Bouras menuntun jalan yang terus menuju kearah barat hal ini tidak disadari Appril tetapi tidak bagi Annisete. Ia sangat meyadari kemana arah Bouras menuntun mereka.
“Kenapa kau harus kearah barat?”tanya Annisete. Bouras tidak menjawab
“Barat..?” Appril baru menyadarinya.
“Kota Casuarina berada dibarat kota Vyune kan? Dan setelah keluar dari gerbang itu kau terus berjalan kearah barat. Apa kau punya rencana tertentu yang tidak kami ketahui?” Annisete menatap Bouras tajam
“Annisete! Bouras tidak mungkin ingin menjebak kita ke negri Barat!” Appril mengerti apa maksud omongan Annisete
“Kau yang tidak mengerti pembuat boneka, Bouras adalah wyvern buatan yang dibuat oleh Benthill, dia akan mematuhi perintah Benthill apapun yang terjadi. Sedangkan Benthill adalah orang yang menciptakan lyddite untuk menghancurkan negri Barat. Aku sudah bilang untuk tidak mempercayai siapapunn ‘kan?” kata Annisete tajam. Appril diam
“Aku memang tidak mengerti tentang wyvern buatan atau apapun tentang lyddite.. tapi, Bouras adalah orang yang paling kupercayai lebih dari siapapun.” ucap Appril. Angin berhembus kearahnya membuat senyuman di wajahnya terlihat jelas
“Ya? Dan dia berniat membawamu ke negri Barat.” Annisete tidak mau kalah
“Omonganmu itu seperti bukan dari suku As saja.. Suku As terkenal karena mereka bersikap sopan dan sangat menghormati orang lain kan?” Bouras membuka mulutnya.
“Kau tidak tau apa-apa tentang sukuku” ucap Annisete kesal
“Begitu juga dengan mu. Kau tidak tau apa-apa tentangku. Aku bukan wyvern buatan Benthill…Tetapi aku wyvern buatan dari klan yang paling ditakuti dimanapun..” kata Bouras
“Apa..? Var…” Annisete nampak terkejut
“Annisete! Jangan sebut nama itu disini… bahaya” cegah Bouras langsung. Annisete menutup mulutnya dengan muka terkejut.
‘Tidak mungkin.. Benthill selalu bilang kalau Bouras adalah wyvern buatannya..’ Annisete berpikir keras.
“Sudah-sudah… lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita ‘kan?”Appril mencairkan suasana. Di bawah kakinya ia melihat sepasang dadu yang tidak sengaja berada di bawah kakinya. Ia mengambil dua buah dadu tersebut.
“Hei-hei..kalian mau tau tidak? Keberuntungan sesorang bisa dilihat dari lemparan dadu, lho..” ucap Appril sambil memperlihatkan dua buah mata dadu.
‘Hei.. keberuntungan sesorang bisa dilihat dari mata dadu, lho.’ sesaat Bouras teringat akan masa lalunya bersama seorang lelaki berbadan tegap. Saat itu mereka sedang duduk di dalam kedai minuman. Bouras langsung menyingkirkan pikirannya.
“Aku pasti akan mendapatkan sepasang 6 mata dadu!” ucap Appril yakin, ia melemparkan mata dadu itu saat ia tangkap kembali yang keluar hanyalah sepasang angka satu. Appril kecewa, tetapi perasaan kecewanya tidak terlalu lama karena tanah yang ia injak, berguncang hebat lalu tanah itu mengeluarkan balok-balok dari dalam tanah. Balok itu tersusun menjadi seperti sebuah permainan yang tidak asing lagi bagi Appril, Annisete maupun Bouras.
“Ini.seperti…” Appril tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Appril memang tidak perlu melanjutkan kata-katanya karena sudah dilanjutkan oleh sorang dibelakangnya. Seorang pria yang tidak jelas datangnya darimana, dengan wajah yang penuh dengan coretan mata dadu begitu juga dengan bajunya yang unik. Jubah panjang dengan hiasan mata dadu disekelilingnya. Penampilannya begitu unik membuatAppril tidak dapat nelepaskan pandangannya.
“Ya. Ini permainan ular tangga.” ujar lelaki itu
“Siapa kau?” Bouras maju kedepan seakan melindungi Appril dan Annisete.
“Ah.. Aku Fitie. Pemilik dari kota ini.” katanya memperkenalkan diri sambil membungkuk
“Kota? Tapi ini tidak terlihat seperti kota..” komentar Appril sambil melihat sekelilingnya. Hanya terlihat balok-balok yang tersusun rapih menyerupai permainan ular tangga.
“Memang. Kota ini adalah kota permainan, Mystifity. Dan bila kalian ingin membaca aturannya, silahkan.” Tifie hanya tinggal menentikan jarinya lalu muncul papan besar yang diukir rapi dengan aturan di dalamnya.
MYSTIFITY1. Bila mendapatkan sepasang angka 6 pemain diperbolehkan melempar kembali2. Disetiap kotak akan terdapat tantangan. Bisa teka-teki atau sebuah pertarungan (Setiap mahluk yang muncul adalah nyata)3. Pemain yang kalah yaitu pemain yang menyelesaikan permainan paling akhir akan mendapat hukuman dari pemain yang paling awal menyelesaikan permainan. Apapun permintaan si pemenang akan dikabulkan.4. Permainan tidak akan selesai jika masih ada pemain yang belum mencapai finish
“Apa-apaan ini? Kami tidak punya waktu untuk bermain seperti ini. Kami pergi” ucap Bouras sambil berlalu dan pergi. Namun Tifie menghalangi mereka dengan berada di deadpan Bouras dan mengeluarkan sepasang pedang yang berbentuk seperti bulan sabit.
“Ah.. kau belum baca peraturan yang terakhir, ya?” Tifie menjentikan tangannya lagi lalu muncul sebaris tulisan bertinta hitam dari papan ukiran tersebut.
6. Permainan dimulai saat mata dadu di lempar.
“Tapi kami tidak melempar..” kata Bouras yang segera menghentikan kata-katanya karena seingatnya tadi Appril melempar dadu itu keatas untuk menguji keberuntungannya.
“Ya kalian melemparnya.” ucap Tifie
“Pembuat boneka bodoh!” maki Annisete kesal. Appril tidak melawan, memang semuanya karena kebodohannya melempar dadu.
“Baiklah.. kalau begitu permainan bisa kita mulai sekarang?” Tifie tiba-tiba menghilang dengan mengeluarkan asap yang tebal. Tiba-tiba saja Bouras dan Annisete sudah berada di kotak ‘START’ sedangkan Appril berada dua kotak jauhnya dari Bouras dan Annisete
“Eh.. kenapa..?” Appril bingung karena ia sendiri yang beda.
