membuatku bingung..Kalau bertanya kenapa..Akupun juga tidak tahu” jawab Bouras tersenyum ramah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ah..Begitu, ya?” Appril menyerah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Sudah tidak usah dipikirkan..mau roti madu dan susu hangat?” tawar Bouras lagi untuk kedua kalinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Hei, paman..kau terlalu baik, itulah sebabnya aku selalu menolak ajakanmu untuk tinggal dirumah paman─ kalu kau mau tahu alasannya” kata Appril tiba-tiba</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Sudahlah..mau tidak? Tawaranku hanya berlaku sampai tiga kali saja,nih..” ujar Bouras lagi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Pasti!” jawab Appril lalu Bouras mengambil dua buah roti madu dan susu puthi hangat karena saat itu sedang musim gugur</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Hei, Appril..setidaknya jangan menolak tawaranku kali ini” kata Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Huh?”Appril binugng dengan ucapan Bouras tadi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tinggalah dirumahku kali ini saja” pintanya dengan muka serius</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>                        </span><span>                        </span><span>            </span><span>            </span>*</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>            </span>Prajurit muda berlari terengah-engah menyusuri lorong-lorong gelap yang hanya diterangi obor disisi dindinding yang berukir gambar yang menunjukan perjalanan seorang pahlawan merebut kemerdekaan. Ia berlari masih mengenakan pakaian lengkap seorang prajurit, topi pelindung, baju berwarna hijau lumut dan sepatu boat. Di dada kirinya terpasang lencana bergambar burung yang membawa rantai yang artinya ia diberikan lencana tersebut karena kejujuran dan kesetiaannya terhadap suatu negara. Ia membawa secarik kertas yang sudah agak berkerut karena ia terlalu erat menggenggam kertas itu. Prajrut itu berhasil sampai kesebuah patung singa bersayap yang dibaliknya ada pintu besar keemasan yang dijaga oleh 2 penjaga yang badannya 2 kalilipat lebih besar dibandingkan dengan dirinya merangkul sebuah senjata runcing panjang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>            </span>Prajurit tersebut tidak memperdulikan ke-2 lengan penjaga tersebut yang saling silang tanda tidak boleh masuk. Ia memberontak dan membuka pintu besar keemasan tersebut dengan bantungan keras para penjaga itu menarik lengan dan kerah baju prajurit yang kecapaian karena sudah berlari jauh itu namun prajurit tersebut sudah terlebih dahulu berteriak,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“NEGRI BARAT MENYERANG!!!SERANGAN TIBA-TIBA!! MEREKA MENYE..” prajurit itu jatuh pingsan saking takutnya menyampaikan pesan itu. Lelaki setengah baya yang duduk paling atas dengan kursi megah seperti berkilauan dengan tahta tidak kalah kagetnya melihat keadaan tiba-tiba seperti ini</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Apa maksudnya yang ia sampaikan?” wanita berumur 40 tahunan yang duduk disalah satu meja bundar itu berdiri bingung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Negri barat menyerang..” ucap lelaki yang berkedudukan paling tinggi itu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tuan, ini data spesifiknya” penjaga pintu yang tadi berusaha menghalangi prajurit itu mengambil secarik kertas yang tadi digenggam prajurit muda itu. Lelaki setengah baya itu membacanya seksama dengan muka tidak percaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Mereka menyerang secara tiba-tiba diperbatasan negri kita. Siapkan pasaukan! Sekarang!” titahnya tanpa pikir panjang “Jadikan situasi ini untuk menjadi keadan darurat bagi seluruh warga!” lanjutnya lagi. Seluruh penjaga yang sedang berada diruangan tersebut sebagian berhamburan keluar dan salah satu diantara mereka membawa prajurit yang pingsan itu. Kemudian seluruh orang penting yang hadir diruangan tersebut diam tidak ada yang berani membuka mulutnya sejak perintah itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Benthill.. tentang pembicaraan kita tadi. Kurasa sudah saatnya tiba bagi mereka untuk bergerak.” Ucapnya melirik kearah lelaki yang tidak jauh lebih tua daripadanya yang duduk tepat disampingnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tidak bisa. Mereka belum bisa mengontrol kekuatan mereka.” sela Benthill tajam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tapi keadaaanya sekarang benar-benar terdesak! Benthill, jangan terlalu melindungi mereka. Kau tau kalau mereka akan berakhir seperti ini” kata wanita yang tadi berdiri</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Agusta. Mereka bisa tidak berakhir seperti itu kalau kau tahu” jelas Benthill</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tapi sekarang jutaan nyawa orangpun bergantung pada mereka. Kau tau kan betapa kuatnya pasukan negri barat. Dengan daerah kita yang kecil dan pasukan kita yang lemah dan sedikit, aku rasa kita tidak akan berhasil menghadapi mereka” Agusta beragumen yang tidak bisa ditentang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Agusta benar, Benthill. Kita harus cepat bertindak negri barat pasti tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk menghabisi kita” ketua parlemen yang duduk paling atas dari yang lain tidak mau kalah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tidak bisa, Glodi. Maaf” Benthill keluar ruangan didampingi oleh ke-2 bodyguardnya yang setia mengikuti Benthill disisinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">*</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">Rumah Bouras berada di gang kecil yang hanya bisa dilewati orang saja, atap-atap rumah yang saling berdempetan dan udara yang sedikit pengap udara jarang masuk karena fentilasi hanya sedikit. Rumahnya berletak disebuah mantion berlantai dua dan hanya terdiri dari 6 kamar yang sepetak-petak. Bouras tinggal di lantai dua dan untungnya kamar Bouras terdapat jendela yang didepannya pohon besar yang rindang. Rumah Bouras luar biasa berantakannya dan Appril hanya bisa duduk dimeja makan yang sisi-sisinya bergerigi. Bouras membuatkan Appril teh hangat karena saat itu hari sudah malam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Paman..” panggil Appril canggung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Panggil aku Bouras saja.kau kan sudah 7 tahun kenal denganku.” sela Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Mm.. Baiklah..Bouras” Appril memikirkan kembali apa ia panta memanggil Bouras hanya menyebutkan namanya saja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ada apa?” Bouras menatap Appril dengan tatapan hangat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tentang pertanyaan tadi siang.. sebenarnya bukan itu pertanyaan intinya.. ada hal lain yang ingin kutanyakan..” Appril terdiam “Walaupun aku yakin kau tidak bisa menjawabnya” lanjut Appril lagi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Jangan meremehkan aku..” Bouras menegak bir yang ada didepannya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Begini.. tadi siang ada anak kecil, namanya Doris..dia bersama ibunya mendatangiku meminta untuk dibuatkan boneka…” cerita Appril</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Sudah..langsung ke intinya saja.. kau kan tau aku tidak suka orang yang berbasa-basi!” sela Bouras lagi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Apa aku punya ibu?Kalau aku punya.. pasti ibuku akan mencariku kan?” tanya Appril hampir menggebrak meja bundar yang bergerigi itu. Bouras terdiam seperti yang ia lakukan saat pertanyaan Appril tadi siang hanya saja kali ini lebih lama daripada siang