“Tentu saja tadi karena kau mendapatkan sepasang mata dadu angka satu, bodoh!” kata Annisete gusar. Tiba-tiba saja sepasang mata dadu muncul di hadapan Bouras dan Appril.
“Permainan ini tidak akan menunggu pemain pertama sampai ia menyelesaikan tantangannya. Jadi cepat lempar dadu kalian masing-masing.Dadu akan muncul kembali saat kalian menyelesaikan tantangan kecuali kalau kalian mendapatkan sepasang angka enam, kalian tidak akkan mendapatkan tantangan apapun” terdengar suara Tifie entah dari mana karena ia tidak menunjukan dirinya.
“Baiklaahhh..” Bouras melempar dadu lalu muncul mata dadu lima dan tiga. Sedangkan Annisete sangat berutung karena mendapatkan sepasang mata dadu enam. Dia tiba-tiba menghilang dari samping Bouras dan sudah berada 12 kotak jauhnya.
“Apa..?” Appril tidak percaya dengan apa yang dilihatnya karena Annisete sudah berada jauh didepannya dan sedang melempar dadu lagi. Sedangkan Appril tidak dapat melangkah ke kotak selanjutnya. Lalu muncul sebuah boneka kelinci yang lima kali lipat besarnya dari Appril. Ia sangat terlihat lucu bagi Appril. Appril berlari menyambut pelukan kelinci putih tersebut namun saat mendekat ia dipukul sehingga Appril terlempar satu meter jauhnya. Appril mencoba lari ke kotak selanjutnya lagi, tetap tidak bisa.
“Kau mau mencoba kabur? Itu tidak akan bisa.. kau harus melawan boneka buatanku dulu! Lagipula kau tidak ingin teman-temanmu mendapatkan tantangan seperti ini ‘kan? Makanya, lawanlah!” suara Tifie menggema
“Jadi maksudmu aku harus melawan kelinci ini untuk melindungi teman-temanku begitu?” tanya Appril
“Ya.”
“Setelah aku melawan kelinci ini, Bouras dan Annisete tidak akan melawan kelinci ini?” tanya Appril lagi
“Ya…Ya..Ya!” jawab Fitie mulai gusar.
“Baiklah kalau begitu…Kelinci manis…” rintih Appril lalu sesaat kemudian mata kelinci itu yang tadinya berwarna biru menggemaskan berubah menjadi merah berapi-api. Badan kelinci itu berubah menjadi otot-otot besar menakutkan yang berusaha menerkam Appril. Telinga kelinci tersebut berubah seperti tanduk setan.
Appril berusaha menghindar dari semua serangan kelinci tersebut namun kecepatan lompatan kelinci itu benar-benar tidak biasa.
‘Kau tidak ingin teman-temanmu melawannya ‘kan?’ Appril teringat akan kata-kata Tifie. Ia harus melawan kelinci itu agar Bouras dan Annisete tidak mendapatkan kelinci jadi-jadian ini. Appril menyemburkan api namun dengan gampangnya kelinci itu mengehentikan api itu dengan kedua lengannya yang memanjang. Appril terkena tonjokannya dan rasa sakitnya begitu terasa. Tulang Appril bagaikan remuk hancur berantakan tetapi Appril harus berusaha lari lagi karena kelinci itu mengejarnya. Appril yang ditemani Yukyu benar-benar kualahan.
‘Bagaimanapun juga semuanya pasti ada kelemahannya!!!’ Appril mencoba berpikir. Dia mendapatkan sebuah ide. Ia mengambil sesuatu dari tas besarnya agak susah karena benda yang ia ambil adalah benda yang kecil dan suli diraih namun tajam. Appril hendak mengambil sebuah jarum.
“Bagus.” Appril mencoba berlari lagi. Kali ini ia berlari lebih cepat dari yang tadi dan muncul di belakang kelinci tersbut. Ia mengarahkan jarum kecil tersbut ke bagian ekor kelinci dan tersenyum puas. Tapi kelinci itu malah makin marah. Matanya berubah menjadi lebih ganas.
“Tidak mungkin!!” pekik Appril mencoba berlari lagi.
‘Tenang…Appril.. ia hanya sebuah boneka..’ Appril mencoba menangkan lagi. Kali ini ia mendapatkan ide lainnya. Ia teringat kalau Ruuna memiliki wyvern air dan mungkin saja Appril sudah menyerapnya. Appril berkonsentrasi untuk mengeluarkan air dari tangannya dalam jumlah besar dan terjadilah air bah besar yang cukup menenggelamkan kelinci tersebut. Lalu ia menyemburkan api barulah kelinci tersebut menghilang dan muncul sepasang mata dadu di hadapan Appril.
“Haa.. ini benar-benar gila.. berapa banyak lagi kotak yang harus kulalui?” Appril memelas. Ia melempar mata dadu dan muncul angka dua dan satu.
“Kenapa angka kecil?!” Appril sebal. Lalu angina cepat menerpanya secara tiba-tiba ia sudah berada di kotak yang lainnya.
Sedangkan itu Bouras sedang menghadapi seorang nenek tua berpakaian seadanya dengan muka yang sendu.
“Apa aku harus melawanmu..?” Bouras tidak enak
“Ya. Dalam teka-teki” jawab nenek itu
“Teka-teki? Eh… aku paling lemah dalam hal itu.” Ucap Bouras pelan
“Ada tiga pertanyaan dalam taka-teki ini.Kalau kau gagal dalam tiga kali kau mengulang dari garis start” jelas nenek itu lagi. Bouras makin bingung.
“Ok..e” kata Bouras setengah ragu.
“Seorang lelaki tertidur, 1 jam.. 2 jam.. 12 jam.. tapi ia tidak terbangun-bangun. Saat terbangun cahaya terang menyambutnya.” Nenek itu menatap Bouras misterius bersiap-siap meberikan pertanyaan.
‘Bagus.. teka-teki seperti ini pernah kudengar sebelumnya. Nenek ini benar-benar tidak kreatif.. tapi.. kalau tidak salah jawabannya adalah orang itu sudah mati.. ya.. dan pastinya pertanyaannya adalah..’
“Dan pertanyannya adalah..” nenek itu menarik napas. Bouras menunggu
“Pertanyaannya adalah..” Bouras mengulang perkataan nenek tersbut
“Siapa nama pria itu.”