tadi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bouras..?” Appril menunggu jawaban Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Begitu, ya?Jadi kau menganggap kalau kau tidak punya ibu?Itu mana mungkin..” jawab Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aku juga sempat berpikir seperti itu..hanya saja..aku hidup seperti tidak memiliki ibu sejak lahir.. kau kan tau kalau hari pertamaku didunia ini adalah saat aku ditemukanmu di taman kota..Hanya sejauh itu yang aku ingat!” kata Appril menahan emosinya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Mungkin saja ibumu tidak peduli padamu atau sibuk..atau apalah!” jawab Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Iya, tapi kenapa?Kenapa ibuku sibuk? Kenapa ibuku tidak peduli padaku?” Tanya Appril bertubi-tubi “Bouras..Aku anak yang baik kan? Kau saja ingin aku tinggal dirumahmu padahal kau tidak melahirkanku! Tapi kenapa ibuku tidak mau aku tinggal bersmanya?” Appril benar-benar mengharapkan jawaban Bouras namun Bouras malah bangun dan mengambil botol bir dan cangkir teh Appril yang tidak diminumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kita tidur, saja bagaimana?” tawar Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tapi..”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Sudah..malam ini kau tidur bersamaku karena kamar tamunya belum kusiapkan..oke?” Bouras tersenyum seperti biasanya. Appril tidak membantah ia mengikuti Bouras masuk ke kamarnya yang sempit. Kasurnya cukup besar untuk berdua namun bau dari kasur itu yang membuat Appril enggan untuk tidur ia lebih memilih menatap bintang dan bulan dari kaca jendela yang sengaja dibuat diatas tempat tidur.. Bouras sudah tertidur Appril jadi sebal dibuatnya karena tidak menjawab pertanyaannya. Namun kalau ia mengingat-ingat lagi..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">‘Aku kan sudah tau kalu Bouras tidak akan bisa menjawabnya.hah..’ jawab Appril sendiri</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Appril..” kata Bouras setengah tertidur</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ya?” emosi Appril sudah kembali normal</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Jawaban tadi..Aku tidak bisa menjawabnya, maaf.” ucapnya masih memejamkan matanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tidak apa..Aku kan sudah bilang kalau kau mungkin tidak bisa menjawabnya. Maaf karena tadi nada bicaraku tinggi.” balas Appril menengok kearah wajah Bouras yang tertidur</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tapi aku hanya bisa bilang ini,” kata Bouras setengah-setengah Appril makin memperhatikannya “Pertanyaan ‘kenapa’ itu selalu berjawaban tidak berujung maka dari itu kau lebih baik melanjutkan hidupmu daripada menunggu jawaban yang tidak berujung itu.” Kata-kata Bouras terngiang-ngiang dikepala Appril dia sudah mendapatkan lebih dari sebuah jawban yang diharapkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bouras.” Panggil Appril pelan Bouras menatap Appril yang dari tadi memperhatikannya juga.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Apa lagi..?” Bouaras nampaknya sudah lelah menghadapi pertanyaan Appril yang tiada habisnya (mungkin Appril ingin membalas dendan karena Doris tadi)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kalau aku lahir pastinya aku memiliki ayah kan?” Appril memasang muka polosnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Hah..kalau kau tanya ayahmu dimana akan kujawab kalau ayahmu sudah mati, Appril.”Bouras benar-benar tidak tahan dengan pertanyaan Appril ia membalikan badannya membelakangi Appril yang belum selesai bicara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bukan begitu..” kata Appril membenarkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Lalu apa?” nada bicara Bouras lebih mirip menantang daripada bertanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Seumur hidupku, aku belum pernah memanggil ‘ayah’ atau ‘ibu’ itu satu-satunya kata yang belum pernah kuucapkan.” Jelas Appril buru-buru takut kalau Buras sudah terlanjur tertidur pulas saat mendengar ocehannya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kau sudah menyebut ‘ibu’ tadi siang dan ‘ayah’ tadi.”sela Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Boleh aku memanggilmu ‘ayah’?” Tanya Appril meminta Bouras masih menghadap tembok jadi Appril tidak tau ekspresi Bouras saat ia memintanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Boleh, asal sekali saja, ya! Aku kan belum terpikirkan untuk punya anak” jawab Bouras. Appril sangat senag mendengarnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ayah” kata Appril senag. Bouras hanya menggumam tidak jelas</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ayah”<span>  </span>kata Appril keduakalinya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Hei, aku bilang cukup sekali saja!” larang Bouras namun Appril tidak memperdulikannya ia tetap memanggil Bouras sepanjang malam dengan sebutan ayah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>            </span>Keesokan paginya setelah sarapan, Appril pergi meninggalkan rumah Bouras ia tidak tahu harus pergi kemana kali ini jadi Appril memutuskan untuk pergi memancing.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Selamat tinggal..” ucap Appril “Ayah” lanjutnya sambil tersenyum senang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aku kan sudah bilang sekali saja, anak bodoh!” kata Bouras sambil menjitak kepala Appril keras. Lalu Appril pergi dari mantion Bouras yang berdempetan dengan atap rumah disampingnya. Saat menuruni tangga Appril berpapasan dengan sekawanan bodyguard yang menjaga lelaki setengah baya berjas mahal dengan kacamata hitam. Appril mungkin tidak menyadari saat berpapasan lelaki setengah baya itu memperhatikannya dengan tatapan terkejut. Namun lelaki itu tidak mau terkejut lama-lama ia tetap ke tujuan awalnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>            </span>Bouras sedang membereskan sisa makanan yang tidak dihabiskan Appril tadi sambil berpikir tentang ucapan Appril selama ia bersamnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">‘ Boleh aku memanggilmu ayah?’ Bouras tersenyum geli mengingatnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">‘ayah’ Bouras berpikir dalam-dalam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">‘Andaikan dia tau yang sebenarnya apa jadinya? Hah..Appril..’ Bouras menghela napas sambil terbengong-bengong. Sesaat kemudian pintu mantion nya yang sudah reot berbunyi, sesorang mengetuk pintu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Sebentar..” Bouras mengelap tangannya dengan kain buluk yang ada dimeja makan lalu membuka pintu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Selamat pagi” seseorang menunduk memberikan salam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>                        </span><span>                        </span><span>            </span>*</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>            </span>Appril memancing disebuah danau didalam hutan yang cukup rindang disanalah biasanya Appril menghabiskan waktu kosongnya sambil membuat boneka dan memancing. Ia duduk dengan kail yang sudah dipasangkan umpan cacing segar yang ia dapatkan langsung dari dalam tanah dan ia cuci dengan air danau yang masih jernih.