“APA?!” Bouras tidak percaya. Ia menganga selebar-lebarnya. Padahal tadi dia sangat yakin kalau jawabannya adalah ‘mati’ karena ia sudah pernah mendengar teka-teki seperti ini sebelumnya.
“Waktumu hanya 20 detik untuk menjawab pertanyaan. Dan sekaranng sudah berjalan lima detik.” nenek itu tidak bergeming dengan muka Bouras yang nampak sangat kaget mendengar pertanyaan. Bouras tidak punya waktu lagi, ia kehabisan waktu hanya dengan menganga.
“Waktumu habis. Pertanyaan kedua. Malam senja tidak pernah terbit matahari. Matahari bersinar saat malam.” nenek itu memberikan petunjuk
“Pertanyaannya..” lanjut nenek
“Jam berapa matahari akan bersinar di malam senja?” tanya nenek itu lagi
“MANA KU TAU?!!” pekik Bouras kesala karena dari tadi nenek itu selalu meberikan teka-teki yang tidak masuk akal. Waktu terus berjalan selama dua puluh detik
“Waktumu habis. Kau telah gagal dua kali. Kalau kau gagal dalam pertanyaan ketiga kau kembali ke garis start.” ucapnya kaku. Bouras menelan ludahnya.
“Pertanyaan ketiga.Manusia apa yang lebih rendah daripada seorang budak?” tanya nenek itu tanpa ekspresi sedikitpun dari wajahnya. Bouras tertegun mendengranya, di Casuarina, orang yang lebih rendah dari seorang budak adalah..
“Wyvern buatan.” jawab Bouras kaku. Ia benar-benar malas untu menjawab pertanyaan ketiga. Pertanyaan itu seperti memojokan dirinya. Namun nenek itu menghilang dan digantikan dengan dua buah mata dadu. Bouras melemparnya dan keluar angka lainnya.
Di lain pihak, Annisete selalu beruntung dengan keluarnya angka sepasang enam. Ia terus menerus mendapatkan sepasang angka enam sampai akhirnya ia mendapatkan angka 3 dan 2. Dalam kotak itu hanya muncul sebuah cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Bayangan dirinya makin lama memudar dan terlihat banyak bayangan serangga. Annisete mual melihatnya. Ia ingin memalingkan wajahnya dari cermin itu atau memejamkan matanya rapat-rapat. Namun tidak bisa. Badannya dikendalikan. Ia tidak berkutik dan melihat bayangan banyak serangga dan menghilang. Annisete bernapas lega karena binatang yang ia takuti di dunia ini menghilang dari pantulan cermin.. Lalu muncul bayangan lainnya. Yaitu sebuah kobaran api yang membakar sebuah pedesaan di depannya. Lalu terlihat seorang lelaki yang menggemgam lengan seorang yang mengeluarkan api dari sekujur tubuhnya. Annisete memegang lengannya, lalu berteriak sekencang-kencangnya. Annisete tidak dapat memejamkan matanya yang terus saja melotot melihat pantulan ceermin tersebut lalu yang terjadi selanjutnya adalah ledakan. Annisete menyemburkan api dari mulutnya. Api yang begitu besar sampai menghancurkan cermin itu lalu muncul sepasang dadu. Annisete kehabisan napas, ia buru-buru melempar dua buah mata dadu tersbut.
“Ohoho.. menarik.. masa lalumu sungguh mearik..” terdengar suara Tifie lagi, Annisete tidak memperdulikannya. Ia sudah terbawa angin cepat untuk melangkah sesuai angka yang tertera dalam mata dadunya yaitu sepasang angka 6.
Appril sedang berusaha keras melawan seorang ksatria berkuda dengan galah besi panjang. Pakaiannya benar-benar lengkap dari pelindung kepalanya sampai sepatu besinya. Kuda putih dengan garis kecoklatan yang ia tunggangi benar-benar cepat, Appril hampir selalu gagal menghindar dari kejaran kuda tersebut. Appril mencoba memikirkan bagaimana caranya sampai akhirnya ia mengeluarkan cahaya terang seperti wyvern Nea yang dapat mengeluarkan cahaya untuk megelabui ksatria perang tersbut lalu ia menerjang ksatria itu dengan api yang menyerupai pedang dan menebas bagian dada ksatria tersebut. Ksatria itu menghilang dan muncul sepasang dadu. Appril benar-benar kecapean, ia melempar dadu tersebut dan keluar angka selanjutnya. Angin cepat membawanya ke kotak selanjutnya lalu saat sampai ke kotak selanjutnya, ia melihat sebuah papan yang berukir sama dengan papan perturan sebelumnya,
KEMBALI KE AWAL
“APP..APA?!!!” Appril benar-benar tidak percaya, ia benar-benar sudah tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Ia sudah cukup jauh untuk kembali ke garis start. Namun angin cepat mebawanya kedaeran entah dimana. Appril tidak mengerti. Ia sedang bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik yang mengenakan tudung badan Appril juga seperti ia berumur 8 tahun. Saat itu sedang hujan, wanita itu menjadi tidak terlihat kalau sedang menangis karena rintikan hujan deras. Wanita itu meniggalkan Appril disebuah taman kota yang Appril kenali—taman kota Vuyne.Yukyu sedang tertidur sambil bertengger di bahunya. Wanita itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk Appril
“Ibu..” kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Apprill. Namun wanita itu tetap tidak bergeming. Ia menyentuh jidat Appril dengan telunjuknya, dan mengeluarkan cahaya.
“Jangan tinggalkan aku, IBU!!!!!” teriak Appril tapi telat. Sedetik kemudian angin cepat membawa Appril kembali ke papan yang bertuliskan ‘Kembali ke awal’ kini Appril mengerti maksud dari kata ‘Awal’. Papan itu menghilang dan muncul sepasang mata dadu.
“Oho.. sangat menarik.. menarik..” suara Fitie terdengar menggema.
“Fitie!” teriak Appril
“Menarik sekali..”
“Apa tadi itu nyata?” tanya Appril tanpa menggubris perkataan Fitie.
“Tentu saja. Kotak ini adalah masa lalu. Tadi itu adalah masa lalu mu yang sungguh menarik..” ucap Fitie. Appril melempar dadu lagi, lalu keluar sepasang angka 3.
“HEA!!” Bouras menebas badut yang ada dihadapannya, namun badut itu tidak hanya satu karena masih ada ratusan badut lainnya yang harus Bouras tebas dengan pedangnya. Bouras langsung menghabisi 5 badut sekaligus. Ia menarik napas lalu meloncat keatas dan menebas 3 kepala badut dengan sebelah tangan. Tetapi badut-badut itu tidak menunjukan tanda-tanda akan habis. Bouras berlari sambil melebarkan tangannya sehingga sambil berlari ia menebas badan badut-badut itu sampai habis. Sampai akhirnya ia menemukan badut yang mimik wajahnya beda dari yang lainnya. Badut itu sedang tersenyum lebar.
“Habislah kau!” Bouras menebas pedangnya kearah badut tersbut lalu semua badut-badut yang ada di sekelilingnya menghilang dan digantikan dengan mata dadu. Bouras kelelahan.
“Hah..” Appril mengeluh panjang karena tiba-tiba ia sudah berada di sebuah gurun pasir yang tidak terlihat apapun kecuali pasir. Ia terus berjalan namun jejaknya langsung terhapus oleh angin padang pasir yang kering.
“Yukyu.. Aku lelah.. dan haus.. Seharusnya dari awal aku tidak melempar dadu sialan itu! Keberuntungan apanya! Aku selalu saja sial” ucap Appril yang terus saja melanjutkan perjalanannya sampai akhirnya ia menemukan seorang nenek tua renta. Appril mendekati nenek tersbut.
“Mari kita bermain.” ucap nenek itu tiba-tiba saat Appril mendekat. Dengan pakian yang seadanya dan mukanya yang terlihat lelah, Appril benar-benar tidak tega untuk melawan nenek seperti itu.
“Bermain..?”
“Ya. Permainan yang mudah.. kita tinggal bermain menyambung kata. Aku menyebutkan kata benda dan dihuruf terakhirnya kau harus melanjutkan dengan kata-kata selanjutnya. Permainan akan selesai dalam waktu yang ditentukan. Dan kalau kau gagal dalam tiga kali, kau kembali ke garis start kau hanya punya 5 detik untuk berpikir kata selanjutnya.” ucap nenek itu.
“Baiklah..”
“Dadu”
“U..ular” sambung Appril
“Rumah”
“House!” sambung Appril dengan nada bodoh
“Tidak boleh memakai bahasa asing. Kau gagal sekali.” kata nenek itu. Appril memperhatikan jam pasir yang ada dihadapannya. Itu adalah batas waktu ia haruss bertahan melawan nenek ini.
“Buku.” kata nenek itu tiba-tiba
“Ular!” smbung Appril lagi
“Kau gagal. Tidak boleh mengulang kata yang sama”
“Kenapa tidak bilang dari awal?!” Appril sebal
“Tangga”
“Anjing”
“Gubuk”
“K..Kamar” ucap Appril langsung.
Annisete sudah selangkah lagi bila ia ingin menyelesaikan permainan. Tinggal 3 kotak lagi ia harus lalui. Dan dia harus mendapatkan dua buah mata dadu berangka dua dan satu. Harus tepat tidak boleh meleset sedikitpun. Karena bila ia kelebihan, maka angka kelebihan angka tersebut akan terakumulasi ke kotak yang ada dibelakangnya. Artinya, ia harus kembali mundur beberapa kotak. Annisete berpikir keras berkonsentrasi untuk mendapatkan angka yang diingankan. Annisete melempar dua buah dadu tersebut. Dadu yang pertama menunjukan angka dua tinggal dadu yang pertama yang menjadi harapan terskhir Annisete. Tetapi sayang, di saat-saat yang terakhir, dadu itu malah keluar angka 6. Annisete sebal karena ia harus mundur 2 kotak dibelakangnya. Kali ini Annisete menghadapi seorang lelaki botak, dengan badannya yang penuh dengan lukisan. Annisete tidak mengerti dari tatapan aneh laki-laki tersebut. Tapi lama kelamaan laki-laki itu berubah bentuk menjadi sosok yang paling Annisete tidak ingin lihat wajahnya. Seorang lelaki berambut biru ke abu-abuan, dengan sorotan matanya yang dingin, dan tanpa ekspresi. Annisete menonjok wajah pria itu sampai hancur berkeping-keping karena nyatanya wajah laki-laki itu terbuat dari kaca.
“Sudah kuduga.. masa lalu mu itu sangat-sangat menarik.. sama seperti masa lalu temanmu yang kecil.” kata Fitie yang kini muncul di hadapan Annisete dengan senyum palsunya.
“Terserahapa katamu. Aku bukan temannya.” ucap Annisete dingin
“Mana dadunya? Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan permainan ini.” kata Annisete yang tidak memperdulikan kalau ada Fitie di hadapannya.
“Kau tidak perlu melempar dadu lagi… Aku akan memenangkan mu.” ucap Fitie begitu saja. Annisete tidak berkomentar apa-apa lebih tepatnya ia tidak terlalu peduli karena artinya ia tidak perllu membuang-buag tenaga untuk mendapatkan angka yang sesuai.
“Gitar..” nenek itu masih melanjutkan kata-katanya.
“Ru..” hampir saja Apprl hendak mengeluarkan kata ‘Rumah’ lagi “Rubah..” Appril benar-benar kehabisan kata-kata. Jam pasir itu sebentar lagi akan habis.
“Harmonika”
“Air” ucap Appril untuk terakhir kalinya karena jam pasir itu sudah habis dan nenek itu menghilang dan digantikan sepasang dadu (lagi). “Aku benar-benar butuh air..” rintih Appril sambil melempar dadunya dan ia terkapar begitu saja karena kelelahan. Permainan ini benar-benar menguras otaknya dan tentu saja, persediaan air yang ada di tenggorokannya karena bermain seperti ini membuat tenggorokan Appril kering. Angin kencang membawa Appril ke sebuah kotak lainnya. Appril dapat melihat bayangan Bouras menghilang seiring angin kencang yang membawanya.
“Bouras..” Appril berusaha meraih Bouras namun sepertinya Bouras tidak menyadari kedatangannya dan Bouras menghilang sekejap. Sosok Bouras digantikan oleh cermin yang hanya memantulkan dirinya. Appril tidak bisa menggerakan badannya maupun memejamkan matanya. Badan Appril seperti dikendalikan oleh sesuatu.