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Yukyu.. kemana saja kau kemarin malam?” Appril menyambut hewan rakitan kesayangannya yang sering pergi tanpa bilang-bilang. Yukyu hanya berciap-ciap tidak “jelas namun bagi Appril ‘ciap-ciap’ Yukyu adalah sebuah cerita yang sangat menarik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>            </span>Appril mengambil bahan untuk membuat boneka dari dalam tasnya kali ini ingin membuat sebuah boneka replika Bouras yang sedang memakai baju koki. Walaupun Bouras sudah sering menerima boneka dari Appril namun Appril tidak pernah membuatkan Bouras replika dirinya. Saat sedang asyik-asyiknya membuat boneka, Appril menyadari ada seseorang yang mendekat, Appril membalikan badannya untuk melihat ada sosok seorang cewek yang tingginya 10cm lebih tinggi darinya, poninya belah pinggir, berpakaian seragam sekolah elit dengan rambutnya yang dikepang satu. Ia menatap Appril tajam </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Halo.”<span>  </span>sapa Appril saat cewek itu mendekatinya namun gadis itu tidak menjawab. Ia terus mendekat ke Appril lalu mengeluarkan api dari tangannya seperti hendak ingin membunuhnya. Namun Appril tidak keliru, gadis itu mencengkram leher Appril kuat dengan tangan apinya Appril mengira dirinya sudah mati tetapi tubuhnya malah seperti menyerap api dari gadis itu dan Appril mengeluarkan api yang besar dari badannya. Gadis itu terlempar saat Appril mengeluarkan api yang besar dari tubuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ap..a?” geram gadis itu namun ia tidak mau mengalah ia tetap menyerang Appril dengan segala cara, ia kembali mendekati Appril dan hendak memukul dada Appril namun Appril sudah terlebih dahulu menonjok perutnya keras.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">‘Kenpa ini? Kena..pa?’ Appril tidak percaya dengan perbuatanyya tadi. Ia berhasil melumpuhkan gadis itu yang akhirnya jatuh pingsan seiring dengan pingssannya gadis tersebut api Appril padam. Dan ia cepat-cepat menolong gadis yang berniat membunuhnya itu. Selain masih kaget dengan kejadian tadi, Appril menganggap kalau gadis ini cantik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Hah.. sudah kuduga kalau dia akan berbuat seperti ini” lelaki setengah baya yang ditemui Appril di mantion Bouras datang tiba-tiba</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“E..h?”Appril sama sekali tidak mengerti.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Hai, Appril” sapa lelaki itu dibelakangnya banyak bodyguard menjaganya dan Appril melihat Bouras dibelakang bodyguard-bodyguard yang bertubuh besar itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Siapa kau?” Tanya Appril lantang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aku tidak akan menyakitimu, Appril.. tenanglah.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kenapa..Siapa gadis ini? Kenapa ada Bouras disini?!” nada bicara Appril benar-benar tinggi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Namaku Benthill dan gadis itu adalah Anniset anakku.” Jelasnya singkat. Namun penjelasan itu masih belum cukup bagi Appril yang sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Kenapa gadis itu tiba-tiba menyerangnya dan bagaimana bisa dirinya mengeluarkan api dari tubuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bouras..Apa maksudnya ini..?” Appril hendak menghampiri Bouras namun Benthill menghadangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Appril, tidak sekarang..” Benthill menatapnya lekat-lekat. Appril membalas tatapannya lalau ia jatuh pingsan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>            </span>Ketika Appril tersadar ia sudah berada disebuah kamar besar dengan jendela besar menghadap taman yang indah penuh dengan bunga warna-warni bermekaran ditambah pohon besar yang indah jelas kalau ini bukan mantion tempat Bouras tinggal dimana atap-atap rumah berhimpitan. Pemandangan ini sungguh kontras. Badan Appril diselimuti oleh selimut tebal hangat dan kepalanya dibaringkan dengan bantal yang empuk. Ia benar-benar merasa nyaman. Pintu kamarnya terbuka dan masuklah Bouras dengan Benthill disampingnya Appril senang melihat Bouras masuk namun tidak untuk Benthill.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Sudah merasa baikan, Appril?” tanya Benthill hangat sedangkan Bouras menarikan kursi untuk Benthill duduk. Appril agak aneh melihat Bouras melayani Benthill </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bouras..” rintih Appril. Bouras hanya membalas Appril dengan tatapan sekilas</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kali ini aku yang akan bicara, bukan Bouras dan juga bukan kau, Appril.” jelas Benthill keras namun ia tetap menjaga senyumannya dan entah kenapa saat Appril ingin membantah, kepala Appril bukan main sakitnya. Bouras menyadari rasa sakit kepala yang dirasakan Appril, ia ingin menolong Appril namun Benthill memberikan tanda laranga dengan tanganya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Jadi Appril maksud kedatanganku saat ini adalah untuk menjelaskan sesuatu padamu.yang sangat penting menyangkut hidup matimu.” Kata Benthill pelan<span>  </span>“Mungkin kau agak kaget dengan kejadian yang kau alami tadi dan akan kau hadapi dating secara tiba-tiba.. tapi itulah kenyataannya.” Lanjutnya lagi. Appril diam tidak ingin memperhatikan ia lebih senang untuk mendengarkan Bouras bercerita tentang pelanggannya yang aneh-aneh daripada Benthil.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Annisete.. Gadis yang tadi menyerangmu adalah seorang yang spesial sepertimu” ucapnya sepotong-potong yang hanya membuat Appril sebal</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Spesial?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ya. Biar kujelaskan dari awal. Dulu saat timur dan barat masih berperang, kita dari daerah timur benar-benar terdesak. Tentara Timur banyak yang berguguran dan politik didaerah Timurpun juga hancur berantakan.” Ceritanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Langsung saja keintinya” sela Appril</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Baiklah. Aku dan ke-2 temanku adalah seorang ilmuwan dan kami menemukan bahan peledak lyddite yang sangat dasyat daya ledaknya. Yang kemungkinanya dapat menghancurkan daerah Barat. Namun masalah yang kami punya adalah bahan peledak itu hanya akan aktif bila didalam sel organ tubuh manusia.” Jelasnya panjang lebar jelas Appril tidak mengerti dengan yang dijelaskan Benthill.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Lalu kami memilih bayi wyvern. Wyvern adalah sebuah kemampuan khusus contoh kecilnya seperti bisa mengeluarkan api seperti yang kau lihat tadi. Kami memilih bayi wyvern karena kami pikir bayi itu adalah spesial dan pasti akan menghasilkan ledakan yang sempurna. Tapi kami sama sekali menyadari kelemahan lyddite. Kami baru menyadari kelemahan itu saat kami sudah memasukan lyddite kedalam tubuh bayi-bayi itu. Hanya satu kelemahanya, Lyddite itu akan meledak saat organ-organ tubuhnya berumur 16 tahun.” Jelasnya </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Lalu apa hubungannya dengan ku?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Seperti yang kubilang diawal, kau adalah spesial. Kau spesial karena kau dan Annisete adalah bayi Wyvern yang kami pilih untuk..”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Lyddite? KAU PIKIR KAMI INI APA? “ teriak Appril sambil menarik kerah baju Benthill kencang tetapi untuk kesekian kalinya kepala Appril merasakan sakit<span>  </span>yang amat sangat saat menatap Benthill.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Sesatu harus dikorbankan kalau kita perang.” ucapnya kemudian</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“KAMI AKAN MELEDAK! APA KALIAN TIDAK PIKIR? Meledak..” napas Appril terengah-engah tidak pernah ia semarah ini kepada seseorang sekarang bukan hanya benci melihat Benthill tetapi ia ingin Benthill ia lenyapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Itu tidak akan terjadi kalau salah satu dari kalian ada yang mati.” kata Benthill tajam. Appril benar-benar bingung diberitahukan fakta yang mengerikan seperti ini secara tiba-tiba. Hidupnya terlalu berubah secara tidak ia duga.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Siapa kau? Tiba-tiba saja aku diberitahu secara mendadak seperti ini! Aku tidak mengerti bagaimana menghadapinya! Meledak?” Appril merendahkan suaranya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Dan kau memang tidak akan pernah mengerti kalau aku tidak memberitahukanmu secara tiba-tiba Appril. Kumohon, turuti saja kata-kataku ini” Benthill memasang wajah serius</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kumohon jangan sekarang!” balas Appril lagi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tidak ada waktu untuk itu Appril. Negri Barat menyerang kita pagi ini tiba-tiba. Dan parlemen ingin kau dan Annisete membantu mereka untuk menyerang negri Barat.” Tambah Benthill lagi, Appril terdiam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Maksudmu.. Aku dan Annisete meledakan diri di negri Barat?” tanya Appril memastikan. Benthill menganguguk serius. Appril tidak ingin mendengar penjelasan Benthill lebih lanjut ia berdiri dan meninggalkan Benthill dan Bouras yang enggan untuk mencegah Appril.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bouras..Aku punya permintaan dan perintah terakhirku untukmu” ucap Benthill memjamkan matanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>            </span>Appril berjalan ditaman belakang yang tadi ia hanya lihat dibalik jendela. Bunga-bunga yang bermekaran, pohon yang berbuah, angina musim semi yang berhembus dan sinar bulan puranama dengan hamparan bintangnya dilangit tidak bisa membuat Appril terhibur. Seditik yang lalu, ia hanya pembuat boneka yang handal tidak terlibat oleh pemerintahan, lalu sedetik kemudian ia diminta oleh pemerintah untuk meledakan dirinya di negri Barat. Appril jadi berpikir apakah ini hanya sebuah tipuan belaka namun saat mendengar sirine mobil polisi dan suara mobil tempur besar dari kejauhan membuat Appril sadar. Yukyu yang baru saja dating menatapnya bingung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Yukyu..” desis Appril pelan menahan segala emosinya. Tetapi lamunan Appril tersadar saat terdengar suara langkah kaki orang menginjak ranting pohon mendekat kearahnya. Appril membalikna badannya untuk melihat siapa. Gadis berkepang dengan gaun tidur putih sesaat Appril memuji gadis itu namun ia sadar kalau itu adalah Annisete yang mencoba membunuhnya tadi siang. Appril melangkah menjauh dari Annisete.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aku tidak berniat untuk membunuhmu, dasar pembuat boneka tidak berguna. Aku hanya ingin mengambil burung rakitku.” kata Annisete tenang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Burungmu? Jelas-jelas Yukyu adalah miliku sejak kecil” sela Appril galak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Apa kau bilang?Dia selalu menemaniku setiap saat tau! Walaupun kadang-kadang ia lama tidak kembali” tukas Annisete tajam. Appril jadi teringat kalau Yukyu sering tidak kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">‘Apa mungkin selama Yukyu pergi meninggalkanku ia terbang kemblali ke Annisete?’ pikir Appril dalam hati sambil melihat keakraban Annisete bersama Yukyu-nya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Mung..kin.. Itu milik kita berdua.. Selama Ia tidak bersamaku mungkin ia bersamamu. Begitu juga sebaliknya” jelas Appril tidak yakin. Annisete terdiam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Cih! Aku tidak sudi Yukyu ku ini menjadi milik berdua denganmu.” hina Annisete dengan matanya yangb biru tajam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“He..?” Appril baru pertamakalinya ia bertemu cewek angkuh seperti Anisete tetapi nampaknya Annisete tidak peduli ia membalikan badannya hendak untuk pergi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Hei..tunggu.” cegat Appril memluk Yukyunya walaupun Appril lelaki, namun tinggi Annisete agak jauh lebih tinggi dari Appril. “Apa kau tau tentang..kita akan mele..dak..?” tanya Appril ragu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ya..Aku tau sejak lama. Tapi tadi aku mendengarnya lagi saat menguping pembicaraanmu” jawab Annisete</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Lalu.. Kenapa kau tidak mebunuhku sekarang? Dengan keadaanku yang seperti ini yang tidak tau apa-apa kurasa akan mudah bagimu untuk membunuhku” tanya Appril lagi. Jantungnya berdegup keras takut kalu Annisete benar-benar akan membunuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aku inig berpikir terlebih dahulu. Apakah satu nyawaku ini berarti jika aku hidup tetapi jutaan nyawa melayang karena aku salah pilih” ujar Annisete tenang. Appril benar-benear tergugah dengan omongan Annisete tadi. Appril terdiam melihat bayangan Annisete yang makin lama menghilang oleh gelapnya malam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>            </span>Appril masih duduk ditaman sambil ditemani Yukyu yang tertidur dipundaknya. Suara ribut terdengar dari halaman depan dan dari dalam rumah. Suara benda pecah dan teriakan wanita. Appril langsung berlari menerobos pintu belakang. Seisi rumah gelap gulita tidak terlihat apa-apa. Appril mendengar deru napas berat dibelakangnya ia buru-buru berlari namun suara napas itu makin banyak dan seperti ingin menikamnya dari belakang. Appril memcahkan vas bunga yang ada disampingnya membuat persembunyiannya ketahuan. Suara napas itu mendekat kearahnya. Terlihat 2 pria besar dengan badan yang berkali lipat lebih besar diobandingkan dirinya membawa senjata sejenis pedang panjang yang bergerigi diujngnya. Appril nampak tidak asing dengan sosok tersebut, sosok yang pernah ia lihat saat ditaman kota</span><span style="font-family:Symbol;color:black;"><span>¾</span></span><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">para buruh penambang emas. Mereka siap menikam Appril dengan pedangnya namun seseorang yang lebih besar dengan napas busuk muncul dibelakang mereka berdua</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Master tidak menyuruh kita untuk membunuhnya..Bawa dia!” serunya dengan nada yang berat. Para buruh penambang emas mengangkat badan Appril dengan entengnya namun Bouras yang tiba-tiba datang dan meninjunya membuat mereka melmpar badan Appril kelantai. Appril merangkak menjauh</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tidak ada yang boleh menyentuh Appril selain diriku! Apalagi kalian tangan dan bernapas busuk!” mata Bouras nampak beda dari biasanya, matanya menunjukan kebencian mendalam dengan cahaya bulan menyinari matanya yang tajam.Ke 2 Buruh itu menarik pedang panjangnya terlihat sepertu duo malaikat maut yang hendak mencabut nyawa manusia. Bouras tidak mau kalah ia mengeluarkan mata pedang yang panjang dari kedua telapak tangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kalian tidak akan selamat kalu aku sudah mengeluarkan ini” ancam Bouras. Kedua buruh itu nampaknya tidak gentar mereka meyerang Bouras dari dua arah yang berlawanan saat mereka mendekat Bouras meloncat tinggi seperti melayang diatas kepala mereka, lalu dengan gerakan seperti bulan sabit ia menebas kepala buruh tambang emas tersebut. Appril bergidik melihatnya. Namun lawan Bouras tidak sampai disitu saja, buruh tambang emas yang lebih besar menantinya. Kepala buruh itu seperti gentong arak yang mau pecah, matanya bulat besar dengan bola matanya yang memrah, air liur keluar dari mulutnya seperti napsu untuk membunuh Bouras. Ia mengeluarkan gerigi roda yang sudah ditajamkan disetiap sisinya. Bouras nampak seperti sudah biasa melihat hal itu tetapi tidak bagi April. Ia menunduk ketakutan dicelah bawah tangga yang berdebu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Rasakan ini!” buruh itu menggelindingkan gigi roda perlahan tapi pasti gigi roda melesat dengan cepat kearah Bouras. Bouras melompat mengitari gigi roda yang berputar