“Cermin ini akan menampilkan sesuatu di dunia ini yang kau takuti.” terdengar suara Fitie. Appril diam, tenggorokannya sangat kering dan hal di dunia ini yang ia butuhkan adalah air. Appril melihat kedalam cermin kosong tersebut, tidak ada yang berubahm hanya pantulan dirinya. Appril juga tidak tau hal apa yang paling ia takuti di dunia ini karena ia sebenarnya tidak takut akan apapun. Tetapi cermin itu perlahan-lahan mulai berubah, ia menunjukan seorang lelaki bertubuh besar dengan topeng joker menyeramkan. Walaupun topeng itu menyeramkan, tapi itu tidak membuat Appril takut. Malah Appril bingung, kenapa pria itu yang muncul dalam cermin yang menunjukan hal yang paling di takuti. Kali ini pria itu tertawa nyaring, Appril dapat mendengar suaranya menggema di dalam telinga Appril. Pria itu menyebut nama dirinya.
‘Orang itu.. kenapa bisa tau namaku?!..’ Appril kaget karena ia sama sekali tidak tau siapa pria itu. Pria yang sedang menertawai sesuatu. Bayangan pria itu terus muncul di dalam cermin tetapi Appril tidak takut. Ia malah makin kesal di buat oleh suara tawanya yang melengking.
“Bagaimana Appril? Apa kau takut?” tanya Fitie tanpa menunjukan sosoknya.
“Aku tidak takut.” jawab Appril malas-malasan karena ini membuatnya malah bingung. Apa hubungan pria itu dengannya?
“Untuk apa aku takut dengannya?” balas Appril.
“Ah.. ini sungguh menarik. Karena sebenarnya dia adalah bagian dari masa lalumu yang akan menjadi bagian dari masa depanmu.” kata Fitie. Appril makin tidak mengerti. Cermin itu menghilang dan Appril harus melempar dadu lagi. Suara Fitie juga samar-samar menghilang.
Annisete sudah berada di garis finish. Dan tiba-tiba saja Bouras sudah berada disampingnya. Ia nampak sangat kelelahan.
“Ha… jadi kau sudah duluan, ya? Jadi Appril..” kata Bouras tersendat-sendat sambil menarik napas panjang lalu duduk di samping Annisete.
“Ya.. dia akan mematuhi segala perintahku.” ucap Annisete
Di lain pihak, Appril sedang berusaha mati-matian melawan seorang algojo yang memgang pedang besar yang cukup untuk mencincang-cincang badannya menjadi beberapa bagian. Appril berusaha lari kesana kemari. Annisete dan Bouras memperhatikannya dari jauh. Lalu ia mencoba mendekati algojo itu dengan melindungi dirinya dengan perisai api yang ia buat dengan susah payah. Kemudian Appril menyerangnya dengan semburan air dan meniupnya dengan angin dari mulutnya sehingga ia beku. Sama seperti Ruuna. Appril dapat mengkopi wyvern Ruuna dengan sempurna
‘Ah.. dia…’ Annisete benar-benar terkejut dengan apa yang diperbuat Appril.
Algojo itu menghilang dan Appril melempar dadunya lagi. Ia tidak pernah beruntung sebelum-belumnya. Sekarang pun ia tidak mengharapkan sepasang angka 6 karena yang ia butuhkan adalah mata dadu berjumlah 5 untuk mencapai finish. Appril melempar dadu dengan payah, tidak sengaja ia asal melemparnya. Tapi untungnya yang keluar adalah mat dadu angka 3 dan 2. Kali ini Appril benar-benar beruntung. Ia menganggap Bouras dan Annisete belum datang, namun perkiraannya salah, karena setelah garis finish, sudah ada Bouras dan Annisete yang menunggunya bosan.
Appril melihat wajah mereka satu persatu berharap yang lebih dulu sampai di garis finish terlebih dahulu di antara mereke berdua adalah Bouras. Karena kalau sampai Annisete yang menjadi juara pertama bisa gawat nyawa Appril.
“Baiklah.. baiklah.. kalian sudah menyelesaikan permainan ini dengan cara yang menarik..” Tifie muncul di hadapan mereka dengan baju dadunya yang berlebihan.
“Kau.. sebagai juara pertama. Kau berhak memberikan hukuman apa saja kepada si juara terakhir ini.” ujar Tifie ke Annisete.
“APAA? Jadi Annisete yang menang?” Appril kaget sekaligus tidak terima.
“Bouras? Kenapa kau membiarkan orang semacam dia yang menang?!” Appril kesal
“Aku yang membiarkan dia menang, Malah aku sengaja membuatnya menang.” ucap Fitie tanpa memperdulikaan Appril yang menganga. “Begini-gini aku tau semua tentang kalian. Oho oho oho” katanya dengan nada menyebalkan. Appril menggeram sebal.
“Jadi apa hukuman mu untuk mahluk ini?” tanya Fitie bersemangat menantikan jawaban Annisete. Appril sebal saat Fitie menyebutkan kata ‘Makhluk’ sambil melirik jahil kearahnya.
“Apa saja akan kau kabulkan?” tanya Annisete dengan nada aneh di dalamnya.
“Ya” jawab Fitie
“Termasuk kematian?” tanya Annisete lagi. Appril makin cemas pemikiran Annisete ingin membunuhnya memang telah terbukti sejak dulu sejak pertama kali mereka bertemu, Annisete sudah berusaha untuk membunuhnya.
“Ya.” jawab Fitie yakin.
“Baiklah. Aku mau..” Annisete menghentikan kata-katanya.
‘Mati..Mati..Dia ingin mencabut nyawaku dan mengoleksi organ tubuhku untuk di jadikan pajangan di rumahnya yang seperti istana..Oh.. Tidak..aku akan mati sekarang..’ Appril benar-benar berpikiran buruk, ia meraih tangan Bouras dan berlutut di hadapan Bouras.
“Maafkan aku bila aku sering punya salah, Bouras… aku selalu menyusahkan mu…” Appril tersedu-sedu. Annisete menatapnya aneh belum sempat ia menyebutkan hukuman yang cocok untuk Appril, Appril sudah menangis tersedu-sedu meminta ampun kepada Bouras.
“Annisete… kumohon jangan bunuh Appril sekarang… Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Appril..” Bouras ikut-ikutan tersedu suatu pemandangan yang menjijikan bagi Annisete.
“Aku ingin si pembuat boneka bodoh ini..” lagi-lagi Annisete membuat suasana makin menegangkan. Appril menagis makin deras.
“Bouras… Maafkan aku…” Appril meraung
“Menjadi budak ku dan menuruti semua kata-kataku selama ia masih bersamaku” ucap Annisete santai. Appril tersenyum lega, nyawanya masih selamat kali ini. Annisete masih mau Appril hidup.
“Baiklah. Hukumanmu di kabulkan.” Tifie menjentikan jari dan sesaat kemudia Bouras, Appril dan Annisete sudah berada dimana tadi mereka berada. Semua kotak-kotak itu menghilang begitu saja begitu juga dengan Tifie, semua seperti tidak terjadi apa-apa. Menghilang tanpa jejak.