itu, hanya tinggal beberapa inchi saja badan Bouras akan tertusuk oleh sisi-sisi gigi roda yang tajam. Gigi roda tersebut menabrak dinding rumah Benthill dan membuat lobang besar. Sekarang giliran Bouras untuk menyerang, ia membungkukan badannya sambil berlari mendekati buruh tersebut dan menyudutkannya ketembok dan mendekatkan kedua mata pedang Bouras ke leher buruh tersebut</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Sekarang, katakan… Siapa yang menyuruhmu untuk dating kesini?” deru napas Bouras tidak beraturan karena menahan luapan emosinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span> </span>“Aku tidak akan mengatakannya padamu pria berbdan besar..” katanya lantang. Bouras makin mengancamnya dengan pedang di tapak tangannya. Ia menggores sedikit leher buruh itu dengan pelan-pelan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Sakit bukan? Itu yang akan kau dapatkan jika kau tidak menjawb pertanyaanku!” ancam Bouras dan nampaknya buruh emas itu ketakutannya. Badannya gemetar dan keringat dingin keluar dari badannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aku tidak akan menyebutkan nnamanya” mata buruh itu tiba-tiba kembali berkilat, tatapannya tajam dan penuh kemenangan. “Kau bodoh” tiba-tiba saja gigi roda yang semula sudah tidak ada muncul kembali dari reruntuhan tembok yang tadi ditabaraknya menuju kearah Bouras yang sedang menikam buruh emas tersebut. Bouras masih saja memojokan buruh itu padahal gigi roda itu tidak akan lama lagi bisa menembus tubuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Katakan!” Bouras menekan pedangnya dileher buruh itu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tidak” jawab buruh itu sinis Bouras tidak punya banyak waktu karena gigi roda itu makin mendekat dengan kecepatan tinggi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Baiklah” Bouras tepat pada waktunya ia menebas leher buruh itu sebelum akhirnya gigi roda itu menusuk majikannya sendiri dn Bouras berhasil menghindar. Bouras menghampiri Appril yang dari tadi meringkuk ketakutan seumur hidupnya ia tidak peranh melihat kejadian seperti ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Appril” Bouras nampak tidak tega dengan keadaan Appril. Matanya terus melotot ketakutan, badannya menggigil dan mukanya penuh dengan keringat dingin. Namun Bpuras tidak perlu berlama-lama untuk mengasihani Appril karena suara rebut dari lantai dua ia harus meninggalkan Appril.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tunggu disini” katanya sebelum ia pergi. Bouras menaiki tangga cepat menuju kearah sumber suara.. Sebuah kamar dengan pintu terbuka Bouras melihat Benthill yang sedang<span>  </span>memegang seorang Maid yang sudah tidak bernyawa lagi sedangkan Annisete sedang berdiri berhadap-hadapan dengan 2 orang buruh emas dan satu orang lelaki yang menjadi jawaban ataa pertanyaan Bouras tadi- Glodi si ketua parlemen sedang berdiri dengan baju tanda kebesarannya berdiri bangga disinari cahaya yang satu-satunya menyinari runaga tersebut, cahaya buan purnama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ck..ck.. Ternyata ada anggota keluarga yang berhianat disini” ucap Glodi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Glodi.. Mau apa kau kesini?” tanya Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tentu saja untuk mengambil para Lyddite ini..mereka berguna bagi negara” uajrnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tapi bukan seperti ini carnya kau mengambilnya” tambah Bouras kesal ia nampak benar-benar tidak suka denga Glodi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Benthill tidak akan memberikan lydditenya tanpa dipaksa! Dan inilah hasil dari keangkuhannya” kata Glodi dengan senyum licik merekah diwajahnya yang tirus</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Glodi, kau..”Bouras nampak sudah kehabisan kata-kata.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Akan kubunuh kau, Glodi.” sela Annisete tajam “Kau membunuh orang yang berharga bagiku!” Annisete ingin menerkam Glodi dengan apinnya namun Glodi dijaga oleh burh emas yang badannya kekar-kekar. Namun Annisete dapat mengalahkan mereka dengan mudah dengan apinya yang besar dan membuat buruh emas itu menjadi abu saking kuatnya api Annisete. Ia mendekat kearah Glodi perlahan dengan kobaran apinya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kau emnginginkan ku?” Annisete menatapnya tajam </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tenntu saja” ujar Glodi yakin</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“June Annisete!” teriak Benthill dari belakangnya “Jangan” larangnya keras. Annisete nampak tidak peduli</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Dia tidak berguna bagiku” ujar Annisete memberikan alasan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ya, aku tau. Dia memang tidak berguna bagi kita yang ada disini. Tetapi dia masih berguna untuk mereka yang ada diluarsana..” tambah Benthill. Seisi ruangan itu terdiam, hanya terdengar suara sirine mobil polisi yang dari tadi berpatroli dan kendaraan besar untuk perang. Annisete memadamkan apinya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bagus.” kata Glodi.Lalu keadaan kembali hening dan tiba-tiba 5 orang buruh emas kembali muncul dari langit-langit ruangan dengan senjata tajam dan besar dipunggung mereka. Annisete kembali menyalakan apinya yang lebih besar</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“KAU! Penipu..” geramnya. Buruh itu mencengkram tangan Annisete. Buruh itu sengaja mengenakan baju anti api agar terhindar dari kobaran api Annisete. Annisete mencoba untuk mengeluarkan api yang lebih besar dari badannya namun gagal karena badannya begitu terasa sangat sakit. Tubuhnya seketika lemas dan api padam dari tubuhnya dia pasrah tangannya dicengkram oleh buruh emas itu. Bouras masih mecoba untuk melawan ke-3 buruh itu namun ia kalah.dengan jumlah dan kekuatan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bagaimana Benthill? Masih berniatkah kau untuk melawanku?” Glodi tertawa licik. Benthill meletakan Maid yang dari tadi ada dipelukannya dilantai dengan hati-hati, ia berdiri dan memejamkan matanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Mau apa kau Benthill?Kau sudah tua tidak mungkin bisa melakukannya lagi” ujar Glodi Benthill membuka matanya yang secara tiba-tiba menjadi putih dan hanya dengan menggerakan jarinya buruh emas yang ada dihadpan Bouras terlempar dan pingsan lalu buruh yang mencengkram Annisete terlontar begitu saja. Ia mendekati Glodi dengan tatapannya yang seperti tidak punya perasaan. Glodi terpojok.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Jadi..ini kekuatan memanipulasi manusia milikmu?Kau tidak akan bisa mengontrolku!” seru Glodi yakin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aku tidak berniat untuk memanipulasimu, mahluk kotor! Aku beniat untunk membunuhmu” sela Benthill membenarkasn</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Coba saja kalau kau bisa! Kau bahkan tidak akan bisa menyentuhku!” badan Glodi menjadi transparan dan makin lama ia tidak terlihat. Benthill nampak tenang mengahadapinya, ia memjamkan matanya untuk memusatkan pikiran. Namun serangan tidak terlihat Glodi terus berlangsung. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bouras..kurasa sekaranglah saatnya untuk kau melakukan perintahku” ucap Benthill tenang masih memjamkan matanya. Tanpa banyak kata-kata Bouras menarik tangan Annisete.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ada apa ini?” Annisete bingung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Percayalah pada saya” ucap Bouras yakin. Ia membawa Annisete keluar ruangan, Glodi mengikutinya dari belakang namun tiba-tiba badannya tidak bergerak dan tubuhnya kembali terlihat. Benthill membuka matanya mendekati Glodi yang terdiam didepan pintu. Dia terpojok ditembok yang disamping mukanya ada sebuah tombol merah bulat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Apa-apan ini, Benthill..?” Glodi berusaha keras untuk menegok kearah Benthill.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ternyata kau lupa. Aku dapat memanipulasi manusia bukan hanya dengan kontak mata, namun dengan memikirkan orang tersebutpun aku dapa memanipulasinya” jelas Benthill tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Lalu.. mau apa kau sekarang? Mencoba untuk membunuhku? Kau yang bilang kan kalau aku masih berguna diluar sana?” ucapnya gemeteran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Nampaknya aku salah”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kenapa kau menghalangiku? Aku mengambil mereka untuk keperluan orang banyak kan?” Glodi menatapnya tajam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Mereka punya pilihan. Dan kau mengambil mereka bukan untuk keperluan orang banyak, tapi untuk kekuasaan yang kau idam-idamkan” kata Benthill</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Sudah takdir mereka untuk mati!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Takdir mereka adalah untuk memilih” sela Benthill </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kau terlalu baik untuk mereka Bethill padalah kau tau akhirnya akan menjadi apa” balas Glodi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Sudah tidak ada waktu bagi kita untuk mengobrol lebih lama lagi.” Kata Benthill</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Mau apa kau?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aku tidak akan membiarkna orang seperti kau hidup lebih lama lagi disini. Orang yang hidup diatas penderitaan orang lain”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kau tidak bisa membunuhku. Kalau kau membunuhku, pasti parlemen akan menghukummu dengan hukuman yang paling berat dan kau akan menyesal telah membunuhku” ancaman Glodi nampaknya tidak kuat bagi Benthill</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aku tidak bilang kalu kau akan mati sendirian. Aku akan membuat tempat ini hancur tanpa sisa” jelas Benthill</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Apa maksudmu? Kau tidak punya kekuatan untuk membuat tempat ini seperti yang kau bilang tadi” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Aku memang tidak punya, tapi tombol yang ada disampingmu punya itu” kata Benthill seperti sudah biasa melakukan ini<span>    </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>            </span>Bouras menggendong Appril dipunggungnya karena Appril masih terlalu shock untuk bisa jalan. Ia mebawa Annisete dan Appril kesebuah danau tempat biasa Appril unutk memancing. Tempat pertemuan pertama Annisete dan Appril tadi siang. Yukyu mengikuti mereka dari belakang. Bouras melangkah cepat dan hanya membuat Annisete berlari karena langkah Bouras sangat besar sesuai dengan tubuhnya. Bouras berhenti ditepi danau dan duduk sambil menurunkan Appril yang keadanya mulai stabil</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Jadi, Bouras.. maukah kau menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi tadi?” pinta Appril dengan nada suara yang masih takut</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Glodi adalah ketua parlemen. Ia sangat terobsesi oleh kekuasaan dan uang. Ia orang yang harus mendapatkan sesuatu yang diinginkannya bagaimanapun caranya walaupun ia harus mengorbankan nyawa orang.” Jelas Bouras perlahan-perlahan “Dan Benthill tau benar dengan sikap Glodi yang itu. Saat Glodi bilang gunakan kalian untuk melawan negri Barat, Benthill menyadari kalau ada niat dibalik itu semua. Dia ingin menggunakan kalian untuk mencari kekuasaan dan harta” tambah Bouras lagi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Lalu apa yang dilakukan ayah tadi? Kenapa dia tidak langsung membunuh Glodi tadi? Dia bisa melakukannya kalu ia mau.” Tanya Annisete dengan kepanikan muncul dari wajahnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tidak.akan membahayakan bagi kita untuk bersamanya. Wajah Benthill sudah dikenali oleh seluruh penjuru negri dan akan membahayakan kita semua. Kita bisa tertangkap” jelasnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Memang kita mau kemana, Bouras?” tanya Appril takut kalau jawaban Bouras akan sesuai dengan pikirannya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kita akan pergi. Pergi ketempat yang jauh dari sini dan negri Barat” kata Bouras setengah-setengah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tunggu dulu. Lalu ayah akan melakukan apa?” Annisete belum selesai dengan pertanyannya. Tetapi pertanyaan Annisete terjawab dengan suara ledakan keras dari arah rumahnya yang tiba-tiba terbakar. Annisete melihat rumahnya terbakar habis dari balik hutan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kita tidak ada waktu untuk berdiam diri disini lebih lama lagi. Polisi akan segera datang dan akan mencari kita, ayo cepat!” ujar Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kau gila! Aku tidak akan meninggalkan ayahku dan Maid sendirian terbakar habis disana!” Annisete mencoba untuk melarikan diri. Bouras dengan sigap menarik tangan Annisete keras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ayahmu mengingnkan kau untuk menjauh darisini! Dia berbuat seperti itu untuk menyelamatkanmu. Kalau kau kesana, artinya perjuangan ayahmu sia-sia!” bentak Bouras. Annisete terdiam, kalau dipikir omongan Bouras ada benarnya juga. Ia mengikuti Bouras dari belakang. Sekali-kali Appril meliriknya diam-diam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">‘Hebat juga Annisete.. Walaupun dia tau ayahnya meninggal, tetapi dia sama sekali menangis..’ pikir Appril.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>            </span>Bouras mengajak mereka ke rumahnya disana dia mentup semua jendela dan mengunci pintu rapat-rapat. Mematikan lampu dan hanya menyalakan sebatng lilin di meja makan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kita harus pergi secepatnya” ujar Bouras membuka topic</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kemana? Kenapa kita harus pergi?” tanya Appril lagi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Appril..lyddite yang ada didalam diri kalian adalah kekutan yang dapat menghancurkan setengah dari bumi. Dan kalian adalah ancaman terbesar bagi negri Barat. Tetapi Glodi menyadari potensi kalian. Ia ingin menguasai negeri barat, tengah selatan dan utara. Singkatnya, ia ingin menguasai dunia dengan kekuatan yang dimiliki kalian” tambah Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tapi.. Dengan apa Glodi akan memanfaatkan kami?” tanya Appril</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Perlu kau ketahui Appril. Mungkin orang biasa seperti aku tidak akan pernah tahan dengan daya ledakan lyddite. Kami akan musnah kalau ternanya. Tetapi kalian..Sampai kapanpun kalian akan tetap bertahan dan tidak akan mati hanya karena Lyddite ataupun ledakannya” jelas Bouras dengan muka serius. Appril tertegun mendengarnya, ia tidak percaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tetapi.. Kami hanya bisa sekali meledak ‘kan?” tanya Appril lagi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ya..Kalian hanya bisa sekali meledak. Tetapi kalau kau dapat mengontrol kekuatan lyddite dengan baik..kau bisa berkali-kali meledak walupun daya ledakannya lebih sedikt daripada yang sekali itu tetapi dampaknya sama buruknya” jawab Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tetapi Bouras.. Apa maksudnya dengan perkataan Benthill kalau salah satu dari aku dan Annisete mati maka kami tidak akan meledak?” Appril kembali bertanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Lyddite adalah sebuah cairan yang aktif bila terdapat lyddite yang lain. Untu lebih jelasnya, kalian ini seperti lampu dan saklar. Kalian ini saling mengaktifkan lyddite yang ada di dalam diri kalian. Lampu tidak akan myala kalau tidak ada saklar dan saklar tidak akan berfungsi kalau tidak ada lampu. Begitulah jelasnya. Sama seperti kalian.. Kalau salah satu diantara kalian ada yang mati maka lyddite kalian tidak berfungsi” ucap Benthill. Appril kembali terdiam tidak percaya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Perlu kalian ketahui, yang berhak membunuh kalian adalah kalian berdua sendiri. Karena kalau sampai orang lain dapat membunuh kalian.. Maka sama juga kalian meledakan diri dengan percuma” tambah Bouras lagi yang malah menambah pusing kepala Appril.