“Meng..hilang..?” Appril tidak percaya dengan apa yang terjadi. Benar-benar sesuatu hal yang aneh.
“Ini benar-benar aneh” ucap Bouras.
“Begitu, ya! Siapa tau permainan tadi sebenarnya hanyalah ilusi kita belaka dan sekarang kita sedang bermimpi. Berarti hukuman itu juga..” Appril benar-benar senang bukan kepalang. Ia tidak akan menjadi budakAnnisete!
“Duduk” ucap Annisete mengarah ke Appril dan langsung saja Appril duduk tanpa di suruh. Badannya seperti di tarik sesuatu sampai akhirnya ia mau duduk mengikuti perintah Annisete.
“Berdiri” kata Annisete memberikan perintah dan badan Appril serasa di tarik agar ia berdiri. Appril tidak mengerti.
“Kurasa permainan itu memang benar-benar ada” kata Annisete lagi
“Bou.. Ras..” rintih Appril
“Jatuh” Anniste benar-benar memanfaatkan kesempatannya. Appril terjatuh tanpa sebab.
“Berguling” titah Annisete lagi, dan Appril berguling-guling seperti anjing.
“Sudahlah Annisete kau berlebihan…” Bouras mencoba menenangkan Annisete walaupun nampaknya percuma saja melarang Annisete.
“Sebenarnya aku sedikit bingung… kau bisa saja ‘kan membunuh Appril saat itu? Kau tinggal menghukum Appril dengan bilang kalau Appril mati saja..” Bouras tiba-tiba mengubah topik pembicaraannya. Annisete diam, tertunduk mengingat kejadan tadi saat bersama Fitie.
‘Kenapa kau membiarkan aku menang?’ tanya Annisete
‘Aku ini tau segalaya… permainan ini bisa juga menjadi tolak ukur sejauh mana kemurnian hati manusia.’ jawab Tifie
‘Apa maksudmu?’
‘Aku ini memiliki mata yang bisa menembus ruang dan waktu! Saat aku melihat matamu, maka akan tampak sangat jelas tentang masa lalu mu dan tentu saja masa depanmu. Semuanya berjalan sangat… menarik. Terutama perasaan ingin membunuhmu terhadap si pembuat boneka itu.—perasaan memburu yang sangat besar..’ jelas Fitie
‘Begitu menurutmu?’ nada bicara Annisete terdengar menantang.
‘Ya..Ya..Maka dari itu dengan memenangkan mu aku bisa menguji kemurnian hatimu.. Kau bisa memohon apapun yang kau mau untuk menghukum anak itu. Termasuk kematian. Itu adalah yang paling gampang.’ kata Fitie
Annisete makin diam, ia seakan-akan mengunci mulutnya rapat-rapat. Bouras tidak menanyakan hal yang sama lagi, kalau satu pertanyaan Annisete tidak mau menjawab, biasanya pertanyaan kedua akan mendapatkan tatapan sinis dari Annisete.
“Kau sendiri? Apa kau tidak punya kemurnian hati membawa kami ke negri Barat?” tanya Annisete sinis
“Aku? Bukankah itu mau mu? Bukankah kau bilang kalau kau ingin tinggal di negri Barat?” tanya Bouras
“Ya memang begitu. Tapi tidak sekarang, setelah aku berhasil membunuh Appril dengan tanganku sendiri… itu sebabnya aku menolak untuk menghukum mati si pembuat boneka tolol itu…” jawab Annisete panjang, Appril tidak menggubrisnya, kalau sekarang ia berniat membunuh Annisete, sama saja ia bunuh diri.
“Terserah apa katamu” ucap Appril
“Apa?”
“Tapi yang jelas aku tidak akan mengambil pilihan itu. Aku sama sekali tidak membencimu, lho!” kata Appril dengan senyum, Annisete sebal melihat senyuman itu, ia memalingkan wajahnya.
“Ya… terserah apa kataku. Kedudukanmu sebagai budak ku tidak akan pernah bisa berubah” kata Annisete. Appril tersenyum mendengarnya.
“Bailah… Apa kau mau kembali ke jalan awal? Kembali ke kota Vyune? Atau kita meneruskan perjalanan ke Barat? Karena sangat sulit menemukan ‘Tempat yang jauh’ di bumi inin.” kata Bouras
“Teruskan saja” kata Annisete yakin
‘Pasti ada pilihan lain ‘kan? Kita masih bisa bertahan hidup tanpa meledakan diri dan tanpa merugikan orang lain!’ Annisete teringat perkataaan Appril‘Aku sama sekali tidak membencimu, lho!’ lagi-lagi perkataaan Appril muncul di kepalanya. Annisete berusaha menghilangkan bayangan Appril di benaknya.“Ah… kira-kira kota aneh apa lagi, ya… yang ada di depan sana?” Appril penasaran. Mereka melanjutkan perjalanan dengan semangat, seperti hari pertama mereka berangkat untuk mencari tempat yang jauh yang entah dimana adanya. Mereka hanya menyusuri bukit-bukit kecil dan sudah menemukan kota baru lagi. Kota yang sepi seperti tidak berpenghuni. Semua jendela-jendela rumah di tutup, tidak ada suara sama sekali kecuali suara angin kering. Bouras, Appril, dan Annisete melangkah tidak yakin. “Apa kau yakin kita mau mengunjungi tempat seperti ini?” tanya Appril dengan takut“Kita butuh bahan makanan. Bahan makanan kita dan juga persediaan air minum makin menipis.” ujar Bouras memberikan alasan.“Aku tidak yakin kita akan mendapatkannya, disini.” kata Annisete“Ya!” Appril untuk pertama kalinya mensetujui Annisete“Tidak bisa. Kita harus mendapatkannya disini. Kota selanjutnya akan berjarak ratusan mil dan membutuhkan lima hari perjalanan.” kata Bouras dan melihat papan nama kota itu. “Kalau begitu kau tau sedikit tentang kota…Mm…Memoar?” Appril memiringkan tubuhnya agar bisa melihat papan nama kota yang sudah miring dan hampir jatuh“Sedikit. Entahlah…aku ingat sedikit. Aku hanya tau kalau kota ini di penuhi oleh…” Bouras seharusnya tidak menceritakan hal seperti ini kepada Appril. Ia langsung menghentikan kata-katanya.“Orang tanpa masa lalu” sambung Annisete“Tanpa… masa lalu?” ulang Appril ia merasa bahwa dirinyalah yang sedang di bicarakan Annisete.