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Lalu apa maksud dengan ‘pergi’ yang kau katakana tadi?” Annisete membuka mulut setelah ia sekian lama hanya diam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Benthill menyuruh ku untuk melakukan tugas terakhirku. Yaiutu membawa kalian pergi jauh darisini. Aku juga tidak tau dengan pastinya kemana tempat jauh tersebut karena Benthill sama sekali tidak menyebutkan nama tempat itu. Dia hanya bilang ketempat yang jauh dan selama perjalanan kalian harus memikirkan jawaban dari tiga piliihan” ucap Bouras lagi mencoba untuk tenang mendengar sirine mobil berpatroli</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tiga?” Annisete dan Appril berbarengan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Pertama kalian akan menentukan diantara kalian yang mati dan lydite kalianpun tidak akan berfungsi namun hasilnya Negara timur tidak akan aman lagi karena pastinya negri barat akan membuat negri timur habis” kata Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kedua kalian akan oergi ke negri Barat dan meledakan diri kalian disana maka negri timur akan selamat namun negri Barat akan habis seketika”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">Annisete dan Appril terdiam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ketiga kalian akan menyerahkan diri kalian ke salah satu sisi yang kalian anggap benar dan meledakan diri kalian sedikit-sedikit untuk membantu mereka namun hasilnya dunia ini tidak akan pernah aman karena kalian” ucap Bouras lagi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bagaimana kalau kami memilih untu tidak meledakan diri kami?” sela Appril</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tidak akan bisa. Bagaimanapun juga.. sudah menjadi sebuah kepastian diri kalian meledak” ucap Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kalau aku memilih yang pertama” ucap annisete yakin</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Annisete..” Appril tidak percaya dengan perkataan Annisete</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ya.. Setelah aku membunuhmu aku akan hidup bahagia di negri Barat” katanmya tenang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bisa-bisanya kau bilang seperti itu! Padahal tadi kau bilang kalau kau msih memikirkan nasib rakyat negri Timur” bentak Appril</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Pikiranku berubah” kata Annisete santai. Appril terdiam di dalam dirinya, emosinya masih bergejolak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Dasar kau tidak punya perasaan! Dengan enaknya kau ingin membunuhku dan membiarkan rakyat dinegeri Timur terlantar begitu saja nantinya! Bahkan ayahmu meninggal saja kau tidak menangis!” kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Appril ia benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Meledak semuanya tertumpahkan ke Annisete.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Dasar sok tau! Aku memang tidak peduli dengan negri Timur begitu juga dengan warga timur sendiri. Saat mereka tau kalau kau adalah seorang Lyddite, maka kau tidak akan pernah diterima” jela Annisete tajam. Ia tidak peduli dengan ekspresi seperti apa yang dimunculkan oleh Appril, ia hanya peduli dengan dirinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Satu lagi, aku tidak menangis karena ayahku meninggal bukan karena aku tidak punya perasaan, tapi memang karena aku bukan anak kandungnya. Mengerti kau? Pembuat boneka yang sok tau dan bodoh!” tambah Annisete lagi. Appril terdiam malu karena omongannya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Sudahlah.. Bukan saatnya kalian untuk berantam di hari yang melelahkan ini. L:ebih baik kalian tidur dan mempersiapkan stamina kalian utuk besok.” Kata Bouras berusaha menenangkan ketegangan yag terjadi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Besok?” Appil bingung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Lebih cepat lebih baik dan kita tidak boleh menunda waktu lebih lama lagi. Besok kita harus meninggalkan kota ini dengan jalan kaki. Karena kalu kita memakai kendaraan, kita akan dicurigai karena sekarang kota dalam kondisi darurat pasti semua kendaraan yang melintas akan diperiksa” jelas Bouras panjang lebar. Ia menarik bangkunya dan menuju kamarnya lalu keluar membawa dua buah selimut</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Annisete..kau boleh tidur dikamarku” ucap Bouras tanpa mengucapkan kata-kata Annisete menuju kamar Bouras yang sedikit berantakan. Lilin Bouras matikan, Appril sudah siap tidur dikursinya sebelum ada satu pertanyaan lagi terlintas dibenaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Bouras.. Boleh aku bertanya lagi?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Seperti yang aku sudah bilang sudah-sudah.. Aku siap menampung semua pertanyaanmu, Appril” jawab Bouras ramah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Begini.. kenapa aku merasa kalu kau sangat tau sifat Glodi?” tanya Appril ragu-ragu takut kalu itu akan menyinggung perasaan Bouras</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kau benar April. Glodi adalah kakakku” Jawab Bouras tenang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ada yang ingin kau tanyakan lagi, Appril?” tanya Bouras memastikan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Tidak” bagi Appril jawaban Bouras tadi sudah lebih cukup baginya walaupun ia masih punya banyak pertanyaan dibenaknya namun seperti kata Bouras tadi. <em>Hari yang melelahkan..</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">*</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">Esoknya di pagi buta, Bouras sedang mengepak bawaan yang dibutuhkan untuk selama perjalanan. Ia menyiapakan satu buah tas yang sengat besar untuk dibawa olehnya yang berisi bahan-bahan makanan beserta tungku-tungkunya(yang menghabiskan semua bahan makanan yang ada dirumahnya)dan bebrapa alat masak yang bisa dibawa. Ia susun semuanya dengan rapih didalam satu tas besar berwarna hijau kemudaan. Dua tas berukuran sedang untuk dibawa oleh Annisete dan Appril berisi alat tidur mereka masing-masing walaupun ada sedikit deskriminasi antara Appril dengan Annisete karena Annisete hanya membawa alat tidur untuk dirinya sendiri sedangkan Appril membawa perlengkapan tidur dirinya dan Bouras.