“Orang-orang tanpa masa lalu seperti dirimu” Annisete memperjelas dengan nada tajam. Appril tidak membalas omongan Annisete benar tentang dirinya. “Kenapa kota ini seperti tidak berpenghuni?” tanya Appril lagi“Entahlah… Aku hanya tau kalau kota ini dihuni oleh orang-orang tanpa masa lalu” jawab Bouras singkat. Bouras adalah orang yang pertama kali melewati gerbang lalu disusul dengan Annisete dan terakhir Appril. Appril melangkah dengan berat. Kota itu seperti mati, angin berhembus namun tidak ada satu orangpun yang keluar dari jendela dan pintu yang tertutup untuk menikmatinya. Rumah-rumah tua dengan atap yang rapuh dan kayu tua. Sejauh yang Appril lihat semuanya sama. Kota Memoar yang diceritakan Bouras adalah kota tanpa masa lalu mungkin memang salah, karena tanpa masa lalu sepertinya kota ini juga tanpa masa depan karena diliat dari fisik kota ini memang tidak meyakinkan. Angin berhembus lebih kencang dengan debu, Appril memejamkan matanya namun saat ia membuka matanya, Bouras sudah tidak berada disampingnya dan yang di lihatnnya hanya ada Annisete yang sedang memperhatikan sesuatu.Di depannya ia melihat orang-orang yang sedang berpesta. Diantara keriuhan orang-orang yang sedang berpesta Appril dapat melihat Bouras namun ia terlihat lebih kurus. Lalu wanita yang menangis dan memeluk Appril saat Appril di perlihatkan masa lalunya oleh Tifie, ia terlihat sangat tidak bahagia. Panggung yang meriah dengan balon-balon berterbangan, seseorang berdiri di podium sedang berpidato. “Ya… Beberapa hari lalu saya memikirkan cara untuk mengalahkan negri Barat musuh terbesar negri Timur. Kita tidak memiliki apa-apa kecuali mulut kita yang menganga besar saat melihat kehebatan senjata negri Barat. Tapi takdir telah merubah kita. Kini saya telah menemukan sesuatu yang patut di takuti oleh negri Barat” katanya berapi-api lalu diselingi oleh tepuk tangan yang meriah dan suara gelak tawa bahagia. Walaupun Appril sedang berada di dalam sebuah pesta, ia merasa kalau dia tidak pantas bahagia atas apa yang di temukan oleh lelaki yang berdiri di atas podium yang nampaknya sangat di hormati itu.“Lyddite!” ujar lelaki itu semangat. Kuping Appril serasa panas mendegarnya, jantungnya sakit. Bagaimana bisa laki-laki itu mengatakan seesuatu yang begitu menyakitkan untuk Appril dan membahayakan bagi dunia dengan sorotan mata bahagia? Appril tidak habis pikir, ia berlari menerjang para kerumunan oranng-orang yang antusias mendengarnya. Setiap orang-orang yang di terobos oleh Appril langsung menghilang begitu juga dengan Bouras yang terlihat kurus dan wanita yang Appril panggil dengan sebutan ‘Ibu’ saat itu. Appril tidak akan bisa melupakan tatapan penuh kasih sayang dari wanita itu. Appril menaiki panggung dan menerjang orang yang sedang berpidato itu, namun orang itu tidak sepeerti orang-orang lainnya. Ia nyata. Appril dapat merasakan tubuhnya bertabrakan dengan lelaki yang tingginya sama dengan Bouras. Appriil mengadahkan kepalanya, yang ia lihat sekarang adalah lelaki bertopeng Joker yang Appril lihat saat di cermin yang menunjukan sesuatu yang di takuti saat di kota Mystifity.“Kau” kata lelaki itu pelan. Yukyu yang ada di samping Appril gemetar takut.“Kau… nyata…?” Appril kaget. Tetapi pria itu menghilang dengan seiring dengan hembusan angin. Appril dapat melihat seorang gadis yang belum ia kenal sebelumnya. Pakaiannya sangat unik seperti pesulap bercampur badut. Ia mengenakan baju berok tutu dengan renda-renda di bawahnya
“Siapa kau?” pekik Appril setengah berteriak dan Annisete sudah siap menyerangnya dengan api.
“Aku Memori” jawab gadis itu dingin kedinginannya mungkin satu tingkat di atas Annisete. Matanya hitam pekat dan ia membawa jam pasir di dekapannya.
“Memo..Ri?” ulang Appril
“Akulah si Pemegang Masa Lalu. Dan tadi adalah sebagian dari masa lalumu” ucapnya misterius
“Masa lalu ku? Berarti orang yang berpidato tadi adalah… bagian dari masa laluku? Dia siapa?” tanya Appril menggebu-gebu
“Aku tidak bisa menjawabnya”
“Kenapa? Kau ‘kan pemegang masa lalu!” Appril gusar
“Ada syaratnya kalau kau ingin aku menunjukan masa lalumu” kata Memori sinis
“Syarat?” ulang Appril
“Ya, syaratnya mudah. Kaupun ku yakin bisa melakukannya”
“Apa?” Appril penasaran
“Masa depanmu. Kau harus menyerahkan masa depanmu. Karena aku hidup melalui masa depan yang di berikan manusia macam kau. Manusia yang tanpa masa lalu dan putus asa menghadapi masa depan yang akan datang” kata Memori dengan senyuman dingin. Appril diam tidak berbicara sama sekali.
“Apa kau bisa menghilangkan ingatan masa lalu?” tanya Annisete tiba-tiba membuka mulutnya. Memori tersenyum dingin lagi, tatapannya penuh dengan kelicikan.
“Tentu saja. Tetapi orang yang menjual masa lalunya tidak akan mendapatkan keuntungan apapun dan dia akan hidup dalam kebingungan” jelas Memori singkat.
“Aku tidak peduli dengan akibatnya. Aku mau ingatan masa laluku di ambil sekarang.” ucap Annisete yakin
“Annisete..” Appril takut mendengar Annisete berbicara seperti itu
“Baiklah… kalau itu maumu. Apa kau sudah siap sekarang? Karena prosesnya akan sedikit menyakitkan” kata Memori sudah bersiap-siap dengan jari telunjuknya yang sudah berada di dahi Annisete
“Hentikan.” Appril menghalau tangan Memori pelan. Tatapan mata Appril berbeda dari yang biasanya, Annisete dapat melihatnya mata yang sedikit berbeda namun terlihat bijaksana dan dewasa. Tatapan seorang lelaki. Itu yang terlintas dari pikiran Annisete
“Penawaran yang seperti itu kami tolak” ujar Appril yakin
“Diam kau pembuat boneka. Ini adalah negosiasi ku!” tukas Annisete. Appril melirik Annisete tajam, tatapan yang Annisete sebagai sorotan mata seorang lelaki.