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>            </span>Annisete mengenakan jubah bertudung panjang yang dapat menutpi semua bagian tubuhnya karena saat itu ia hanya mengenakan gaun tidur panjang. Jubah itu berwarna coklat pudar yang ia dapatkan dari gudang penyimpanan barang-barang Bouras dan baunya apek. Bouras dan Appril juga mengenakan jubah hanya saja ada berbeda diantara mereka. Mungkin Annisetelah yang sangat pas mengenakan<span>  </span>jubah itu karena panjang jubah itu pas semata kakinya. Sedangkan Bouras jubah itu menggantung dibagian pinggangnya. Dan yang paling parah adalah Appril. Jubah itu kepanjangan hingga ia harus memotongnya dengan gunting dengan hasil berantakan namun pas semata kakinya. Tetapi Appril tidak lupa untuk mengenakan topi soldier nya dan kacamata besar menempel di topinya. Yukyupun tidak lupa untuk bertengger dipundak Appril (dan Appril mendapatkan tatapan sinis dari Annisete)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><span>            </span>Mereka memulai perjalan mereka melewati hutan yang menjadi perbatasan kota Vuyne. Di tengah perjalan Bouras bernyanyi. Sebuah nyanyian yang biasanya dinyanyikan oleh burh penambang emas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';color:black;">“</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:ItalicT;color:black;">Maju! Jalan! Kalau bisa kau berlari</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:ItalicT;color:black;">cepat berlari menerobos angin timur yang keras</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:ItalicT;color:black;">pekerjaan menumpuk bagaikan gunug yang tak bisa ditundukan hanya dengan bermimpi</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:ItalicT;color:black;"><span>      </span>Maju! Jalan! Kalau bisa kau berlari</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:ItalicT;color:black;"><span>      </span>Kita hanya menggunakan kaus sederhana</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:ItalicT;color:black;"><span>      </span>Memasuki gua-gua gelap tidak ada cahaya</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:ItalicT;color:black;">Disana namun ada harapan yang bersinar<span>                              </span>terang untuk kita agar tidak mengenakan kaus ini lagi</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:ItalicT;color:black;">Maju! Jalan! Kalu bisa kau berlari</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:ItalicT;color:black;">Angin berhembus ke timur membawa matahari</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:ItalicT;color:black;">menyingsing.</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:ItalicT;color:black;">Cepat berlari!</span></em><span style="font-family:ItalicT;color:black;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:ItalicT;color:black;">Sebelum angin tidak lagi berpihak kepadamu</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';color:black;">”</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:ItalicT;color:black;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">Nyanyian itu teru dilantunkan oleh Bouras dengan semangat terkadang Appril ikut berpatisipasi dalam nyanyian tersebut namun ia benar-benar kalah tenaga oleh Bouras. Dan terkadang pula Annisete melirik kearah mereka dengan sinis seakan-akan menyuruh mereka untuk diam. Namun Bouras dan Appril tidak peduli, mereka kembali bernyanyi nyanyian buruh itu dengan semangat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">Mereka memasuki hutan dipagi hari dan menyusuri lembah disiang harinya setelah mereka beristirahat sebentar untuk makan siang dengan sup kacang merah dengan roti buatan Bouras. Nampaknya Bouras benar-benar tidak mau membuang banyak waktu hanya untu beristirahat karena disore harinya mereka sudah keluar dari lembah, kembali masuk kedalam hutan kecil yang hanya ada pohon pinus dan menemukan bukit indah berwarna hijau dan beberapa bunga tumbuh disana. Ada papan sambutan didepan mereka. Menandakan sebuah kota baru. Bouras bangga dengan pekerjaannya. Ia berhasil membawa Annisete dan Appril pindah kekota baru hanya dengan satu hari. Dan nampaknya Annisete dan Appril sudah benar-benar merasa kelelahan yang luar biasa Karena langkah kai Bouras yang benar-benar lebar dan panjang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Selamat datang dikota baru, Appril</span><span style="font-family:Symbol;color:black;"><span>¾</span></span><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">Annisete” ucap Bouras bahagia dengan senyum lebar khasnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ya.. Selamat dating ke..” Annisete membaca papan yang ada didepannya sebntar </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Kota Casuarina?” Annisete tidak yakin karena matanya juga lelah ingin sekali terpejam. Begitu juga dengan Appril yang sudah hampir setengah tertidur sambil berdiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">“Ya, kota Casuarina.” Jawab Bouras. Tetapi tidak ada yang memperhatikan Bouras karena Appril dan Annisete sudah tertidur beralaskan hamparan rumput hijau disekeliling mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:'Times New Roman';color:black;">*</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/juneappril.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/juneappril.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juneappril.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juneappril.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juneappril.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juneappril.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juneappril.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juneappril.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juneappril.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juneappril.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juneappril.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juneappril.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juneappril.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juneappril.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juneappril.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juneappril.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juneappril.wordpress.com&amp;blog=1986270&amp;post=3&amp;subd=juneappril&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juneappril.wordpress.com/2007/10/25/appril/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d7651fbb649fa40ab8dd5d33471b0d59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juneappril</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://juneappril.wordpress.com/2007/10/25/hello-world/</link>
		<comments>http://juneappril.wordpress.com/2007/10/25/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 07:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>juneappril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juneappril.wordpress.com&amp;blog=1986270&amp;post=1&amp;subd=juneappril&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/juneappril.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/juneappril.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/juneappril.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/juneappril.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/juneappril.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/juneappril.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/juneappril.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/juneappril.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/juneappril.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/juneappril.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/juneappril.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/juneappril.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/juneappril.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/juneappril.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/juneappril.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/juneappril.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=juneappril.wordpress.com&amp;blog=1986270&amp;post=1&amp;subd=juneappril&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://juneappril.wordpress.com/2007/10/25/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d7651fbb649fa40ab8dd5d33471b0d59?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">juneappril</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