“Apa kau tau seberapa pentingnya masa lalu? Aku sangat menginginkan masa lalu tetapi kau ingin membuangnya begitu saja. Jangan bodoh! Aku memang tidak tau seburuk apa masa lalumu dulu, tetapi setidaknya kau memiliki kisah yang bisa kau kenang.” Appril masih menatap Annisete dengan sorotan mata itu.
“Aku hanya tidak ingin kau sepertiku. Seperti yang Memori bilang, hidup dalam kebingungan.” lanjut Appril pendek, tatapannya berubah melunak.. Annisete tidak mengomentari apapun, ia mendengarkan kata-kata Appril tidak seperti biasanya.
“Aku juga. Aku tidak akan memberikan masa depanku hanya untuk mendapatkan masa laluku. Tidak apa aku hidup dalam kebingungan…” kata Appril yakin sambil membalas sorotan mata Memori.
“Yang terpenting adalah harapanku untuk hidup di masa depan” Appril tertawa kecil. Memori mengalah, ia membungkukan diri lalu memuar jam pasirnya,
“Ternyata pertemuan kita begitu singkat, ya?” ia menghilang begitu saja. Semuanya kembali terlihat seperti normal, kota yang sepi dengan jendela-jendela tertutup rapat. Appril dan Annisete dapat menemukan Bouras yang sedang mengambil beberpa barang untuk persediaan dalam perjalanan. Ia mendapatkannya dari seorang pria muda yang membuka pintu rumahnya dan memerikan Bouras makanan.
“Kenapa?” tanya Annisete tiba-tiba
“Kenapa apanya?” balas Appril
“Kenapa kau tidak menukarkan masa depanmu dengan masa lalumu? Bukankah masa depanmu akan menyakitkan? Kau akan meledak” ujar Annisete
“Kau ini bicara apa? Kan aku sudah bilang kalau aku ingin kita berteman seperti Bouras dan Nea!” jawab Appril polos
“Lalu kenapa kau tadi terdiam saat Memori menawarkan nya? Apa kau mempertimbangkannya?”
“Tentu saja tidak”
“Ha?” Annisete makin tidak mengerti dengan jalan pikiran Appril
“Aku hanya berpikir kalau baju yang dipakai Memori sangat tidak cocok” ujar Appril tertawa kecil.
“Cih. Begitu, ya?” Annisete terlalu berpikir macam-macam tentang Appril.
“Lagipula kalau melihat Bouras yang semangat mencari bahan makanan untuk kita, mengetahui kalau masih ada satu orang di dunia ini yang masih semangat untuk membantu masa depan kita… Aku jadi tidak sabar untuk melihat masa depan apa yang akan kujalani nanti” Appril berlari menyusul Bouras yang keberatan membawa barang.
“Aku ingat sekarang.” ucap Bouras tiba-tiba
“Apa?”
“Aku ingat. Ada seorang penghuni di kota ini”
“Penghuni?”
“Ya… bisa dibilang begitu. Namanya Memori, ia akan mendatangi orang-orang yang tidak memiliki masa lalu dan akan memunculkan sedikit tentang masa lalunya kemudian dia akan memberikan tawaarannya.” jelas Bouras
“Dengan memberikan masa depannya, ia akan mendapatkan masa lalunya. Begitukah?” Appril melanjutkan kata-kata Bouras yang belum selesai.
“Ya… begitulah sepertinya kau tau tentang itu, ya? Apa jangan-jangan selama tadi kau menghilang… kau bertemu dengan…”
“Ya, aku bertemu dengannya. Dan aku menolak penawarannya” lanjut Appril. Ia membantu Bouras dengan membawa kantong coklat besar yang berisi macam-macam makanan.
“Bagus, Appril” puji Bouras. Yukyu yang tadinya terbang hinggap di kepala Appril seakan-akan penasaran ingin mendengar lanjutan omongan Bouras.
“Karena masa lalu tetap saja masa lalu. Kau pernah melewatinya hanya saja kau tidak ingat apa itu.” kata Bouras mencoba menghibur “Kau hanya harus yakin kalau masa lalumu itu indah” lanjut Bouras
“Bouras, maukah kau berjanji untukku?” Appril menunjukan mata penuh harapnya bahkan Annisete tidak suka melihat tatapannya
“Apa?”
“Karena kuyakin kau tau semua masa laluku… maukah suatu saatnya nanti kau ceritakan padaku?” pinta Appril sambil menyunggingkan sennyumannya. Bouras tidak langsung menjawab, ia hanya membalas senyuman Appril tanpa berkata apa-apa.
“Itu artinya tidak ya?” tanya Annisete
“Bukan… itu artinya ‘Baiklah’” ralat Bouras sekarang ia berani untuk tersenyum dan membalas tatapan Appril. Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan bawaannya.
“Hei, budak” kata Annisete ditengah-tengah perjalanan.
“JANGAN PANGGIL SEMBARANGAN!” teriak Appril kesal
“Bawakan tasku”
“Apa?! Tapi bawaanmu kan hanya alat tidurmu saja?!”
“Aku tidak biasa membawa sesuatu yang berat. Cepat bawakan.atau kusuruh badanmu untuk melakukan hal yang aneh-aneh” ancam Annisete sinis.
Disela-sela pohon rindang, beberapa orang mengintip Appril, Annisete, dan Bouras dari jauh. Mereka mengendap-endap sambil memperhatikan gerak-gerik yang dilakukan Appril dan Annisete.
“Kau yakin itu adalah orangnya?” tanya seorang diantara mereka yang bermabut pendek.
“Jangan ragukan aku” jawab seorang lagi
“Apa harus sekarang?” tanya seseorang itu lagi. Dari mimik wajahnya yang samara-samar bisa terlihat kalau ia sangat semangat untuk berbuat sesuatu terhadap Appril, Annisete dan Bouras.
“Jangan sekarang. Masih ada orang besar itu. Bisa bahaya.” kata temannya bijak sambil menahan bahu temannya yang hendak pergi.
“Aku harap kau benar karena laki-laki itu tidak terlihat seperti itu” balas temannya lagi gusar
“Apa kau tau nama orang itu? Dialah yang namanya Bouras”
*